Home Lomba Blog KTF 2015 Nggak Percaya Candi dari Tumpukan Batu

Nggak Percaya Candi dari Tumpukan Batu

oleh Mahansa Sinulingga

SEJAK memutuskan backpakeran ke Jawa Tengah dan Jogjakarta bareng ketiga anak saya menggunakan kendaraan, selain Candi Borobudur dan Candi Prambanan, Keraton Ratu Boko masuk dalam agenda perjalanan. Hanya saja, saya tidak menyangka ada tiket terusan.

Makanya, begitu penjaga tiket Candi Prambanan menyodorkan tiket terusan, saya langsung mengiyakan. Saya lihat wajah anak-anak memelas sangat senang. Kelelahan karena menempuh perjalanan dari Bandung, Jawa Tengah, hingga Jogjakarta yang memakan waktu lebih dari 12 jam melalui jalur selatan seakan telah sirna. Apalagi semalaman mereka pulas istirahat  di emperan penginapan dekat keraton Jogjakarta.

Walau saya tetap was-was dan waspada karena ketiga anak saya masih kecil dan ini perjalanan darat terjauh yang pernah ditempuh. Si sulung baru sepuluh tahun, yang kedua delapan tahun, dan si bungsu enam tahun.

 

Keraton Ratu Boko

Begitu tiket terusan di tangan, kami langsung naik roda bus menuju Keraton Ratu Boko. Bus melewati Pasar Prambanan menuju Piyungan. Tak lama kemudian tiba di kawasan Keraton Ratu Boko.

Kami dan wisatawan lain terjun melewati pintu penjaga dan naik beberapa anak tangga. Melewati koridor beratap pohon yang menjalar dan kursi-kursi taman. Sepintas, mirip sekali dengan koridor-koridor istana atau rumah pembesar di Eropa abad ke-8.

Ada taman yang sangat luas dengan saung-saung sebelum melewati gapura. Nah, view di antara sepasang gapura inilah yang menjadi spot paling cantik untuk foto-foto. Saya, anak-anak, dan si Bunda pun tak mau melewatkan moment narsis ini.

Di sebelah kiri gapura, ada bangunan bujur sangkar dengan ukuran 26M X 26M dan memiliki dua teras. Menurut info dari pengunjung, itu tempat pembakaran jenazah. Kurang lebih sepuluh meter dari tempat pembakaran ada batu berundak dan kolam yang digunakan untuk memandikan jenazah.

Brrr ….! Bulu kuduk mendadak merinding disko. Kalau tiba-tiba ada bayangan mayat muncul dari pembakaran atau ada suara memanggil-manggil tanpa wujud bagaimana? Buru-buru saya ajak anak-anak menuju bangunan sebelah kanan gapura.

Setelah melewati halaman yang cukup lapang, ada reruntuhan sepasang paseban (ruang tunggu). Paseban sebelah timur memiliki panjang 24.6M, lebar 13.3M, dan tinggi 1.16M. Sedang paseban sebelah barat memiliki panjang 24.42M, lebar 13.34M, dan tinggi 0.83 meter.

Kemudian ada reruntuhan pendopo istana yang mempunyai panjang 40,80M, lebar 33,90M, tinggi 3,45M. Konon, bagian dasar dan atap pendopo dahulu di kelilingi batu adesit dengan dinding berasal dari batu putih.

Setelah melewati pendopo, sampailah di keputren, tempat pemandian keluarga kerajaan. Pemandian ini dahulu menjadi salah satu sentral pengairan yang memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat sekitar.

Perjalanan mengunjungi Istana Ratu Boko berakhir di Gua Istana. Goa Wadon (Gua Perempuan) dan Goa Lanang (Gua laki-laki). Gua yang berada di bawah dinamakan Goa Wadon karena di sana ditemukan relief yang menggambarkan jasad perempuan (simbol Yoni) di depan pintu. Gua yang di atas dinamakan Goa Lanang karena ditemukan relief yang menggambarkan seorang laki-laki berada di atas bukit. Kedua gua tersebut dahulu digunakan sebagai tempat semedi.

Keraton Ratu Boko walaupun tak seterkenal Candi Prambanan, ternyata menyimpan kemegahan tersendiri. Struktur bangunan keraton yang bercorak Hindu dan Budha tersebut hampir mirip dengan struktur istana-istana di negara lain. Ini membuktikan, arsitektur dan sosiologi kemasyarakatan, masyarakat jawa jaman dahulu, sudah berkembang.

Sejenak saya menghirup udara Bukit Boko dalam-dalam, sekadar untuk melegakan perasaan. Udara terasa sejuk dengan aroma pegunungan dan bebatuan yang kental.

 

Candi Prambanan

Setelah puas melihat-lihat Keraton Ratu Boko, saya dan beberapa wisatawan kembali ke Candi Prambanan. Tepat di pintu masuk area candi, seluruh pengunjung disodori kain batik warna biru oleh penjaga untuk dipakai wisatawan.

Berdiri di pelataran depan candi rasanya luar biasa. Candi terlihat begitu cantik dan sakral. Ini pertama kali saya menginjakan kaki di sini. Saya yang sudah mengenal Candi Prambanan lewat literatur saja takjub luar biasa saat melihatnya, apalagi anak-anak. Mereka langsung berteriak-teriak kegirangan sambil berlari secepat mungkin untuk menelusuri seluruh bangunan candi.

“Kita boleh naik, Yah?” si Bungsu paling antusias, diikuti si Sulung.

“Ini beneran dari batu, Yah?” Rahma, anak kedua saya yang memang tingkat ke-kepo-annya luar biasa tidak yakin bangunan di depannya tersusun dari bebatuan.

“Iya, dari batu. Nanti setelah kita keliling candi, kita buktikan dengan nonton film dokumenternya, ya,” jelas saya beberapa saat kemudian.

Candi Prambanan terdiri dari tiga candi utama; Candi Wisnu, Candi Brahma, dan Candi Siwa. Ketiga candi tersebut menjadi lambang Trimurti (dalam kepercayaan Agama Hindu). Ketiga candi tersebut menghadap ke timur.

Setiap candi memiliki satu candi pendamping yang menghadap ke barat, sehingga saling berhadap-hadapan. Ada Candi Nandini yang berhadapan dengan Candi Siwa, Candi Angsa yang berhadapan dengan Candi Brahma, dan Candi Garuda yang berhadapan dengan Candi Wisnu.

Selain candi-candi tersebut, masih ada candi lainnya, yaitu dua candi apit, empat candi kelir, dan empat candi sudut. Pada halaman luar, yang mengitari candi utama terdapat kurang lebih 224 candi. Candi-candi di halaman luar tidak dipugar karena sudah tinggal puing-puing candi.

Dalam Candi Siwa yang bangunannya paling tinggi dan terletak tepat di tengah-tengah, ditemukan empat ruangan. Satu ruang utama berisi Arca Siwa dan tiga ruang lainnya berisi Arca Durga (Istri Dewa Siwa yang dikenal sebagai Roro Jongrang), Arca Agastya (Guru Dewa Siwa), dan Arca Ganesha (Putra Dewa Siwa). Arca Durga itulah yang disebut-sebut sebagai Roro Jonggrang yang mashur dalam legenda terjadinya Candi Prambanan.

Tak henti-henti, anak-anak berdecak kagum setiap menaiki candi dan melihat arca yang ada di dalam candi. Tingkat kekepoan mereka seolah tak terpuaskan sebelum menyentuh satu persatu arca yang ada di sana. Belum lagi pertanyaan demi pertanyaan yang mengalir seolah tanpa jeda.

Hampir satu jam saya dan anak-anak mengelilingi candi sekaligus menjelaskan panjang lebar candi-candi utamanya. Kelihatannya mereka sangat puas dan cukup untuk menambah pengalaman dan pengetahuan. Saya kemudian mengajak anak-anak keluar untuk beristirahat.

Dalam kawasan Candi Prambanan masih ada candi-candi lain yang bisa ditempuh dengan kereta yang disediakan pengelola wisata atau dengan menyewa sepeda. Kami lebih memilih menyewa sepeda untuk menyusuri beberapa destinasi lain seperti Candi Sewu, Candi Budha, dan Museum Purbakala.

Tanpa terasa, hampir tiga jam lebih berkeliling di kawasan Candi Prambanan, lelah tetapi sangat menyenangkan. Keluar kawasan kita membeli oleh-oleh dan mengisi perut di tempat makan yang menyediakan menu makanan jawa. Ada sayur asem, tempe, tahu, ikan, dan tentu saja pete dan jengkol. Ditambah ikan asin dan sambel terasi, makan siang terasa lahap sekali.

Kawasan Candi Hindu terbesar di Indonesia dan tercantik di Asia ini terletak di perbatasan bagian timur Jogjakarta dan Jawa Tengah. Tepatnya di wilayah administrasi Desa Bokoharjo, Prambanan, Sleman.  []

@KreatorBuku

Link blog:

http://www.alimuakhir.com/2015/08/nggak-percaya-candi-dari-tumpukan-batu.html

Penulis

Ali Muakhir

Twitter: @KreatorBuku

Artikel yang mungkin kamu suka