Eropa barat menjadi destinasi favorit wisatawan Tanah Air untuk liburan ke luar negeri. Bukan hanya budaya dan panoramanya yang menarik, tiap-tiap negara juga memiliki bangunan ikonis yang memiliki keunikan dan sejarah panjang. Berikut adalah sejumlah bangunan ikonis yang wajib Anda kunjungi saat melakukan wisata ke Eropa barat.

1. Air mancur Trevi

Nyaris setiap kota di Italia memiliki piazza yang berhiaskan air mancur. Namun, air mancur di ibu kota Italia, Roma, ini berbeda. Air mancur Trevi atau Fontana di Trevi memang lain. Ukurannya—dengan tinggi 85 kaki dan lebar 65 kaki—merupakan terbesar di seluruh Roma.

Air mancur yang terletak di Distrik Trevi ini dibangun pada pertengahan abad ke-15 ketika kebiasaan untuk membangun air mancur sebagai penanda ujung dari sebuah akuaduk. Air mancur ini dibangun untuk menandai akuaduk kuno, Acqua Vergine. Sayang, akuaduk ini dihancurkan oleh serangan pada abad ke-6. Berdasarkan perintah Paus, air mancur baru dibangun dan selesai pada 1762.

Menariknya, ada mitos di air mancur Trevi. Jika Anda melemparkan uang koin dengan tangan kanan melewati bahu kiri, Anda akan kembali Roma nanti. Itu sebabnya, kebiasaan ini menjadi salah satu hal yang wajib dilakukan saat mampir di air mancur Trevi.

2. Menara Eiffel

Bangunan ini sangat tersohor di seluruh dunia dan bukan hanya menjadi ikon Paris, tetapi juga Perancis. Setiap tahun, jutaan orang mengunjungi Menara Eiffel untuk melihat kota Paris yang indah dari ketinggian 275 meter lewat dek observasi. Tinggi keseluruhan menara 324 meter atau sekitar tinggi bangunan 81 lantai. Tak pelak, ia menjadi bangunan tertinggi di Paris.

Dibangun pada 1887-1889, menara ini merupakan pintu masuk ke dalam Pameran Duni (World’s Fair) 1889. Meski semula dikritik oleh sejumlah seniman kenamaan Perancis, tetapi belakangan Menara Eiffel kemudian menjadi ikon budaya global dan Perancis dan merupakan salah satu bangunan paling mudah dikenali di dunia.

3. Big Ben

Kunjungan ke ibu kota Inggris, London, belum lengkap jika belum melihat Big Ben. Ini adalah sebutan untuk lonceng besar yang pada jam yang terletak di ujung utara Istana Westminster. Kadang-kadang, nama tersebut merujuk pada lonceng berikut menara tempat jam tersebut. Padahal, menara tempat Big Ben semulai dinamai Menara Jam (Clock Tower), lalu kemudian diubah menjadi Menara Elizabeth pada 2012 untuk menandai perayaan intan Ratu Elizabeth II.

Menara ini didesain oleh Augustus Pugin dengan gaya neo-gotik. Saat selesai dibangun pada 1859, menara jam yang memiliki empat sisi dan lonceng berdentang ini merupakan yang terbesar dan paling akurat di dunia. Menara ini tegak berdiri setinggi 96 meter, sedangkan tiap sisi dasarnya memiliki panjang 12 meter. Sebutan Big Ben diperkirakan berasal dari nama Sir Benjamin Hall yang mengawasi pemasangannya. Ada juga yang berpendapat, sebutan itu berasal dari nama petinju kelas berat Benjamin Caunt.

Baca juga : Swiss Destinasi Impian

4. Manneke Pis

Konon, beratus-ratus tahun silam terjadi kebakaran besar di istana kerajaan Belgia. Tak dinyana, peristiwa ini dapat teratasi berkat perjuangan seorang anak kecil. Ia mampu memadamkan api dengan air seninya.

Boleh saja Anda menganggap cerita ini tidak masuk akal. Ini hanyalah salah satu dari banyak versi legenda Manneken Pis, patung perunggu anak kecil yang sedang berkemih ke dalam kolam air mancur. Patung ini dapat dijumpai lima menit jalan kaki dari Grand Place, di persimpangan Rue de l’Étuve dan Rue du Chêne, Brussels, Belgia

Patung yang asli dirancang oleh Hiëronymus Duquesnoy dan dipasang pada 1618 atau 1619. Patung yang sekarang dapat dilihat adalah tiruan yang dipasang pada 1965. Patung yang asli disimpan di Museum of the City of Brussels. Patung ini menjadi simbol masyarakat Brussels yang senang humor dan berpikir bebas.

5. Kincir Angin

Bangunan ini kerap melintas di pikiran saat menyebut nama Belanda. Salah satu tempat untuk menyimak  adalah di Zaanse Schans yang berada di tepi sungai Zaan di Zaandam, dekat Desa Zaandijk, Provinsi North Holland, Belanda. Jika berkunjung, jangan lupa berpose dengan latar kincir angin yang menjadi ikon kawasan tersebut.

Bangunan kincir angin bersejarah yang dapat dikenali dari warna kayunya yang hijau dipindahkan ke lokasi ini untuk menghadirkan suasana abad ke-18 dan 19. Di Museum Zaans, pengunjung dapat menjumpai pakaian masyarakat setempat dan cara pembuatan cokelat. Di tempat kerja para seniman, pengunjung juga dapat menyimak pengerjaan kriya unik yang terbuat dari kayu. [ACA]