Home Lomba Blog KTF 2014 Manfaat Beda Definisi Traveler

Manfaat Beda Definisi Traveler

oleh

Membaca status yang diunggah oleh akun Kompas Travel Fair pada hari Kamis (12/9) lalu membawa ingatan ke liburan yang kami, saya dan suami, jalani sekitar tiga bulan silam. Waktu itu adalah pengalaman pertama kami ke Eropa, ke tanah yang selalu diimpikan oleh suami saya, Italia. Rencana liburan ini sudah kami tata sejak bulan Maret, dengan membeli tiket dan keperluan dokumen. Dari sini, segala yang kami lakukan menjadi relevan dengan tweet yang ditulis @KTravelFair mengenai tiga jenis traveler: socmed, sejati dan unlimited.

Suami saya adalah orang yang sangat berhati-hati, terencana, dan cenderung obsessive-compulsive terhadap rencana bepergian (travel plan). Sebelum kepergian kita ke Italia, suami sudah sibuk dengan googling informasi, unduh aplikasi, dan bahkan belajar bahasa lokal! Ia merancang itinerari berdasarkan keterjangkauan dan efisiensi biaya. Menyimak definisi dari @KTravelFair mengenai traveler sejati, rasanya ia bisa masuk ke dalam keranjang golongan ini.

Traveler sejati: pengetahuannya luas tentang tempat yang dituju.

Sementara saya lebih menganut paham “keep calm and carry on” sebagaimana slogan populer. Sebelum keberangkatan, misi utama adalah menyiapkan uang saku sefleksibel mungkin untuk nanti bisa sedikit leisure di Italia. Jauh-jauh menempuh puluhan ribu kilometer, apa salahnya bersenang-senang? Kita bicara mengenai surga belanja, kiblat mode, dan branded fashion! Kebetulan Milan adalah kota yang paling lama kita tinggali di Italia. Itinerari yang saya usulkan kepada suami adalah outlet fashion, restoran yang hip, dan area belanja. Apakah saya masuk ke keranjang ketiga kategori traveler @KTravelFair?

Traveler unlimited: si gila belanja yang punya budget unlimited saat berwisata.

Budget unlimited jelas tidak. Kami berdua sama-sama pegawai yang harus menyisihkan gaji demi impian berwisata. Gila belanja? Moderately. Dalam term yang positif, sebut saja saya punya kemampuan mengendus barang bagus yang undervalued. Yang jelas, beda karakter antara saya dan suami terbukti menjadi kisah seru dari petualangan kami di Italia.

Keseruan langsung terjadi kala kami transit di Kuala Lumpur International Airport (KLIA). Memberi waktu pada pergantian kru, maskapai memberi kami satu jam untuk berkeliaran di KLIA. Satu jam bagi suami adalah waktu yang singkat, cukup untuk ke toilet dan balik menunggu di boarding room. Bagi saya, enam puluh menit adalah waktu yang cukup lama untuk dibunuh dengan berkeliling. Seperti layaknya bandara internasional, tentu banyak outlet menarik untuk dijelajahi di KLIA. Tak jarang suami mulai panik ketika menit-menit jelang boarding, saya masih di counter pashmina.

Hal yang sama juga terjadi di Frankfurt, tempat transit kedua. Kali ini kami harus berganti pesawat dalam waktu sejam, yang harus juga disisipi aneka prosedur imigrasi masuk ke wilayah Schengen (Uni-Eropa). Dalam kondisi buru-buru, saya masih menyempatkan menengok kios-kios pretzel dan juga jajan salad dan kopi. Ini dilakukan kala suami berkeringat dingin mengatur proses perpindahan pesawat dengan ground crew yang berbahasa asing.

Setiba di Milan, saya menikmati persiapan yang dilakukan oleh suami. Budget yang ditekan mengharuskan mobilitas kami menggunakan alternatif transportasi paling murah, yaitu transportasi publik. Setiba dari bandara Linate, Milan, suami langsung menghampiri kios provider seluler lokal untuk berganti nomor. Ini juga pertimbangan ekonomis ketimbang membiarkan kondisi roaming merampas uang kami. Ia juga memastikan, dengan bahasa lokal yang dipelajarinya, bagaimana men-setting ponsel untuk bisa digunakan internetnya. Untuk hal ini kami berdua mungkin masuk ke dalam kategori lain traveler versi @KTravelFair.

Traveler socmed: saat travelling wajib untuk tetap eksis di dunia maya lewat Instagram, Twitter, Foursquare, dan Path.

Tak hanya social media (socmed) yang wajib aktif, aplikasi penunjang yang telah diunduh oleh suami juga bisa digunakan. Beberapa aplikasi seperti rute underground dan bis di Milan terbukti sangat berguna dalam menunjang mobilitas kami mencari hotel yang berada di penghujung kota (karena murah), atau mengakses Quadrilatero d’Oro, distrik fashion yang hip di pusat kota. Dengan sistem transportasi yang sangat baik dan terintegrasi, kami bisa mudah menentukan destinasi di Milan. Atas persiapan yang dilakukan suami, saya sempat kaget melihat lancarnya ia mengoperasikan mesin tiket otomatis untuk underground (metro) dan bis.

“Di YouTube banyak video mengenai penggunaan mesin tiket ini,” katanya.

Saya yang tak terlalu suka berjalan jauh juga mencicipi keuntungan dari mempunyai suami yang obsessive-compulsive (hampir samar dengan travel nerve, sebenarnya). Aplikasi yang sudah diunduhnya sangat membantu kami berpindah jalur bis untuk mencapai tujuan tanpa harus berjalan kaki lebih dari 500 meter. Termasuk ketika menemukan hotel tempat kami menginap. Padahal ketika saya booking hotel, pertimbangan utama dan satu-satunya adalah mengenai harga. Saya tak memperhatikan akses. Untung suami cukup siaga dan pada akhirnya tidak menyulitkan.

Setiba di hotel, kami berdiskusi mengenai itinerari. Objek wajib berupa atraksi turis sudah dihapal oleh suami. Ketika tiba di agenda belanja (dan kuliner), giliran saya yang memberi warna. Saya sudah membidik outlet dan barang tertentu sebagai suvenir yang akan kita cari di Milan. Demikian juga dengan tempat makan yang sudah saya persiapkan daftarnya, hasil menimbang ulasan orang di Trip Advisor dan semacamnya. Tugas suami adalah mencarikan cara untuk sampai ke sana, and everybody happy.

Kombinasi seperti ini terus berlanjut ketika kita menjelajah kota-kota lain di Italia, Venesia dan Verona. Dari sisi kekayaan khasanah wisata, perjalanan terasa lengkap karena objek-objek wajib (rata-rata bangunan bersejarah yang menjadi interes suami) bisa dikunjungi. Di sisi lain, kami juga merasa senang karena tetap bisa membawa pulang suvenir menarik dan merasakan makan di tempat-tempat yang meninggalkan kesan.

Tak lupa segala jejak itu kami tinggalkan juga di socmed, melengkapi kodrat kami sebagai homo socialmedia. Bukti-bukti berupa kehadiran kami di Duomo, Piazza San Marco, atau Arena Verona menjadi pelengkap cerita. Pengalaman mencicip calzone di atap mal pusat kota Milan, kebab di Verona, dan kios pasta-to-go di Venesia juga masih meninggalkan kesan di mulut kami. Sementara suvenir seperti patung malaikat berbahan kaca dari Murano, kacamata branded asal Rinascente, atau kaos asli Verona membuat orang lain bahagia. Kami menemukan definsi yang lucu ketika membaca status @KTravelFair mengenai jenis traveler.

Tak selamanya berbeda itu merugikan, no?

Penulis

Gina Priadini

Twitter : @ginapriadini

Artikel yang mungkin kamu suka