Home Lomba Blog KTF 2014 Keliling Liverpool dan Ketemu Idola

Keliling Liverpool dan Ketemu Idola

oleh

tiket Cold play
tiket Coldplay

Adalah band bernama Coldplay yang dibentuk tahun 1996 dengan para personilnya, Chris Marti (vokal), Jonny Buckland (gitar), Guy Berryman (bas), yang pernah saya lihat konsernya di Echo Arena, Liverpool pada 7 Desember, 2008 lalu. Saya tidak bisa menceritakan detail tentang nama tempat, jam, jarak, dalam perjalanan mengejar salah satu idola saya ini, karena waktu itu tidak berpikir akan menulis kisah ini dan lebih menikmati sendiri pengejaran ini. Tapi saya akan coba mengingat-ingat untuk dikisahkan di sini setelah 4 tahun lalu.

Bermula dari kepergian saya meninggalkan tanah air karena mendapat tugas training dari tempat perusahaan saya bekerja ke kota Stoke on Trent, Inggris. Di sela-sela kegiatan traning tersebut, saya memanfaatkan hari sabtu dan minggu untuk travelling di beberapa kota negara ini. Beberapa mimpi saya waktu remaja terwujud disini dengan gratis, alias tanpa mengeluarkan dari dana pribadi karena dapat uang saku dari perusahaan. Dengan satu rekan kerja yang juga ikut dalam tugas ini, mengalami beberapa kejadian yang lucu dan norak, ya maklum karena kami baru pertama kali pergi keluar negeri, naik pesawat, dengan bahasa Inggri pas-pasan.

Awal kedatangan di bandara Manchester pun sudah sempat dibuat panik, karena kami tidak memegang nomor telepon sekalipun orang yang akan menjemput kami, hanya mengetahui namanya saja. Sambil menunggu tidak pasti ditengah kedinginan yang tidak lazim bagi kami, karena waktu itu sudah mulai musim dingin. Bertanya kepada petugas bandarapun seakan tidak artinya walapun sudah disiarkan keseluruh penjuru bandara. Hampir 2 jam menunggu di sini, akhirnya ada seorang wanita paruh baya memanggil nama kami, dan akhirnya kami tahu jika beliau adalah yang mempunyai tugas untuk menjemput kami.

Hampir 2 bulan tugas kami disini, setiap akhir pekan dihabiskan untuk kemanapun kami mau, dengan memperhatikan kondisi keuangan juga tentunya. Karena uang saku dari perusahaan yang terbatas, terpaksa mensiasatinya, seperti dengan makan mie instan misalnya. Sekedar info untuk makan di sini, harganya bisa 10 kali lipat dibanding dengan di Indonesia.

Sekitar minggu ke tiga, sebelum akhir pekan saya sudah merencanakan untuk menonton konser salah salah satu band favorit dari negeri ini, setelah mencari info di internet, akhirnya mendapatkan jadwal manggungnya Coldplay. Saya tidak pesan tiket online saat itu, karena memang tidak punya kartu kredit, tapi akan menguji keberuntungan saya dengan membeli tiket di tempat saat akan berlangsungnya konser.

Saat itu hari minggu, pagi-pagi saya sudah mulai berangkat dari hotel tempat kami menginap, kali ini saya pergi sendiri karena teman saya tidak tertarik untuk ikut. Menerjang dinginnya suhu yang dibawah 10 derajat celcius itu, langsung menuju halte terdekat. Melihat jadwal bis dihalte untuk tujuan terminal bis di kota Stoke, tidak lama kemudian bis yang dimaksudpun tiba sesuai jadwal. Setelah beberapa kali menggunakan transportasi umum disini, tidak ada istilah bis datang telat, ataupun ngetem.

Sesampainya di terminal, langsung ketempat loket untuk tiket bis luar kota yaitu tujuan Liverpool. Tiket didapat, dan lagi-lagi waktu pemberangkatan sama yang tertera di tiket alias tidak molor. Perjalanan berlangsung selama satu jam dengan menempuh jarak kurang lebih 90 kilometer. Tiba disalah satu terminal bis kota Liverpool, saya pun langsung mencari info tentang letak/lokasi Echo Arena tempat berlangsungnya konser, dengan melihat peta yang ada di terminal.

Walaupun sudah melihat peta sebelumnya, disepanjang jalan masih sering bertanya ke setiap orang yang ditemui, mereka menjawab dengan senang hati setiap ditanya. Kejadian menggelitik juga terjadi ketika saya dipanggil Shaggy oleh seseorang, “Are you Shaggy?” serunya, saya pun hanya senyum dan membalasnya dengan”yes, I’am”. Memang wajah dan tubuh saya yang mirip Shaggy salah satu tokoh di film Scooby-Doo, yang membuat dia manggil seperti itu, hal itu pun kadang tejadi ditanah air. Seperti kota-kota lainnya di Inggris, Liverpool ini tampak rapi, bersih, dengan tata letak ruang kota yang sudah tertata baik. Di berbagai ruas jalan terdapat komplek pertokoan yang ramai pengunjung, mungkin waktu itu karena sudah mendekati hari Natal. Bangunan-bangunan ber-asiktektur tua, lengkap dengan ornamen seperti patung masih sangat terjaga, saya merasa di jaman romawi kuno ketika melewatinya.

Tibalah pada tempat yang dari jauh terlihat seperti pelabuhan, terbacalah penunjuk jalan tertulis “Arbert Dock”. Jika baca dari berbagai literatur, kawasan ini adalah dulunya adalah komplek dermaga dan gudang untuk bongkar muat barang, bahasa sederhananya adalah pelabuhan, yang sudah beroperasi sejak tahun 1846. Tak salah jika tempat ini ditunjuk oleh UNESCO sebagai World Heritage Site dengan nama The Liverpool Maritime Mercantile City.

salah satu sudut Albert dock
salah satu sudut Albet Dock

Menuju Echo Arena untuk membeli tiket konser, tidak terlalu sulit menemukan stadion bertipe indoor ini, karena besarnya sudah tampak dari kejauhan, bentuk stadion seperti UFO yang sedang mendarat, lebih dari setengah didingnya adalah kaca. Loket yang berada didepan stadion tidak terlalu antri siang itu, saya mengira tiket sudah habis, setelah tanya dengan petugasnya, ternyata masih ada tiket untuk posisi didepan panggung, tanpa pikir panjang langsung saya tebus tiket ini seharga 41 ponsterling.

stadion
stadion

Karena konser baru dimulai jam 7.30 malam, sambil menunggu saya manfaatkan untuk keliling kawasan ini. Ada tempat yang menarik, yaitu di depang gedung tertulis “The Beatles Story”. Untuk mengobati rasa penasaran dengan sedikit ragu masuk juga ke tempat ini, ada loket lagi di depan pintu, diharuskan membayar 12 posterling jika ingin lebih mengetahui isi didalamnya. Di depan juga ada penjelasan jika tempat ini adalah museum dari The Beatles, yang menyimpan memorabilia sejak awal karir sampai menjadi grup musik yang mendunia, juga terdapat diorama dan discography didalamnya.

Akhirnya saya masuk, dan langsung di sodori headphone dan sebuah alat. Disini terdapat semacam ruangan-ruangan yang berisi replica dari barang-barang The Beatles yang becerita perjalanan karir musiknya. Setiap ruang di beri identifikasi, hal ini berhubungan dengan alat tadi, jika ingin narasi dari suatu ruangan tersebut maka tinggal menekan tombol sesuai indentifikasi ruangannya. Bagi saya, sangat menyenangkan bisa tahu sejarah dari musisi legendaris dari kota kelahirannya langsung, bisa banyak belajar dari jatuh bangunnya sang lengenda untuk mencapai kepopulerannya.

the Beatles Story
The Beatles Story

Malam menjelang, meninggalkan tempat ini untuk menuju ke stadion. Sudah mulai dengan kerumunan dengan calon penonton lain, sinar lampu tampak indah di diding stadion yang pernah menjadi tempat penyelenggaraan MTV Europe Music Awards tahun 2008 ini. Sudah waktunya untuk masuk ke stadion karena menurut jadwalnya sudah akan dimulai pertunjukannya. Langsung menuju nomor kursi yang ditunjukan di tiket, suasana didalam stadion belum begitu ramai. Disamping saya, sudah duduk juga seorang bapak dengan mengajak kedua anaknya untuk ikut menikmati Coldplay. Coba mengobrol dengan bahasa Inggris saya yang pas-pas an, beliau juga tampak bingung ketika saya menyebut Indonesia sebagai asal negara.

Setelah band pembuka usai, tibalah penampilan yang ditungu-tungu, di buka dengan lagu berjudul “Life in Technicolor” dari album Viva La Vida segera mengundang sorak sorai penonton, dengan reflek hampir semua bangkit dari kursi yang telah disediakan panitia. Panggung yang menyerupai bentuk huruf “U” , Chris Martin sang vokalis hilir mudik diatasnya ciri khas gaya panggungnya. Dengan tata lampu yang tentunya spektakuler, penampilan di lagu-lagu berikutnya terasa semakin hidup. Saya sendiri berada disebelah kiri panggung, tidak ada pagar penghalang membuat saya bisa menyentuh panggung yang tingginya kira-kira 3 meter itu. Saking dekatnya, ketika Chris Martin melambaikan tangan kearah saya, dengan reflek pula saya sambar, peristiwa jabat tangan inipun tidak sengaja terekam di kamera yang saya posisikan untuk video (link video) .

aksi Coldplay
aksi Coldplay

25 lagu tidak terasa sudah dibawakan oleh Coldplay, dan konser harus di akhiri, dengan rasa puas setelahnya. Karena jam sudah menunjukan 11 malam, saya begegas keluar stadion untuk mengejar bis. Berjalan dengan lebih cepat daripada saat berangkat, jalan tidak seramai siangnya, toko-toko sudah mulai tutup, dan suhu terasa lebih dingin. Walaupun jalan sendiri ditengah malam, kekhawatiran tentang gangguan kemaamanan tidak terbukti di sini, malah saya merasa lebih aman dibandingkan jalan di kota Jakarta.

akhir konser
akhir konser

Sampai di terminal agak terkejut, setelah petugas yang ditanya, menjawab jika bis yang kearah kota Stoke baru 5 menit yang lalu berangkat. Memang tidak ada toleransi waktu disini. Sedikit panik, coba tanya ke petugas lagi, ternyata ada bis yang ke arah Stoke dengan tujuan akhir kota lain. Tak mengapa, toh yang penting sampai. Setelah masuk di bis yang ditunjuk, dikejutkan lagi dengan penumpang bis hanya 2 orang termasuk saya, dari kapasitas bis 50 orang, dan ternyata sopirnya seorang wanita.

Tidur di bis, tidak terasa sudah sampai ditujuan setelah mendengar pengumuman dari sang sopir. Untuk kesekian kali dikejutkan kembali, karena tidak ada satupun bis yang tersisa untuk menuju hotel. Hanya ada seorang kulit hitam yang bisa ditanya, alternatif transportasi selain bis, dia pun memberi nomor telepon taxi. Lega rasanya, setelah menghubungi nomor tersebut 20 menit kemudian taxinya pun datang. Akhirnya sampai di hotel jam 1 pagi dengan pengalaman perjalanan bertemu idola yang sangat mengesankan

Dengan mimpi disertai usaha maksimal untuk tujuan adalah sesuatu yang perlu di garis bawahi. Saya sendiri harus berkompetisi secara sehat diperusahan untuk bisa dipercaya di kirim ke negeri ratu Elizabeth ini, berusaha melawan situasi yang sangat berbeda dengan tanah air dari suhu, makanan, dan sampai sakit karena harus adaptasi dengan kondisi ini. Dari perjalanan ini, saya bersyukur bisa belajar dari negara yang lebih maju ini. Bahwa negara maju, terbentuk dari perilaku warganya yang tertib, disiplin, serba teratur, menghargai sejarah, dan perilaku tersebut sudah menjadi budaya disana. Semoga ditanah air ini bisa meniru perilaku mereka.

Penulis

Suyut Utomo

Twitter : @suyututomo