Home Lomba Blog KTF 2015 Inspirasi Nusa Tenggara

Inspirasi Nusa Tenggara

oleh

Setiap tempat bisa memberikan inspirasi. Semua tergantung kita sebagai penjamah tempat tersebut. Apalagi jika tempat yang dimaksud adalah sebuah lansekap yang terbentang indah, memukau dan menarik untuk dijelajahi lebih jauh. Satu di antaranya yang masuk ke dalam kriteria tersebut menurut saya adalah bumi “Nusa Tenggara”.

Namanya cukup “renyah” dibandingkan dengan pulau-pulau lain di nusantara semisal Kalimantan, Sumatera, Jawa atau Papua. Konon bentang alamnya pun memukau dari ujung barat sampai ujung timur. Mulai dari Rinjani sampai Pulau Komodo. Dari Gili Trawangan sampai Danau Kelimutu. Dari Desa Sasak sampai Wae Rebo. Semuanya menyumbangkan keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh tempat lain.

Beruntung sekali saya dan rekan-rekan kerja di kantor berkesempatan untuk mengunjunginya di tahun lalu. Kami bersepuluh yang berangkat dari Jakarta dan transit 1 hari di Surabaya berhasil menginjakkan kaki di Nusa Tenggara Barat, tepatnya Bandara Internasional Praya, Lombok. Kami hanya transit di Lombok sebentar menunggu dijemput oleh pihak travel yang akan membawa kami semua untuk sailing trip dari Lombok ke Labuan Bajo, Flores, Nusa Tenggara Timur. Bayangkan! 4 hari 3 malam kami semua akan berada di atas kapal. Sebuah paduan horor dan tegang yang dibalut lapisan penasaran dan excited untuk kemudian berharap bisa berujar: “pecah!!!”

Dari bandara, kami diantar menuju Labuan Lombok. Sekitar 2 jam mata disodorkan dengan pemandangan yang cukup menarik di daerah Lombok Timur. Saya memperhatikan sebelah kanan tampak Rinjani yang sedari tadi laksana sepasang mata yang mengekor kemana pun saya pergi. Saya berspekulasi di sini kemarau laksana sahabat karib. Daun kering meranggas menyisakan pemandangan serba kecoklatan. Hijau tiada.

Puas menikmati jalur darat, akhirnya petualangan sesungguhnya pun dimulai. Sang nahkoda kapal beserta awak-awaknya berjumlah empat orang bahu-membahu memasukkan logistikke kapal. Buah-buahan, air mineral, roti, pisang, mie, telur, beras dan lain sebagainya disiapkan sebagai amunisi untuk memenuhi sistem pencernaan kami semua.

Tak lama kapal menjauh dari dermaga. Kami mulai sibuk memasang kedua mata untuk melihat pemandangan sekitar. Beberapa mulai menyiapkan permainan seperti kartu remi, monopoli dan congklak. Hiburan mahal di tengah laut.

Kapal membelah laut dengan deburan air disertai gelombang yang tak begitu keras, tapi sesekali berjodoh dengan ombak yang besar hingga membuat kapal tak lagi bisa berdiri gagah. Celakalah bagi lambung-lambung kami yang belum lama baru saja diisi makan siang. Benar saja, salah seorang teman mulai mengeluarkan “jackpot”, beberapa lagi merasa pusing dan memilih tidur. Dan saya, sibuk memainkan tangan memindahkan biji-bijian satu per satu dari lubang ke lubang.

Tak terasa malam menjelang. Nahkoda memberhentikan kapal dan sang awak menambatkan jangkar. Kami berburu sunset di Gili Bola hingga surya benar-benar tenggelam dan berganti pekat. Di tempat inilah kami akan menutupkan mata sejenak untuk bersiap besok melaju kembali. Di langit, konstelasi terhamburkan di atas debur ombak nan pelan. Sinarnya seperti tengah berkomunikasi menyampaikan senandung. Senandung malam! Kami pun tertidur.

Esoknya pagi sekali kapal sudah mulai meninggalkan Gili Bola. Kami bersiap ke Pulau Moyo untuk menikmati air terjun. Setelah berjalan beberapa saat, kami sampai di air terjun tersebut. Dari situ, kami lanjut ke Pulau Satonda, Dompu. Perlu waktu 2 jam hingga akhirnya sampai dan kami snorkling di sana. Walau tidak begitu indah, tetapi kami puas! Bukan karena apa-apa, kami akhirnya menemukan air tawar di tempat bilas yang disewakan oleh penjaga warung. Kami disuruh mandi karena dalam waktu 2 hari ke depan, itulah air tawar terakhir yang bisa digunakan untuk membersihkan badan.

Setelah dari Satonda, sekitar pukul 14 waktu setempat, kapal berangkat kembali. “Kita akan mengejar sunrise di Gili Lawa. 16 jam kita akan melaju tanpa henti. Bermalam di perjalanan.” Demikianlah ucap salah satu awak. Perjalanan 16 jam tersebut dicicil perlahan melintasi Laut Flores. Tampak Tambora gagah membentang di sebelah kanan.

Keesokan pagi, kami semua terbangun dan langsung menyantap pancake buatan salah satu awak yang rasanya bisa diadu dengan appetizer di hotel bintang 3. Serius! Nikmat sekali. Ternyata para awak berbadan kekar dan macho ini tak kalah diadu dalam urusan dapur. Kami bercengkrama, foto-foto sambil sesekali bernyanyi mengisi kekosongan. Sunrise sudah jelas tidak terkejar. Waktu sudah jam 7 dan kami belum juga sampai di Gili Lawa. Baru kemudian di jam 9 kami berhasil menaklukan puncak Gili Lawa. Entah bagaimana mendeskripsikan tempat ini. Nilai 8,5 dari 10. Betapa menakjubkan pemandangan dari puncak. Lekuk bibir pantai nan cerah, rerumputan gersang yang dicumbui oleh toska dan biru laut. Itulah pesona Gili Lawa.

Badan ini serasa tak mau move on, tapi kita harus melanjutkan perjalanan menuju tempat yang tak kalah seru. Otentiknya Pink Beach harus segera dijemput sebelum hari terlampau siang dan panas. Setelah 3 jam perjalanan, akhirnya kami sampai juga. Benar saja! Pasirnya berwarna pink. Lautnya jernih dan kami snorkling kembali menyaksikan pemadangan bawah laut yang menawan.

Sampai akhirnya kami harus segera berpindah menyaksikan suguhan obyek wisata khas dari Nusa Tenggara Timur. Apalagi kalau bukan Pulau Komodo. Menjelang senja kami sampai ke sana. Dipandu oleh dua orang ranger kami menyaksikan sang “kadal raksasa” yang nyaman berada di habitatnya. Jumlah komodo di Pulau tersebut mencapai 2842 ekor. Paling banyak di antara 3 pulau lainnya, yaitu Pulau Rinca, Pula Nusa Kode dan Pulau Gilimotang. Menyusuri habitat asli komodo sungguh merupakan pengalaman yang menarik. Seperti masuk ke dalam dimensi kehidupan purbakala yang liar dan mengingatkan saya pada pelajaran biologi semasa SMA bab “rantai makanan”.

Dari Pulau Komodo, kami bermalam di Pulang Kalong. Kembali taburan bintang bercanda asyik di atas kapal tempat malam ini kan dilewati. Salah satu awak kapal bercengkrama dengan kami yang malam itu belum terlelap, termasuk saya. Ia menceritakan beberapa cerita rakyat Nusa Tenggara yang diketahuinya. Satu yang terngiang dan selalu diingat serta akhirnya saya cari tahu cerita aslinya adalah Asal Usul Tradisi Bau Nyale “Putri Mandalika”. Apa yang diceritakannya persis sama dengan sumber literatur yang saya baca. Lumayan dapat pengetahuan baru.

Esoknya penjelajahan kami sampai di tempat terakhir yaitu Pulau Rinca. Pemandangannya tidak terlalu beda dengan Pulau Komodo, tapi menurut saya secara lansekap Pulau Rinca jauh lebih indah dibandingkan Pulau Komodo. Si kadal raksasa yang kami temui pun jauh lebih aktif, mungkin karena masih pagi. Pulau Rinca dan Komodo sungguh telah memberikan kesan mendalam untuk saya pribadi. Banyak ilmu yang didapat dari apa yang diceritakan oleh sang ranger. Dan itu membuat saya kagum dengan kebesaran Sang Maha Kuasa.

Menjelang pukul 12, daratan yang terkesan “ramai” terlihat dari kejauhan. Sesekali mata ini beruntung menyaksikan lumba-lumba yang loncat dengan lincah. Beberapa kapal lain berjejer dengan rapi, bau aspal sudah mulai tercium kembali. Perjalanan 4 hari 3 malam selama di dalam kapal akan berakhir.

Tersisa sedikit haru ketika harus berpisah dengan sang nahkoda dan juga awak-awak kapal. Tapi kesan yang mendalam sudah mereka berikan. Perjalanan ini sungguh sebuah inspirasi besar yang akhirnya membuat saya mengerti tentang makna perjalanan, membuat saya kreatif berpuisi di media sosial dengan tagar #inspirasinusatenggara sambil memuji kebesaran Tuhan. Akhirnya kami berpisah di Labuan Bajo. Pun dari kami bersepuluh akhirnya terpencar menjadi dua kelompok. 5 orang segera terbang ke Denpasar untuk kemudian kembali ke Jakarta. Dan 5 orang lagi melanjutkan perjalanan menjelajah Bumi Flores yang eksotis hingga 5 hari ke depan. Wae Rebo, Ruteng, Desa Adat Bena – Bajawa, Danau Kelimutu dan Ende siap “mereka” jelajahi. Satu di antara “mereka” itu adalah saya sendiri.

Penulis

Suhadi

Twitter: @hadisu_euy

Artikel yang mungkin kamu suka