Home Lomba Blog KTF 2015 Pelayaran Manis ke Perairan Eksotis di Ujung Timur Indonesia

Pelayaran Manis ke Perairan Eksotis di Ujung Timur Indonesia

oleh

Teman baru, tempat baru, pengalaman baru. Bagaimana jika semuanya digabungkan dalam satu waktu? Super seru!

 

Begitu Labuan Bajo diputuskan sebagai destinasi, saya Petra dan Nusa sebagai penggagas ide ini, yang menganut aliran “kelompok anak baik-baik tidak rewel dan suka jalan-jalan murah” segera bergerak mencari sekutu. Kami mencari orang sebanyak-banyaknya agar biaya yang dikeluarkan semakin sedikit. Kencana Adventure menjadi pilihan sekaligus puncak ekspektasi dari perjalanan kali ini. Eksekusi memang tak semudah merencanakannya. Setelah mengalami penolakan sana-sini, menerima berbagai alasan dan melalui berbagai drama, terkumpullah 16 orang yang hingga kini saya yakini memang ditakdirkan untuk menjadi travel buddies. Sebagian besar adalah teman SMA kami dan pasangannya, lainnya ada teman kantor, teman yang baru satu dua kali bertemu, hingga temannya teman. 

 

Enam hari lima malam, cukup lama untuk sebuah liburan, terhitung panjang untuk ambil cuti bagi kami yang hanya seorang karyawan. Namun berhubung tiket sudah dibeli, dan dengan iming-iming pengalaman live on board selama empat hari tiga malam, semua memberanikan diri mengajukan surat cuti. 

 

Live on board? Tinggal di kapal? Yak, selamat empat hari tiga malam kami akan tinggal satu atap, terombang-ambing bersama dalam kapal standar tanpa shower dan bak mandi, hanya toilet seadanya, persediaan air terbatas, listrik dan sinyal sering ada dan tiada. Jangan kira kami semua perenang handal, karena sebagian besar dari kami bahkan masih takut menyentuh air laut tanpa berbekal life jacket. Ya memang, di daratan dimana air berlimpah kami sering malas mandi, namun ketika dihadapkan pada kenyataan bahwa kami tidak akan bertemu air tawar selama tiga hari, nyatanya sebagian dari kami masih merasa jengah. Namun apalah artinya liburan tanpa sebuah hal baru? Toh semua hal yang terlihat tidak nyaman ini justru menjadi pemanis yang tidak dibuat-buat.

 

Kapal kami mulai berlayar di tanggal 30 April 2015, berangkat dari Labuan Bajo yang merupakan pintu masuk menuju ke Taman Nasional Komodo. Sebelumnya kami singgah di Pulau Kelor yang menjadi destinasi pertama. Gradasi kebiruan dikelilingi perbukitan hijau, bau asin khas lautan, dan warna warni biota di bawah sana ternyata sangat menggiurkan. Tak perlu berlama-lama, segera saja sebagian dari kami menceburkan diri dan berenang-renang di sekitar kapal. Kubikel sempit di kantor yang selalu dihimpit dengan email, brief, job order, telepon klien, kini tergantikan dengan pemandangan luar biasa yang menemani waktu liburan kami. Lebih dari bahagia, apalagi bersama teman-teman baru yang segera saja terasa seperti keluarga. 

 

Puas berenang, kami kembali ke kapal untuk menuju ke Loh Buaya, Pulau Rinca. Pulau Rinca adalah tempat tinggal dari sekitar 2000 ekor komodo yang semuanya masih liar, bebas dan hidup secara soliter yang bisa dikelilingi dengan cara tracking. Bicara soal komodo, sejujurnya, setiap mendengar kata “komodo” saya masih berdigik ngeri. Saya bukan penyuka reptil dan binatang melata malahan cenderung geli setiap melihat mereka. Tapi tentunya saya tidak sebodoh itu untuk melewatkan pengalaman langka bertemu komodo hanya karena takut. Nampaknya ini adalah pengalaman pertama bagi kami semua untuk melihat komodo. Meski dengan takut-takut,  berkat bantuan dari para Ranger-sebutan untuk guide di Pulau Rinca, kami pun berhasil berfoto bersama komodo. 

 

Menghabiskan waktu di kapal tidaklah menjadi hal yang membosankan. Banyak pilihan kegiatan yang bisa dilakukan. Mengakrabkan diri dengan teman baru, saling bercanda, bersandar di dek kapal dan memandangi lautan yang tidak bisa dilakukan di hari-hari biasa, mengupload foto ke media sosial (kalau-kalau ada sinyal), bermain games, ataupun tidur siang seperti saya, dan tiba-tiba terbangun di Pink Beach.

 

Mengapa disebut Pink Beach? Bukan, bukan airnya yang berwarna pink, tapi pasirnya yang merupakan perpaduan warna merah dan putih sehingga terlihat seperti pink. Yang spesial lagi, Pink Beach ini punya pasir pantai yang sangat sangat lembut. Kalau boleh diumpamakan warna dan teksturnya seperti seperti susu bubuk rasa strawberry. 

 

Begitu kapal merapat di sini, tanpa dikomando lagi kami sudah tahu bahwa ini saatnya berenang. Ya, nampaknya kami sudah bisa menyesuaikan diri dengan kehidupan di kapal yang berputar antara makan – tidur – berenang – tracking – bermain games – makan – tidur – berenang dan seterusnya. Menyenangkan sekali ya?

 

Pengalaman Live On Board bagi kami tentu memiliki kesan tersendiri. Terlebih di malam hari, ketika kapal menempuh perjalanan panjang menuju destinasi selanjutnya, kami sempat mengalami ombak besar. Bayangkan saja, enam belas orang yang tidak semuanya fasih berenang, di dalam kapal sedang dengan sekoci yang nampak seadanya. Jika ombak ataupun badai besar terjadi, dalam waktu singkat habislah kami ini. Makanya, untuk membunuh perasaan takut, kami lebih memilih untuk berkumpul membuat lingkaran dan memainkan permainan yang mengundang gelak tawa. Bahkan para awak kapal ikut duduk di sekitar kami, menyaksikan kami bermain dan ikut tertawa bersama kami. Goyangan-goyangan kecil akibat ombak, bahkan terasa kalah dahsyat oleh keakraban kami malam itu.

 

Selama tiga hari berikutnya, kami semakin terbiasa dengan ritme hidup di atas kapal. Pagi dibangunkan dengan harum masakan dari bapak awak kapal, setelahnya dilanjut dengan memandangi lautan sepanjang perjalanan sampai puas. Siang beristirahat sejenak, dan saat dibangunkan kami harus siap dengan pilihan kegiatan berenang atau tracking. Menjalani hari-hari bersama teman baru dengan kegiatan yang jauh berbeda dari biasanya, sepertinya cukup manjur untuk menghapus segala kepenatan selama ini. Dan yang jelas, semua pemandangan gratis yang kami nikmati selama perjalanan, membuat kami semakin jatuh cinta dengan Indonesia.

 

Salah satu destinasi yang bagi saya dan teman-teman spesial adalah Gili Laba, yang disebut sebagai puncak tertinggi dari perjalanan kami ini. Di Gili Laba masing-masing dari kami diberi pilihan. Jika ingin basah dipersilakan snorkeling dan berenang, jika ingin sedikit berkeringat pun tak dilarang untuk tracking, dan kali ini saya memilih tracking sementara sebagian teman memilih berenang. Mendaki Gili Laba di tengah hari yang panas bukanlah perkara mudah. Beberapa kali saya dan teman-teman (saat itu kami berlima yang memilih tracking) berhenti cukup lama, mengambil nafas dan terengah-engah. Bayangan kulit hitam sudah bukan lagi menjadi masalah buat kami, karena kami yakin pengalaman yang didapat tentu akan jauh lebih berharga dibanding ketakutan kami yang tidak ingin menghitam. Sekitar tiga puluh menit kemudian, sampailah di puncak yang membuat saya kehabisan kata-kata. Bukan karena kelelahan, tapi justru karena rasa lelah setelah mendaki terbayar dengan pemandangan luar biasa indah yang membuat saya secara spontan bergumam, “Tuhan memang Maha Besar”. Sampai di puncak ini membuat saya langsung berefleksi dan berterima kasih atas segala ciptaan-Nya yang sungguh luar biasa. Memandangi ciptaan Tuhan sungguh membuat saya menyadari, betapa kecil kita di hadapan-Nya.

 

Setelah mengabadikan pemandangan yang tidak akan pernah bisa saya lupakan ini, saya dan teman-teman sejenak bersantai. Bayangkan, semilir angin menemani hamparan savana gersang yang dikelilingi lautan biru yang dari titik atas sini terlihat sangat jelas gradasi warnanya. Langit cerah menambah kesempurnaan pemandangan yang sangat memanjakan mata ini. Ketika tiba saatnya untuk turun dan kembali ke kapal, kaki saya terasa enggan melangkah karena tidak ingin kehilangan pemandangan se-surga ini begitu saja. Cobalah masukkan keyword “Gili Laba” dalam search engine, dan bekerjalah lebih giat lagi supaya kalian berkesempatan untuk mengunjunginya.

 

Di hari-hari berikutnya Taman Nasional Komodo, Danau Satonda berturut-turun menjadi destinasi kapal kami. Setiap turun dari kapal dan memulai kegiatan, saya dan teman-teman seperti menanti-nanti, kejutan apa yang ada di destinasi ini. Lautan biru dengan warna-warna alami di bawahnya, berpapasan dengan si raksasa kanibal saat tracking Taman Nasional Komodo, atau bahkan saat mendebarkan dimana salah seorang teman kami menjadi incaran komodo karena sedang datang bulan.

 

Sore terakhir sebelum pelayaran selesai, saya dan teman-teman mendapat kabar gembira, “KAMI BISA MANDI!” Kapal merapat ke arah Pulau Moyo, tempat dimana terdapat air terjun Moyo. Akhirnya bertemu air tawar! Akhirnya bisa mandi dan mencuci rambut. Untuk saat itu, sungguh hal (yang sebenarnya) biasa namun membawa kebahagiaan bagi kami yang sudah bertahan empat hari tanpa mandi dan mencuci rambut.

 

Tanpa terasa, malam itu adalah malam terakhir kami berlayar karena keesokan harinya kami akan mengakhiri perjalanan di pelabuhan Kayangan, Lombok Timur. Kekakuan di antara teman baru sudah tak lagi terasa, semua sudah mencair dan menjadi keluarga. Awak kapal yang selama empat hari tiga malam mendampingi kami pun sudah terasa seperti anggota keluarga kami. Sedih juga rupanya meninggalkan kemesraan yang sudah terjalin selama hampir sepekan ini.

 

Berlayar bersama teman-teman baru, dengan berbagai karakteristik yang berbeda, ada yang pandai melemparkan candaan dan mencairkan suasana, ada yang pandai mengambil foto, ada yang terlihat pendiam namun ternyata sudah sangat akrab dengan para awak kapal, ada yang menikmati dirinya dijadikan bulan-bulanan ternyata sungguh menjadi pengalaman manis bagi saya. Terima kasih, kalian semua sudah terlanjur menjadi travel buddies istimewa buat saya.

 

Ah, sesungguhnya kisah ini tidak akan bisa menggambarkan secara lengkap bagaimana perjalanan kami waktu itu. Jika kalian ingin tahu, silakan intip hashtag #labourbajo yang sengaja kami siapkan untuk menjawab pertanyaan “Gimana liburan ke Bajo-nya?”. Selamat menikmati, jangan sungkan untuk menghubungi saya jika ada hal yang ingin ditanyakan.  Pesan terakhir, jangan takut hitam, ayo jalan-jalan keluar rumah! 

Penulis

maria nari gunita

Twitter: @aboutita

Artikel yang mungkin kamu suka