Home Lomba Blog KTF 2014 Menantang Dan Memukau, Perjalanan Mengintip Surga Tersembunyi Sepanjang Jalan Lintas Bedugul – Seririt

Menantang Dan Memukau, Perjalanan Mengintip Surga Tersembunyi Sepanjang Jalan Lintas Bedugul – Seririt

oleh Mahansa Sinulingga

“Berwisata tidaklah selalu harus selalu ke tempat wisata yang sudah dikelola dengan baik, berbayar, dan ramai. Tengoklah sekeliling anda, selami sudut pedesaan serta kehidupan masyarakatnya, dan temukan surga yang tak terkira”

 

Waktu telah menunjukkan pukul 22.00 WITA, sedangkan kami masih tertahan di sebuah bengkel yang terpaksa kami ketok untuk memperbaiki sepeda motor yang tiba-tiba mogok. Sempat ragu apakah kami akan melanjutkan perjalanan yang masih sangat jauh, atau berbalik arah pulang ke Denpasar, mengingat posisi kami saat itu sangat tidak menguntungkan, di jalan sepi antara Mengwi menuju Baturiti, di mana sekeliling kami hanya ada lahan persawahan, sepi dan gelap.

Akhirnya dengan berbekal kenekatan, kami memutuskan untuk tetap melanjutkan perjalanan, menuju ke rumah seorang teman di Kecamatan Seririt, di ujung utara Bali. Sayang sekali rasanya harus melewatkan akhir minggu terakhir masa-masa PKL di Pulau Dewata ini kalau rencana ini tidak terlaksana, pikir kami.

Ternyata perjalanan tengah malam membelah pulau ini bukanlah hal yang mudah, selepas Kota Kecamatan Baturiti, jalan semakin berkelok dan menanjak. Belum lagi kabut yang sangat tebal membatasi jarak pandang kami. Saya sebagai pengendara terdepan hanya bisa melihat jalan dengan memperhatikan cat putih marka jalan. Udara pun sangat dingin menusuk, mungkin suhu terdingin yang pernah saya rasakan, yang terbiasa hidup di kota panas seperti Jakarta ini

“Berhenti dulu!” pinta salah satu teman saat kami sampai di depan Candi Kuning Danau Beratan. Ternyata salah satu teman kami sangat kedinginan. Kami pun berhenti, beristirahat sejenak, dan kemudian melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jas hujan untuk sedikit menghalau dingin yang menusuk kulit.

Jujur, saya tidak benar-benar hafal rute yang harus dilalui, teman saya hanya berpesan untuk mengambil jalan pintas melewati pedesaan di Pupuan selepas Danau Beratan untuk mempersingkat waktu, jadi tidak harus berputar melalui Kota Singaraja terlebih dahulu. Ditemani rasa cemas, setelah banyak tanjakan tajam, akhirnya belokan curam dengan petunjuk yang mengarah ke Seririt dapat kami temukan.

Seolah masuk ke dunia yang lain, itu yang saya rasakan begitu berbelok. Jalan raya Denpasar-Singaraja saja sudah sangat sepi menurut saya, dan ini bahkan jauh lebih sepi. Di awal perjalanan jarang sekali kami melewati rumah atau berpapasan dengan kendaraan lain. Jalan sempit dengan lebar hanya sekitar empat meter dan berkelok, sedangkan di sisi kiri kami sepertinya jurang.

Dingin semakin menusuk, rasanya jas hujan yang kami kenakan tidak lagi mampu menahan dinginnya udara saat itu. Sementara perasaan cemas semakin menghantui, apalagi Saya sebagai penunjuk jalan saat itu. Suatu ketika kami tiba di sebuah tanah lapang di pinggir jalan yang sepertinya memang dibuat untuk pengendara yang berhenti dan beristirahat. Selepas mengecek kondisi masing-masing, kami baru sadar bahwa di bawah kami terbentang pemandangan yang sangat indah. Gemerlap lampu yang berserak berujung di tempat luas yang gelap. Tidak salah lagi, itu pasti Kota singaraja, Seririt, dan Pelabuhan Tulang Bawang yang langsung berbatasan dengan laut. Takjub dan puas menikmati pemandangan tersebut, kami pun melanjutkan perjalanan, melalui jalanan yang semakin curam dan menyempit. Entah berapa banyak gapura pergantian desa yang kami lalui, dan terus bertanya, apakah kami akan sampai di tujuan?

Esoknya kami hanya mengikuti rencana teman yang kami singgahi, tanpa tahu mau kemana, kami diajak melaui jalan pedesaan yang begitu indah, berkelok, melalui pemukiman yang kental dengan tradisi Bali, undakan persawahan, serta perkebunan cengkeh dan kopi yang menyejukkan mata. Udara pun begitu segar pagi itu. Setelah melewati satu kawasan saya baru sadar kalau ini adalah jalan yang kami lalui semalam.

Meskipun ragu ada apa sebenarnya di tempat terpencil seperti ini, teman saya menjelaskan bahwa banyak sekali tempat indah yang bisa dikunjungi sekitar sini. Ternyata benar, tidak lama berselang, kami melewati banyak villa yang berjejer, serta para bule yang asyik bersepeda. Heran, sudah berkali-kali saya ke Bali tapi baru tahu ada tempat wisata di sekitar sini, sedangkan orang-orang asing itu sudah tahu lebih dulu.

Teman saya menjelaskan kalau di sekitar tempat ini asa ada tiga buah air terjun yang bisa dikunjungi, yaitu air terjun Pujungan, Blahmantung, dan satu lagi yang saya lupa namanya. Kami berkunjung ke air terjun Blahmantung. Jalan aksesnya masih berbatu, melalui perkebunan kopi yang lebat. Sepertinya memang tempat ini belum dikelola dengan baik. Namun, ternyata keindahannya luar biasa! Air terjun setinggi kurang lebih 50 meter ada di hadapan kami, dengan kolam air nya yang bening. Kami pun tidak sabar untuk bermain air, dan hanya kami, benar-benar serasa milik sendiri. Ini mungkin efek positif dari belum terkelolanya tempat ini, jadi belum banyak orang yang tahu.

Puas berenang, kami melalui jalan pulang yang berbeda. Kali ini melalui perkebunan coklat, dan meminta izin kepada penjaga untuk membeli dan memetik sendiri buahnya. Saya yang tidak pernah tahu seperti apa buah cokelat merasa terkejut mengetahui rupa dan rasa buah coklat ternyata jauh berbeda dengan coklat olahan yang biasa dikonsumsi.

Perjalanan pun kami lanjutkan menju arah Bedugul, lagi-lagi mata kami dibuat terkejut dan terkesima. Ternyata jurang yang kami lihat di sisi kiri semalam adalah danau yang sangat indah. Bukan hanya satu, melainkan dua danau, yaitu danau Buyan dan Tamblingan! Keduanya sekilas terlihat berwarna hijau kebiruan dan sangat tenang, dikelilingi oleh perbukitan yang rindang. Ah, kami tidak menyangka kalau pemandangannya begitu indah, rasanya menghabiskan waktu seharian di sini pun tidak akan terasa bosan.

Tak terasa hari mulai sore, sepertinya perjalanan kami pun harus disudahi. Namun ternyata kejutan lain pun menyambut kami, di tempat kami beristirahat kemarin malam ternyata merupakan sunset point untuk menyaksikan matahari terbenam. Pemandangannya sungguh menakjubkan. Meskipun laut dan kota ada di sebelah utara, tapi tempat ini begitu terbuka ke arah barat. Rasanya saya kehabisan kata untuk menggambarkan bagaimana sang surya perlahan bersembunyi di balik bukit, sementara semburatnya terpancar sampai ke ujung lautan.

Penulis

KURNIA NUGRAHA RUDIANTO

Twitter: @nugrahaRkurnia

Artikel yang mungkin kamu suka