Kabar KTF 2014

Tips Berlibur Tanpa Batas

Jakarta, KOMPAS – Perhelatan wisata Kompas Travel Fair 2014 resmi ditutup, Minggu (28/9) di Jakarta Convention Centre, Jakarta. Terdapat lebih dari 60 perusahaan terkait wisata dan juga perbankan yang berpartisipasi dalam KTF 2014 kali ini yang mengambil tema “Start Your Unstoppable Journey”. Hingga menjelang penutupan, KTF 2014 dikunjungi hampir 39.000 pengunjung. Sebagai diferensiasi dengan acara »

Jakarta, KOMPAS – Perhelatan wisata Kompas Travel Fair 2014 resmi ditutup, Minggu (28/9) di Jakarta Convention Centre, Jakarta. Terdapat lebih dari 60 perusahaan terkait wisata dan juga perbankan yang berpartisipasi dalam KTF 2014 kali ini yang mengambil tema “Start Your Unstoppable Journey”. Hingga menjelang penutupan, KTF 2014 dikunjungi hampir 39.000 pengunjung.

Sebagai diferensiasi dengan acara travel fair lainnya, KTF 2014 juga mengadakan acara talkshow dengan berbagai macam tema terkait wisata. Salah satunya adalah yang diadakan oleh Kompas, yakni “Kompas Editorial Traveling Journey” yang menghadirkan pembicara dari perwakilan tiga profesi di Redaksi, yakni Wartawan (Elok Dyah Messwati), Fotografer (Iwan Setyawan) dan Perancang Desain Multimedia (Septa Inigopatria) yang akan membagi pengalaman menarik dari profesinya. Acara yang baru pertama kalinya diadakan ini, dibagi dalam tiga sesi yang akan bercerita mengenai catatan perjalanan keliling dunia masing-masing melalui storytelling, foto dan infografik.

Sesi pertama talkshow menjadi sesi menarik bagi pengunjung yang berminat mengenal dunia backpacker. Elok Dyah Messwati yang juga merupakan Founder Backpacker Dunia, sudah menjelajahi hampir 50 negara baik pribadi maupun karena urusan profesi, lantas membagi pengalamannya seputar traveling dengan biaya rendah. Membuka sesi perbincangan dengan video perjalanannya ke Santorini, Yunani, Ia pun lanjut menceritakan soal kontur wilayah, budaya lokal, destinasi turis favorit hingga wisata kuliner di beberapa destinasi unik yang bukan touristy.

“Bergaul dengan orang lokal akan memberikan pengalaman baru yang tak terlupakan”, ujarnya membagi tips traveling. Dana yang terbatas serta ketiadaan teman untuk menemani perjalanan, menjadi sebagian alasan orang berpikir panjang untuk berlibur. Namun, tidak bagi bagi dirinya, berbagai alternatif yang dapat dipertimbangkan para traveler untuk mengontrol budget antara lain menginap di hostel, memasak sendiri atau bertukar makanan dengan sesama penghuni hostel hingga saling meminjam tempat tinggal (couchsurfing) membuat berkeliling dunia bukanlah angan yang mustahil lagi.

Sesi berikutnya diisi oleh Septa Inigopatria yang merupakan seorang Pengarah Desain Multimedia di Harian Kompas. Mengawali karir sebagai desainer grafis yang bertugas membuat infografik untuk mendukung pemberitaan, ia kemudian bersama timnya baru saja dipercaya menerbitkan sebuah buku “Indonesia dalam Infografik” yang berisikan informasi bangunan-bangunan ikonik di Indonesia. Objek yang dijadikan infografik pun bisa berupa rumah adat, tempat bersejarah, tempat olahraga atau tempat yang banyak diminati khalayak.

Infografik sendiri pada dasarnya merupakan informasi yang disajikan dalam bentuk visual hingga menimbulkan efek seolah pembaca diajak “masuk” secara langsung mengenal bangunan tersebut tanpa harus pergi ke tempatnya. Terkait traveling sendiri menurutnya, “Tanpa kita sadari, sebenarnya infografik sangat dekat dengan dunia traveling, lihat saja buku-buku seri perjalanan yang sering kita jumpai di toko buku.”, ujarnya. Buku-buku tersebut selain memuat perihal jalur transportasi dan akomodasi, gambar-gambar bangunannya juga membantu para traveler dalam menentukan prioritas destinasi dari sekian banyak point of interest dalam suatu kota.

Dan pembicara pada sesi terakhir ialah Iwan Setyawan seorang Fotografer Kompas yang juga sudah berkelana ke berbagai tempat baik domestik maupun internasional. Pekerjaannya sebagai pewarta foto mewajibkannya untuk memperoleh hasil jepretan yang menarik dan sekaligus unik. Inilah yang kemudian mendorongnya untuk meluangkan waktu untuk jalan-jalan sekaligus tetap menunaikan pekerjaannya sebagai fotografer jurnalistik. Dalam sesi yang ia bawakan, ia berbagi tips mengenai hal apa saja yang harus dipersiapkan dalam memotret saat traveling dan juga angle atau momen menarik yang bisa diambil dengan kamera. Salah satunya ialah jangan lupa foto narsis selama perjalanan. “Percuma jauh-jauh kesana jika tidak selfie. Kan jadi gak ada buktinya kita ada disana,” tuturnya. Sambil tentunya juga mempersiapkan peralatan dengan baik seperti kartu memori serta baterai cadangan untuk berjaga agar tidak melewatkan momen terbaik.

Berjalannya waktu, profesi dapat membuka peluang bagi pihak yang menggeluti untuk juga sekaligus menekuni hobinya sambil menambah berbagai macam pengetahuan dan kenalan baru di berbagai tempat. Bahkan, dalam beberapa kasus dapat menghasilkan peluang bisnis baru. Bekerja di industri media yang sebagian besar waktunya dihabiskan di luar kantor sebagai pencari berita, tentu menjadi salah satu profesi yang membuka kesempatan luas untuk mengeksplorasi keindahan lokal berbagai wilayah di Indonesia maupun di luar negeri. Dan tanpa sadar, pengalaman yang mereka bagikan membuat siapapun yang mendengarnya seolah turut mendampinginya mengelilingi keindahan dunia yang tak pernah lekang oleh waktu. Seperti pepatah St. Augustine “The world is a book, those who do not travel read only a page”. Sampai jumpa di Kompas Travel Fair tahun depan! [Suly/Nesya].

Tertarik Mengikuti Perkembangan Kabar KTF 2014 Terkini?

Dengan mengklik “Ikuti Sekarang”, Anda telah menyetujui untuk memberikan alamat email pribadi dan mendapatkan email dari Kompaspedia setiap minggunya.

close