Home Lomba Blog KTF 2015 Bandung teh meni kece pisan

Bandung teh meni kece pisan

oleh

Halo Bandung! Kumaha damang?

Kali ini saya bersama teman dekat saya pergi berlibur ke Kotanya A’a Ridwan Kamil. Setelah sekian lama saya berkutat dengan laptop dan meja di kantor yang domisili Jakarta, akhirnya saya sempatin buat libur 3 hari kemarin buat melancong ke Bandung, dengan bekal informasi dari smartphone di tangan saya, tepat pukul 22.30 saya berangkat dari Jakarta meluncur ke Kota Bandung. Awalnya sudah niat buat berangkat pukul 20.00 via terminal Kalideres, tapi apadaya karena kemacetan Jakarta dan setibanya di Kalideres ternyata Bus ke arah Kota Bandung sudah habis. Beruntungnya di terminal saya bersama Ilham (teman dekat saya) bertemu dengan urang Bandung Asli yang sama-sama kehabisan Bus arah Kota Bandung. Si A’a teh ngajakin kami buat ke pool pemberhentian Bus di daerah Serpong, dengan menaiki si jago warna hijau (Angkot) saya berangkat dari terminal Kalideres ke kawasan Serpong, untuk perjalanan itu harga yang ditawarkan Rp. 7.000,- /orang dari terminal Kalideres ke kawasan Serpong ini.

Tiba di kawasan Serpong, ternyata tidak membuat perjalanan kami langsung berangkat ke Kota Bandung. Kami masih harus menunggu Bus ready untuk berangkat juga pelancong lainnya agar kondisi di dalam Bus terisi. Buat teman-teman yang berencana ke Bandung dari Jakarta, saya lebih saranin buat naik transportasi pribadi atau kereta, karena akan lebih efisien di waktu. Kebetulan liburan kemarin tiket kereta api arah Bandung dari Jakarta habis dan saya bersama Ilham harus rela naik Bus dari Jakarta. Lama perjalanan dari Jakarta ke Bandung waktu Agustus kemarin cukup menyita banyak waktu, sekitar 6 jam kami habiskan di perjalanan padahal menurut A’a yang saya temui di Kalideres, sebenarnya waktu yang dibutuhkan cukup 3 jam. 6 jam yang kami lewati disponsori oleh kemacetan Ibukota ūüėÄ

Tiba di Bandung kami langsung menuju penginapan di daerah Dago, sembari menunggu orderan sepeda motor yang kami sewa, kami keliling di daerah ini. Udara yang segar membuat kami menjadi lebih nyaman untuk jalan-jalan hingga waktu shubuh tiba dan kami lanjutkan untuk beribadah juga membeli sarapan di daerah ini.

Pukul 5 lebih sepeda motor tiba di penginapan dengan harga 115 termasuk biaya antar dan jemput motor. Motor sudah ready, dengan tenaga yang masih semangat, tebing keraton menjadi destinasi wisata pertama. Ilham sudah siap dengan motor yang disetirnya dan saya menyiapkan map di smartphone ini,  sekitar 30menit perjalanan dengan motor dari dago hingga tebing keraton dengan medan yang cukup berat dan tak tahu arah. Tiba di kawasan Tebing Keraton kami disambut dengan udara yang makin hits dan ternyata sudah banyak wisatawan yang tiba terlebih dahulu.

Untuk masuk ke kawasan ini, kita dipungut biaya sebesar Rp. 21.000,-/orang untuk kawasan dan Rp. 5.000,- untuk biaya parkir motor. Memasuki kawasan ini, kami disambut dengan pemandangan yang kontras. Background hijau yang diselimuti dengan balutan kabut putih juga betapa riuhnya kondisi di kawasan ini. Alam yang dulunya sedikit peminatnya, di era modern ini berubah menjadi lautan manusia yang berjubel diantara alam tersebut, tapi kami tidak sedih karena sedikitnya spot yang bisa di explore. Kami tetap berusaha mencari spot yang benar-benar luar biasa, serasa menonton tayangan alam dengan ukuran penglihatan lebih dari 32inch.

 

Tebing Keraton memiliki daya pikatnya tersendiri bagi wisatawan yang hadir dan di tempat ini terdapat spot yang makin hits namanya di dunia Instagram saat berkunjung ke lokasi wisata ini. Terdapat batu di luar pagar pembatas yang bagian bawahnya langsung disambut dengan jurang yang cukup untuk membuat siapa yang berdiri di atas batu tersebut akan bergetar, saya kebetulan sempat mencoba untuk duduk di spot tersebut dan dijadikan sebagai model dadakan oleh Ilham yang sejatinya anak hits Instagram.

 

Sekitar 45menit lamanya kami mengexplore kawasan Tebing Keraton ini, dihabiskan dengan memotret pemandangan yang benar-benar menakjubkan juga dengan udara yang masih sejuk dan fresh, meskipun disini sudah layaknya pasar dadakan karena kondisi wisatawan yang bertumpah ruah.

 

Dari kawasan Tebing Keraton saya bersama Ilham langsung berangkat ke arah Selatan menuju daerah Ciwidey. Ternyata perjalanan yang kami tempuh cukup panjang dan melelahkan untuk Ilham, karena Ilham full sebagai driver saya. Setibanya di kawasan Ciwidey, kami disambut dengan banyaknya mamang penjula buah Strawberry yang dijual dengan harga Rp. 15.000,-/mika.

 

Pada kawasan ini, kita tidak ke kawah putih yang notabenya tempat wisata wajib bagi pelancong ketika sedang pergi ke Bandung, melainkan kita pergi lebih tinggi lagi menuju kawasan Rancabali. Kawasan kebun teh yang mengelilingi jalanan sepanjang 3km dan untuk kawasan ini GRATIS. Kalian bisa menikmati segarnya udara walaupun matahari mulai terik, disini kami mencari spot pemberhentian untuk menjelajah kawasan kebun teh ini dan yang gak  lupa ditemani dengan si merah asam alias buah Strawberry. Disini kami beristirahat sejenak sembari melihat jalanan yang cukup lenggang di  bawah dengan santapan buah Strawberry yang merona.

 

Beristirahat di dalam kawasan kebun teh ini menjadikan salah satu tempat peristirahatan yang asyik, selain hijaunya teh dan segarnya untuk kesehatan mata ini, kami mencari spot dibawah pohon dan itu sangat luar biasa. Rasa lelah yang saya terima juga Ilham rasakan semakin sirna saat beristirahat di kawasan ini dan mata ini sungguh dimanjakan dengan suguhan yang luar biasa. Rancabali menyimpan pemandangan yang luarbiasa, saya dan Ilham menghabiskan perjalanan berkeliling Rancabali hingga 3km dan kembali lagi. Saat perjalana kembali, kami sempat berhenti di kawasan tanah lapang. Ternyata kawasan ini juga menghadirkan hiburan berupa aksi Balon Udara yang dihargai sekitar Rp. 200.000,-/orang dengan ketinggian sekitar 300meter, tapi sayangnya saya dan Ilham tidak berbekal lembaran uang yang cukup untuk mencoba wahana tersebut. Menurut warga sekitar ketika Ilham menanyakan wahana tersebut, ternyata wahana akan beraksi ketika ada wisatawan yang ingini menaiki Balon Udara tersebut.

 

Dirasa cukup untuk berkendara di kawasan ini, akhirnya kami pun beranjak turun menuju Kota Bandung ¬†dan alhasil kemacaten dengan indahnya suara klakson menyambut kami. Sepanjang perjalanan kami hanya berjalan sedikit demi sedikit dan akhirnya melihat tanda arah “Bandung Alternatif”. Hanya berbekal kemampuan bertanya kami memberanikan diri masuk jalur alternatif tersebut, bertanya kesana kemari ala mencari alamat palsu dan kami tiba di Bandung dalam kurun waktu 2 jam. Hari yang menyenagkan dan kami lanjutkan untuk berkeliling kawasan Kota Bandung, Braga, Paris Van Java juga Dago tempat Kami.

 

Hatur Nuhun Bandung!

Penulis

Hario Noviyanto

Twitter: @hahahario

Artikel yang mungkin kamu suka