Home Lomba Blog KTF 2014 SATU PAGI DI ASAKUSA, TOKYO

SATU PAGI DI ASAKUSA, TOKYO

oleh

Asakusa Smile Hostel

Lokasinya sangat mudah dicari, berada di Asakusa, sebelah timur laut Tokyo. Daerah ini merupakan salah satu daerah wisata unggulan Tokyo. Nuansa masa lalu terasa jelas dari kawasan Senso-Ji dan Nakamise sedangkan kecanggihan masa kini terlihat jelas dari maskot Tokyo yang paling baru, Tokyo Sky Tree yang tingginya konon menembus awan itu.

Sebenarnya check in baru boleh jam 3 – 5 sore, tapi karena sudah ada satu tempat yang kosong satu, Bang Eko bisa langsung pakai. Dia kebagian kamar dormitory dengan 6 tempat tidur campur. Di hostel ini terdapat wifi, internet, laundry dan dapur yang tersedia tanpa tambahan biaya. Harga satu malam untuk satu tempat tidur antara ¥1900 – ¥2100 tergantung hari. Kamar-kamar terletak di lantai 2-4, sedangkan di lantai 1 terdapat resepsionis, luggage room dan pastinya kafe.

Sedangkan kamarku dan Sita ternyata berada di gedung berbeda yang terletak 500 meter dari Asakusa Smile. Berhubung kamarku belum siap, kami menumpang mandi di Hostel utama dan melanjutkan pertualangan.

Antara hostel dan Asakusa terdapat jembatan indah membelah sungai Sumida. Di tepiannya terdapat sakura berbaris rapi, menari bersama semilir angin. Di sebelah sisi timur sungai, Gedung Asahi Beer yang monumental berdiri gagah, walaupun awalnya aku agak kurang paham maksud gumpalan kuning di atas gedung itu. Setiap melihatnya aku tertawa geli, karena membayangkan yang aneh – aneh. Setelah dilakukan pencarian di internet ternyata artinya adalah api yang membara. Tapi orang Tokyo sendiri lebih mengenalnya dengan “big poo” atau “kotoran besar”.

Sedangkan di sisi barat terdapat Tokyo Cruise Center yang melayani perjalanan Waterbus Tour. Sebenarnya bisa menjadi pilihan bagi pelancong beranggaran lebih karena harganya berkisar ¥4000 – ¥8000. Tour ini menghabiskan waktu 2 jam menyusuri sungai Sumida menuju Odaiba, rumah bagi sang gundam raksasa.

Ketika kami melintas di depan tempat ini, seorang laki-laki berjas menghampiri kami menawarkan paket wisata.

sorry, where are you come from?”, sapanya

“Indonesia.” Jawab kami enggan, karena kami tahu dia akan menjual sesuatu.

You know bla bla bla.” dia menjelaskan semua yang ada di brosur sangat teliti, panjang dan cepat tanpa bisa disela.

Sampai akhirnya kami bilang kalau sedang buru-buru. Dia pun tersenyum ramah dan memberikan beberapa brosur. Bukannya kami tidak sopan, tapi naik waterbus tidak ada dalam agenda dan tentunya tidak masuk anggaran kami.

Tapi kemudianaku baca di brosurnya bahwa selain tur berbayar juga ada yang gratis. Yaitu keliling Asakusa selama dua jam dengan pemandu setiap hari Senin dan Kamis. Kalau ingin bergabung, bisa mendaftar di Tokyo Cruise Center jam 09.00. Sayangnya hari Senin kami akan ke Museum Doraemon.

Tambahan lagi, di dekat jembatan banyak laki-laki dengan rupa menawan berpawakan sempurna menawarkan jinrikisha, semacam becak yang ditarik manusia. Harga yang ditawarkan ¥6000-¥8000 per 30 menit. Bagiku melihat mereka saja sudah jadi hiburan tersendiri. Perlu diingat bahwa jinrikisha di Tokyo hanya ada di Asakusa.

Jalan Shin – Nakamise dan Nakamise

Tujuan pertamaku di Asakusa adalah beli oleh-oleh titipan di Nakamise. Di sini terdapat hampir semua oleh – oleh khas jepang dengan harga yang kurang terjangkau bagi petualang dengan budget ketat seperti aku. Sebagai gambaran saja, satu gantungan kunci atau tempelan kulkas ¥350-¥500, boneka kokeshi ¥800-¥4000, kaos ¥950-¥1500 dan kimono yang mencapai puluhan ribu yen. Tapi nantinya aku sadar oleh-oleh di sini ternyata lebih murah dari pada di tempat lain. Menurutku oleh-oleh yang terjangkau adalah makanan. Kemasan makanan disini sangat ekslusif dengan harga murah, rata – rata ¥650-¥1000 isi 10-20 buah.

Satu lagi yang menarik tentang Nakamise, banyak jajanan rakyat khas Jepang. Aku, Sita dan mas Eko dimanjakan dengan makanan unik-unik, setidaknya menurutku. Sebagai manusia yg kurang eksperimen dalam hal makanan, aku mendobrak tembokku selama di Jepang. Yang pertama adalah Senbei, sejenis kerupuk beras rasa asin seharga ¥70, yang biasa ¥50. Ketika dibilang asin ternyata lebih terasa asin daripada garam. Harusnya aku pilih rasa biasa saja.

 

Makanan kedua adalah imagawayaki. Makanan ini adalah semacam 2 pancake yang disatukan dan tengahnya diisi dengan selai kacang merah (azuki) yang terasa manis. Selai yang terbuat dari kacang azuki, gula, madu dan tepung banyak dijumpai di makanan manis khas jepang (wagashi). Dan enaknya dimakan hangat-hangat. Mantap. Tidak perlu beli sebungkus, bisa cukup satu saja (¥60). Selain kedua makanan tadi aku juga mencicipi ayam goreng dan dorayaki milik Sita. Lumayan gratis.

Senso – Ji

Masih di kawasan yang sama, terdapat kuil Shinto yang paling tua di Jepang yaitu Senso-Ji. Sebenarnya bangunan yang megah ini sebagian besar bukan bangunan asli. Kuil yang dibangun pada tahun 645 Masehi ini dibom pada Perang Dunia ke 2 kemudian dibangun kembali sebagai simbol kelahiran dan kedamaian pada masyarakat Jepang. Keindahan bangunan ini semakin sempurna dengan sakura bermekaran di sekelilingnya. Setiap tahun sekitar minggu ketiga bulan Mei, disini selalu diadakan salah satu festival terbesar di Jepang yaitu Sanja Matsuri. Festival yang digelar 3 hari berturut – turut ini biasanya dihadiri lebih dari 2 juta orang. Info lebih lengkap tentang Sanja Matsuri bisa dilihat di sini.

Tapi satu yang menarik perhatianku adalah O-mikuji, pembaca peruntungan. Caranya adalah masukkan ¥100 pada kotak yang tersedia, kemudian kocok tabung yang berisi stik bambu sebesar sumpit. Kocok sampai keluar satu stik lalu cocokkan tulisan di stik itu dengan laci-laci berisi kertas peruntungan. Untuk melakukannya aku membutuhkan bantuan ibu-ibu Jepang di sebelahku.

“Sumimasen.” Sapaku dan menunjuk stikku dan laci mengisyaratkan aku tidak tahu caranya.

“Hai Hai.” Sambutnya dengan sangat ramah.

Setelah menemukan kertasku, dia melonjak bahagia membacanya. Pasti bagus ini pikirku. Tapi kemudian dia menerangkannya dengan bahasa Jepang. Wajahku yang awalnya berseri-seri berubah menjadi kebingungan.

“I don’t know, sorry.” Jawabku bingung

Lalu aku membaca kertas itu yang ternyata ada terjemahan Inggrisnya dan tersenyum bahagia ke atas awan. Apa isinya? Cukup Allah, ibu itu dan aku yang tahu.

Kemudian mereka mengisyaratkan untuk mengikat kertas itu untaian kawat yang berada di samping tempat aku mendapat kertas tadi. Hal ini dilakukan apabila mendapat peruntungan buruk maka semoga hal itu akan tetap berada disana dan dijauhkan. Lain halnya jika peruntungan baik maka kertas bisa dibawa pulang sebagai jimat keberuntungan atau diikat agar efek baiknya semakin besar.

Bismillah.

Penulis

Arum Apriliyana

Twitter: @arumisdreaming

Artikel yang mungkin kamu suka