Home Mau Ngapain?Wisata Kuliner Suguhan Cita Rasa Tradisional dalam Tampilan Kekinian

Suguhan Cita Rasa Tradisional dalam Tampilan Kekinian

oleh Tyas Ing Kalbu

FOTO-FOTO DOK TESATE

Selayaknya orang jatuh cinta dari mata turun ke hati, dunia kuliner membuktikan tumbuh cinta karena indera pengecap. Pergaulan global pun tercipta berkat hidangan di meja.

Melalui sepiring menu makanan bisa terjadi pertukaran nilai, tradisi, hingga cara pandang hidup suatu bangsa. Sensori indera pengecap turut membangkitkan seluruh indera pengalaman yang melibatkan konteks seni, budaya, dan ilmu sains. Seiring meningkatnya tren kuliner, jalur persahabatan antara dua negara atau lebih pun bergulir melalui petualangan indera pengecap.

Pada 2011, ahli gastronomi Paul Rockower pernah mengenalkan istilah gastrodiplomacy. Istilah ini merujuk pada kegiatan promosi kuliner suatu negara kepada publik hingga pembentukan nation branding dan penguasaan pasar kuliner global. Istilah ini untuk membedakan dengan diplomasi kuliner, yang berjalan dari pemerintah ke pemerintah.

Itulah sebabnya, Indonesia tak lagi hanya dipandang karena kekayaan alam dan keragaman seni budayanya, tetapi juga semakin dikenal karena sumbangan literatur kulinernya bagi semesta gastronomi dunia.

Untuk itu, keistimewaan kuliner khas Indonesia harus dirawat dan dilestarikan guna meninggikan daya tawar Indonesia melalui jalur diplomasi gastronomi. Dalam konteks ini, Sarirasa Group ingin berkontribusi melalui pembentukan restoran yang khusus menyuguhkan masakan Indonesia sehingga pada 2008 diluncurkanlah TeSaTe untuk menghormati dan melestarikan warisan leluhur kita.

TeSaTe dirancang khusus untuk mengembangkan kuliner khas Indonesia dengan mengusung tagline “A Flavorful Journey Through Indonesiaā€¯. Restoran ini mengolah dan menyajikan hidangan Indonesia dengan level penampilan yang lebih tinggi dan modern agar semua pencinta kuliner bisa menikmati cita rasa kreatif dengan tetap mengalami kekhasan rasa Nusantara.

Menu andalan TeSaTe terdiri atas berbagai pilihan sate, termasuk sate ayam madura yang juicy dengan bumbu kacang yang manis; sate makassar yang komposisinya daging sapi tenderloin beraroma harum dengan saus belimbing wuluh; dan sate kambing dengan daging kambing empuk yang direndam dengan kecap manis dan disajikan dengan sambal kecap.

TeSaTe juga mengolah makanan tradisional lainnya, antara lain nasi hitam ikan roa, nasi tutug, liwetan khas Sunda, berbagai pilihan hidangan laut gule sengkel, serta nasi gudeg. Tamu juga bisa mencoba sup tradisional Indonesia, seperti sup buntut disajikan secara kekinian dengan anglo tradisional.

Tersedia juga beberapa resep tradisional seperti racikan iga sapi pada hidangan khas Sulawesi, paniki, dan rawon buntut sapi, serta penambahan udang pada sayur asem. Untuk pilihan kombinasi nasi, disajikan menggunakan nampan kayu panjang bersama dengan lauk pauknya. Menu unik lainnya adalah sup kelapa daun kelor, gudeg yang disajikan dalam kendi panas, shirataki, serta nasi hitam yang sehat.

Untuk hidangan pembuka, tamu bisa mencoba otak-otak dan kerupuk campur yang disajikan dengan gaya kontemporer, tetapi tetap kental dengan cita rasa autentik yang sudah sangat dikenal masyarakat Indonesia. Tersedia juga penganan berbahan dasar tahu, seperti tahu sampler, tahu udang berontak, tahu pong, dan tahu sumedang. Ini sangat cocok untuk melengkapi obrolan dengan teman atau kolega.

Jajanan tradisional dikemas modern

Guna memperkuat usaha melestarikan kuliner Indonesia, Sarirasa Group juga menghadirkan TeKoTe. Bila TeSate menghidangkan makanan-makanan berat, TeKoTe siap menyajikan menu yang lebih ringan, yakni makanan, minuman, dan hidangan penutup. TeKoTe berada di dalam gerai TeSaTe.

TeKoTe tetap mengambil tujuan dan visi yang mirip dengan merek induknya, yakni melestarikan jajanan khas Indonesia dengan sentuhan modern. Variasi menu menjadi kunci sajian di TeKoTe. Semisal beragam jajanan tradisional yang ditemani sejumlah pilihan jamu dan wedhang. Semuanya disuguhkan secara kekinian.

TeKoTe sebenarnya merupakan singkatan dari teh, kopi, dan teko. Teko sendiri digunakan sebagai salah satu peralatan untuk menyajikan minuman kepada tamu. TeKoTe mengemas ulang makanan ringan, minuman, dan makanan penutup tradisional Indonesia. Sebagai contoh, tamu bisa menjajal segarnya es puter berbahan kelapa kopyor atau legitnya serabi yang cukup digemari.

Merek ini diciptakan tidak hanya untuk menghormati, melestarikan, dan merayakan makanan dan minuman ringan tradisional, tetapi juga menambahkan sentuhan inovatif dan kreatif pada kudapan istimewa tersebut. Cara ini diharapkan bisa membuat beragam jenis jajanan lokal selalu relevan dari generasi ke generasi.

Gerai tradisional modern

Tradisional yang energik, dinamis, dan modern menjadi elemen interior utama gerai TeSaTe. Hal ini tecermin pada aksara Jawa yang bisa ditemukan di berbagai perlengkapan interior, mulai dari pintu masuk hingga lampion yang menerangi ruangan, menghadirkan atmosfer unik ke dalam restoran.

Cabang TeSaTe pertama berlokasi di dalam Plaza Senayan. Restoran ini memiliki dua area makan: satu area seperti kedai kopi agar tamu dapat menikmati obrolan sembari ditemani makanan ringan dan minuman. Sementara itu, area lainnya mengadopsi suasana lebih nyaman bagi pengunjung untuk merayakan acara khusus atau mengadakan pertemuan.

Konsep tersebut menjadi ciri khas restoran ini dan telah diterapkan di setiap gerai TeSaTe. TeSaTe juga menyediakan ruang makan pribadi untuk acara-acara khusus yang membutuhkan privasi lebih.

Gerai TeSaTe kedua dibuka untuk umum pada 2010 di Pacific Place. Sebagai pusat perbelanjaan papan atas yang terletak di dekat Gedung Bursa Efek Indonesia serta beberapa menara perkantoran dan lingkungan perumahan eksklusif, TeSaTe Pacific Place menampilkan restoran yang mewah.

Sebagian besar cabang TeSaTe memang berada di dalam pusat perbelanjaan. Namun, TeSaTe Sam Ratulangi mengusung konsep berbeda. Pada gerai yang dibuka 2010 ini, para tamu dapat bersantap di bawah pohon plumeria di ruangan makan terbuka. Bisa juga bersantap di lantai bawah dengan pemandangan taman vertikal dan kolam kecil.

Ruang makan utama dipisahkan dari ruang makan yang lebih privasi dengan anyaman bambu yang digantung sebagai partisi. Ini seolah menjadi aksen yang kian menekankan elemen tradisional.

Konsep tradisional-modern juga mengemuka melalui buku menu TeSaTe. Buku menu ini didesain dalam bentuk kipas sate dari anyaman bambu. Ini merepresentasikan pilihan sate yang beragam dari berbagai daerah di Indonesia.

Selain itu, setiap gerai TeSaTe memiliki dapur terbuka sehingga tamu dapat menyaksikan para juru masak menyiapkan sate dan makanan panggang lainnya. Para tamu akan melihat sate yang dimasak dengan menggunakan pemanggang arang. Menunjukkan dedikasi TeSaTe untuk melestarikan nilai-nilai tradisional dalam menghadapi modernisasi.

Segala sajian dan suasana khas tersebut akan menemani para pengunjung dari berbagai latar belakang budaya dan bangsa untuk menikmati santapan seperti di rumah sendiri.

IG @tesaterestaurant

Artikel yang mungkin kamu suka