Home Lomba Blog KTF 2014 WISATA BUDAYA KE MADURA YANG LUAR BIASA

WISATA BUDAYA KE MADURA YANG LUAR BIASA

oleh

madura3

Saat sedang menjaga putri bungsu saya, Alya, yang sedang sakit Typhus di rumah sakit Harapan International Cikarang di pekan pertama Desember 2013, mata saya “tertancap” di situs Potret Mahakarya Indonesia, yang menampilkan nama saya sebagai salah satu dari 4 pemenang Grand Prize Kompetisi Blog yang dilaksanakan selama 10 minggu berturut-turut tersebut untuk berwisata budaya ke Madura .Saya memang berhasil memenangkan kompetisi blog di minggu kesembilan dan memang sama sekali tidak memiliki ekspektasi tinggi bisa memenangkan hadiah Grand Prize mengingat peserta kompetisi blog ini cukup banyak serta memiliki kualitas tulisan yang bagus pula. Makanya saya nyaris tak percaya atas apa yang saya lihat di monitor laptop!. Sampai-sampai sempat mengucek-ngucek mata, siapa tahu hanyalah ilusi optik belaka :). Tapi benar. Ini nyata. Saya memekik kecil dengan riang seraya mengepalkan tangan. Impian saya akan terwujud!.

Sudah lama sebenarnya saya memendam keinginan untuk mengeksplorasi lebih dalam suasana tradisi dan budaya di Madura yang konon memiliki karakter masyarakatnya nyaris sama dengan karakter khas masyarakat Makassar yang terkesan keras, berani dan dinamis. Saya jadi ingat Pak Koyyim, pengelola limbah kayu di kantor lama saya di PT Nofmas Chemical Industries Cibitung 13 tahun silam. Lelaki asal Bangkalan Madura ini saya kenal dekat karena biasanya mengambil kayu bekas yang kerap dipakai untuk support barang import didalam kontainer. Kayu-kayu bekas ini digunakan dan diolah Pak Koyyim menjadi furniture berkualitas tinggi di rumahnya yang sederhana di Tambun, Bekasi.

Beliau pernah menghadiahkan saya sebuah lemari kecil yang indah hasil buatan tangannya sendiri sesaat sebelum saya keluar dari perusahaan tersebut. “Ini lemari saya buat sendiri buat sampeyan, gak usah bayar, sebagai nang-kenangan supaya sampeyan sekeluarga biar bisa ingat terus sama saya, dan siapa tahu bisa sampeyan berkunjung ke kampung saya di Bangkalan, Madura,” kata Pak Koyyim dengan senyum tulus serta logat khasnya, dan tak pernah terlupakan hingga kini. Harapan Pak Koyyim–dan juga kemudian jadi harapan saya itu, kemudian bisa terwujud. Saya akhirnya bisa melancong ke Madura.

Dan demikianlah. Hari Jum’at pagi, 13 Desember 2013, Pukul 04.30, saya sudah tiba di Terminal 2F Bandara Soekarno Hatta. Saya sengaja datang lebih awal, karena trauma ketinggalan pesawat seperti yang pernah saya alami sebelumnya saat mengikuti acara Blogger Nusantara di Yogyakarta akhir November silam. Setelah check in, saya lalu berjumpa dengan teman-teman yang akan ikut di Gate 7. Saya melihat ada salah satu pemenang lomba ini Daeng Ipul Gassing, juga ada juri lomba blog mas Barry Kusuma dan Simbok Venus serta budayawan muda mas JJ Rizal. Selain kami juga ada Pak Bram Kushardjanto beserta timnya dari GELAR Cultural Trip yang akan memandu kami selama perjalanan ke Madura, juga teman-teman media (Koran Sindo, Kompas, Media Indonesia dan Majalah Panorama). Tak lama kemudian, muncul salah satu pemenang lomba lainnya, mas Danan Wahyu Sumirat. Travel Blogger yang pernah memenangkan lomba blog ADIRA Face of Indonesia ke Wamena tahun 2012 ini tiba dari Jambi sehari sebelumnya, dan langsung memperkenalkan dirinya kepada kami.

Pesawat Garuda Indonesia GA 304 menuju Surabaya berangkat tepat waktu pukul 06.10 pagi. Saya duduk di kursi 36-C dan berdampingan dengan mas Barry Kusuma. Saya lalu berdiskusi dengan fotografer handal ini tentang perkembangan dunia blog di Indonesia sepanjang perjalanan. Tanpa terasa setelah menempuh waktu sekitar 1 jam 20 menit, kami akhirnya tiba di Bandara Djuanda Surabaya. Ada begitu banyak perubahan signifikan pada Bandara yang terakhir saya kunjungi tahun 2011 silam saat menjadi narasumber di acara Blogilicious di UPN Veteran Surabaya.  

BbVhhBkCUAA3hC_.jpg largeDi Bandara Djuanda, kami bertemu dengan seorang pemenang lomba blog lainnya, mbak Nengbiker yang datang dari Malang. Rombongan kami yang berjumlah 23 orang kemudian bergerak menuju bis yang tersedia tak jauh dari lobi depan Bandara. Sudah lama sebenarnya terpendam keinginan untuk melihat langsung Jembatan Suramadu yang fenomenal dan kali ini dalam perjalanan darat menuju Madura, keinginan saya akhirnya kembali terpenuhi. Setelah melalui jalanan yang macet kurang lebih 1,5 jam, kami akhirnya sampai pula di jembatan Suramadu, yang memiliki panjang 5.438 m, dan merupakan jembatan terpanjang di Indonesia saat ini. Jembatan Suramadu menyediakan empat lajur dua arah selebar 3,5 meter dengan dua lajur darurat selebar 2,75 meter. Jembatan ini juga menyediakan lajur khusus bagi pengendara sepeda motor disetiap sisi luar jembatan. Saya begitu terpesona menyaksikan Jembatan yang diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tanggal 10 Juni 2009 ini dengan takjub dari atas bis.

madura6

madura12Rencana semula, kami bermaksud makan siang di Bebek Sinjai, salah satu kuliner paling terkenal di Madura. Sayang sekali, rumah makan tersebut tutup di Hari Jum’at. Akhirnya, rombongan kami mampir di Restoran Bebek Songkem Pak Salim di Bangkalan. Di tempat ini, Bebek Songkem disajikan dalam 2 varian, yaitu dikukus dan digoreng. Tidak hanya Bebek, restoran ini juga menyediakan Ayam kukus dan goreng. Seperti diungkapkan di tautan ini pembuatannya sangat unik dan istimewa:

Proses pembuatan bebek songkem ini relatif sederhana. Pertama kita harus memilih bebek yang akan kita sembelih. Usia yang lebih pas untuk dibuat bebek songkem adalah usia sekitar dua bulan. Kemudian bebek yang sudah disembelih dicuci bersih dan diberi bumbu yang terdiri dari lombok, garam, bawang merah dan bawang putih. Lalu ulekkan bumbu dioleskan ke seluruh daging bebek di luar dan dalam, Selanjutnya bebek dibungkus dengan daun pisang dan diikat erat agar aromanya menyatu saat dilakukan pengukusan. Daging bebek yang sudah dibungkus tersebut, kemudian dimasukkan kedalam bak yang di dalamnya telah diberi potongan pelepah daun pisang. Selanjutnya daging bebek dikukus selama 3-4 jam tanpa diberi air, agar daging dan bumbunya betul-betul meresap dan daging bebek menjadi empuk. Proses pembuatan bebek songkem ini dilakukan pada pagi hari.

madura7Rasa bebek Songkem ini memang sungguh nikmat menggoyang lidah. Sensasinya makin terasa lengkap dengan sambal mangga dan nasi yang hangat. Tekstur bebeknya terasa lembut dengan bumbu-bumbu yang meresap hingga ke daging. Di warung makan terbuka ini, kami merasakan semilir angin alami yang menerpa saat menyantap makanan. Sungguh sebuah pengalaman kuliner yang mengasyikkan.

BbVz_D2CQAAYTYT.jpg largeSetelah puas menuntaskan kuliner bebek Songkem Pak Salim, kami lalu bergegas naik kembali ke atas bis. Disana ada ibu Yeli, dari Dji Sam Soe Potret Mahakarya Indonesia menyampaikan kata sambutan sebelum kami melanjutkan perjalanan ke Tanjung Bumi. Seperti yang pernah beliau ungkapkan dalamBlogger Gathering awal November silam, Cultural Trip ini diberikan secara ekslusif kepada 4 orang pemenang terbaik lomba blog Potret Mahakarya Indonesia untuk melakukan perjalanan ke destinasi wisata pilihan di Indonesia. Madura menjadi dijadikan target perjalanan kali ini karena merupakan salah satu daerah di Indonesia yang memiliki kekayaan dan keunikan budaya yang menarik untuk dicermati.

Diharapkan, lanjut Bu Yeli, seusai perjalanan ini, tidak hanya menambah wawasan pengetahuan tentang khazanah budaya Madura, namun juga dituliskan dan dibagikan kembali di blog masing-masing sebagai bagian dari promosi kepariwisataan. Setelah itu giliran Pak Bram dari GELAR menceritakan secara sekilas destinasi kunjungan berikutnya yakni Batik Gentongan khas Madura di Tanjung Bumi Bangkalan. Pak Bram juga membagikan hand-out yang menjadi referensi bacaan kami diperjalanan seputar kegiatan Cultural Trip ini.

Wah, bakal lebih seru lagi nih tujuan selanjutnya, saya membatin dalam hati.

“Misteri” Batik Gentongan Madura

madura65

Perjalanan kami para peserta Cultural Trip Potret Mahakarya Indonesia terus berlanjut. Setelah makan siang di Bebek Songkem Bangkalan, bis yang kami tumpangi terus melaju menuju Tanjung Bumi. Sambil duduk di pinggir jendela, saya menikmati setiap detik perjalanan menyenangkan ini. Paduan antara kehijauan sawah, padang sabana, biru laut di pesisir pantai, menjadi pemandangan yang saya saksikan dari balik kaca jendela bis. Cuaca hari Jum’at (13/12) memang sungguh sangat bersahabat sehingga saya dapat menikmati panorama dengan lebih leluasa. Kurang lebih 1,5-2 jam perjalanan kami tempuh sampai akhirnya bis yang kami tumpangi memasuki gerai Zulfah Batik.

Kami diterima dengan ramah langsung oleh sang pemilik Zulfah Batik, Pak Alim ditemani sang isteri tercinta, di sebuah paviliun yang menjadi semacam ruang pamer batik, tak jauh dari rumah induk yang lumayan megah. Beliau kemudian menjelaskan bahwa budaya membatik merupakan warisan leluhur yang diturunkan secara turun temurun, dari generasi ke generasi. Tanjung Bumi terletak di pesisir pantai, mempunyai sejarah yang lekat dengan perkembangan batik itu sendiri. Dahulu, sambil menunggu sang suami pulang berlayar ke negeri yang jauh, para perempuan Tanjung Bumi menghabiskan waktu luangnya dengan membatik.

 

madura21

“Mereka melakukannya dengan sepenuh hati, tak dipaksa-paksa oleh tenggat waktu, sehingga kualitas batik yang dihasilkan betul-betul cantik, halus dan paripurna,” kata pak Alim yang sebelumnya berprofesi sebagai seorang trainer ini.sampai kemudian secara serius menekuni industri batik di rumahnya. Para pencinta batik sangat menggemari batik asal Tanjung Bumi dimana tak hanya memiliki motif yang indah, kuri (motif penutup latar) dan retakan batiknya yang khas, namun juga proses pembuatannya yang memakan waktu cukup lama membuat harga batik Tanjung Bumi relatif lebih tinggi. Batik Gentongan memiliki ciri khas warna-warna yang lugas, tegas, menyolok dan berani dengan corak beragam. Saya menyaksikan koleksi batik Gentongan di lemari ruang pamer Zulfah Batik yang memiliki variasi warna serta motif yang bermacam-macam dan mempesona.

madura28madura43

Proses pembuatan Batik Gentongan cukup unik. Tahap pertama adalah Rengreng yaitu proses membentuk format motif pada batik. Dibutuhkan waktu 3-7 hari untuk menghasilkan proses ini pada sehelai kain. Waktu yang dibutuhkan lebih cepat dari waktu Rengreng batik Jawa karena motif batik Madura cenderung besar-besar dan jarang. Seusai mengerjakan motif besar kemudian dilanjutkan dengan kuri atau motif kecil dan menjadi latar motif utama. Membuat Kuri cukup rumit karena terdiri dari beberapa motif dan dikerjakan secara berulang setiap kali proses pewarnaan.

Essean merupakan proses selanjutnya dimana ini merupakan proses mengisi motif, biasanya membutuhkan waktu 1 bulan, tergantung kehalusan motif yang diinginkan. Nebbeng menjadi proses berikut setelah Essean yakni proses menutup motif yang tidak ingin diberi warna pada proses pewarnaan pertama dan dibutuhkan waktu 3-7 hari untuk me-nebbeng. Tahapan selanjutnya adalah Sereben yaitu proses pewarnaan latar. “Ini sangat berbeda dengan proses pewarnaan batik konvensional, karena proses pewarnaan dilakukan dengan cara disikat. Cairan pewarna dilumuri diatas kain kemudin disikat dengan sabut kelapa agar warna bisa menyerap ke serat kain,”kata Pak Alim menjelaskan.

madura27

madura46

Setelah tahapan proses pewarnaan selesai, kain ini dimasukkan untuk direndam ke dalam gentong besar. Sebelumnya kain batik perlu di-lorot (atau diluruhkan “malam”-nya). Perajin batik Madura memiliki resep rahasia untuk memudahkan proses melorot yaitu mencampurkan kanji ke air mendidih, kanji ini kemudian akan mengikat malam dari batik sehingga membentuk ampas dan mudah untuk disaring.Cara ini menghemat air lorot hingga dapat digunakan sampai beberapa kali pelorotan.

madura52

Memasukkan kain batik ke dalam gentong merupakan bagian dari proses pewarnaan utama. “Ciri khas batik gentongan adalah warnanya justru semakin cemerlang dan tak akan pudar, walau sudah dicuci berkali-kali. Ini karena proses pewarnaan yang dilakukan secara intens dan berulang termasuk proses pewarnaan utama didalam gentong,”tambah Pak Alim. Beliau kemudian menjelaskan bahwa harga batik Gentongan Tanjung Bumi memang mahal karena dibuat secara hati-hati, lama dan halus, menggunakan pewarna alam serta memperhatikan kualitas.  ”Agak sulit memang membedakan batik Gentongan yang diwarnai dengan bahan kimia dengan yang asli lewat pewarna alami karena secara sekilas dari pandangan mata awam warnanya nyaris serupa. Ini kembali pada kejujuran masing-masing pedagang. Batik Gentongan asli warnanya semakin cemerlang seiring waktu, tidak malah semakin pudar,” ujar Pak Alim.

madura62

“Saya merasa sangat beruntung memilih saat yang tepat ketika pertama kali memutuskan terjun ke dunia batik Gentongan di tahun 2008. Saat itu kesadaran masyarakat untuk melestarikan batik kian tinggi, apalagi setahun sesudahnya UNESCO memutuskan Batik menjadi warisan budaya Indonesia yang diakui dunia. Klaim Malaysia yang menyatakan Batik sebagai warisan budaya mereka semakin menambah semangat masyarakat Indonesia untuk mati-matian mempertahankan dan melestarikan Batik. Dengan dibukanya Jembatan Suramadu, Alhamdulillah, pemasaran batik kami juga semakin berkembang pesat,” kisah Pak Alim sambil mengobrol santai di depan halaman rumahnya. Dengan ramah pak Alim juga menawarkan kepada kami menyantap mangga muda yang dipetik di kebunnya.

madura58“Kami memiliki 55 motif batik yang tercatat rapi di katalog kami. Dan setiap motif tidak persis sama karena mempunyai ciri khas masing-masing. Goresan tangan yang menorehkan garis diatas kain tentunya juga ikut menentukan kualitas dari batik ini. Kami menjalin sinergi bersama warga sekitar, khususnya ibu-ibu yang memiliki keterampilan menggambar, mengisi motif dan mewarnai. Dengan memberdayakan mereka, maka industri batik gentongan Tanjung Bumi kita bisa kembangkan secara bersama-sama,” ujar Pak Alim. Sayangnya, saat saya menanyakan apakah galeri Zulfah Batik pak Alim ini memiliki website atau blog yang menayangkan profil dan produk mereka secara online, sampai saat ini belum ada. Padahal di era cyber seperti sekarang, hal ini menjadi niscaya terlebih ketika produk Batik Gentongan Tanjung Bumi ini berniat untuk meraup pasar yang lebih luas dan mendunia.

Pukul 14.30 siang rombongan kami pamit dari ruang galeri Zulpah Batik sekaligus rumah Pak Alim sekeluarga. Kesan mendalam yang saya dapatkan adalah tradisi membatik berkualitas tinggi yang dilakoni Pak Alim beserta pengrajin batik Gentongan di Tanjung Bumi merupakan salah satu wujud Mahakarya tradisional negeri kita yang layak dilestarikan eksistensinya.

“Hebohnya” Pagelaran Seni Tari Di Tengah Sawah

DSCN7584Senja melingkupi ibukota Kabupaten Sumenep saat rombongan Cultural Trip Potret Mahakarya tiba. Bis yang membawa kami memasuki halaman hotel C1 tempat kami kelak akan menginap. Saya menyempatkan diri meluruskan pinggang setelah duduk di kursi bis selama kurang lebih 2,5 jam sejak berangkat dari Tanjung Bumi. 

Selain hotel C1, ada hotel Family Nur yang letaknya berseberangan juga digunakan sebagai tempat menginap rombongan kami. Kebetulan saya diberikan tempat satu kamar bersama mas Danan Wahyu–salah satu pemenang lomba blog Potret Mahakarya–dikamar 26. Saat memasuki kamar, kami berdua sempat saling berpandangan bingung, soalnya tempat tidur yang tersedia adalah King Bed berukuran besar bukan Single Bed terpisah. “Wah, jangan sampai tempat tidurnya roboh nih ditempati kita berdua,” kata saya berseloroh mengingat badan kami berdua sama-sama montok menggemaskan :).

Setelah mandi dan berpakaian, kami segera menuju ke Hotel Family Nur dengan berjalan kaki. Disana sudah tersedia hidangan makan malam dengan kuliner khas Madura yang luar biasa : Kaldu Kokot !. Terus terang ini pertama kalinya saya melihat penampakan kaldu yang terdiri atas campuran daging dan kikil dengan santan kental plus kacang hijau.

DSCN7539

Tampilan kaldu Kokot ini sungguh sangat mengundang selera. Tak ayal, dalam waktu singkat, sayapun segera menghabiskan seporsi kaldu Kokot bersama 5 potong lontong dan sebuah kroket sebagai hidangan makan malam. Yang sangat mengesankan adalah, didalam Kaldu Kokot ini terdapat rebusan kacang hijau yang kian menambah sensasi keunikan kuliner khas Madura ini. Tak lama kemudian kawan-kawan dari Komunitas Blogger Madura, Plat M, tiba di ruang makan Hotel Family Nur dipimpin oleh mas Wahyu Alam dan mas Slamet. Mereka akan ikut bersama rombongan kami untuk menikmati pagelaran tari topeng Sumenep di desa Selopeng Kecamatan Rubaru.

DSCN7572

Karena jalanan yang tidak memadai dilalui oleh bis di desa Selopeng, kami menggunakan 6 mobil beriringan. Dari hotel tempat kami menginap, lokasi acara tari topeng kurang lebih 20 km. Sekitar pukul 20.30 malam, rombongan kami tiba. Rupanya daerah tempat pelaksanaan acara ini berada di pelosok desa dan diselenggarakan di tengah sawah. Mobil kami melintasi jalan kecil di kampung yang gelap dan hanya pas untuk dilewati satu mobil saja. Sama sekali tak bisa dilalui bila berpapasan dengan kendaraan dari arah depan. Perhelatan akbar ini dilaksanakan setiap setahun sekali sebagai ekspresi rasa syukur dan selamatan memasuki musim penghujan.

DSCN7546

Untuk menuju ke lokasi pertunjukan, kami berjalan kaki menyusuri pematang sawah yang agak basah dan becek. Sebuah panggung besar terpacak megah dengan tulisan besar “Rukun Perawas” pada bagian atasnya. Tepat didepan panggung sejumlah pemusik gamelan siap mengiringi tarian. Rencananya, tepat pukul 22.00 malam acara akan dimulai dengan 16 babak pertunjukan semalam suntuk (hingga pukul 04.00). Para penonton yang terdiri dari masyarakat seputar desa Selopeng mulai ramai berdatangan. Pesta rakyat setahun sekali ini memang merupakan salah satu daya tarik tersendiri sebagai sarana hiburan di kampung. Saya bersama teman-teman kemudian menuju ke belakang panggung menyaksikan persiapan pertunjukan.

DSCN7565

DSCN7557

Dibelakang panggung nampak 2 orang penari lelaki sedang ber-make-up disaksikan sejumlah orang. Disamping kedua penari ini, ditata rangkaian jenis topeng yang akan dipakai untuk menari nanti. Topeng dipahat dari balok kayu untuk mendapatkan bentuk muka,hidung,mata dan sebagainya kemudian digambar dan diukir mengikuti pola gambar dengan piol (celurit mini), kemudian proses penghalusan dan pengecatan. Watak tokohnya tergambar dari motif gambar di topeng. Misalnya, watak halus digambarkan dengan mata yang sipit, watak keras dengan mata yang lebar, sementara topeng dengan warna dasar merah menggambarkan watak jahat dan warna putih untuk watak baik. Warna dasar lain juga ada misalnya warna hijau untuk kaum Janoko atau satria dan warna hitam untuk tokoh suci atau para dewa.

DSCN7594

Kami lalu mendengarkan cerita Pak Merto seorang Maestro seni wayang topeng Sumenep yang berusia 50 tahun. Beliau bercerita bahwa grup tari topeng Rukun Perawas ini beranggotakan 35 orang yang terdiri atas penari, grup musik gamelan (pengrawit) dan kru panggung. Rukun Perawas berdiri sejak tanggal 9 September 1659. Pada setiap pertunjukan grup ini membawa 43 topeng untuk dipentaskan, 6 topeng diantaranya merupakan topeng tua yang usianya sudah ratusan tahun. Pak Merto mengaku membuat topeng untuk keperluan grup tarinya ini sendiri, bersama sang sepupu Pak Soleh. Khusus kepada topeng warisan, Pak Merto melakukan perlakuan spesial dengan ritual mengasapi topeng tersebut setiap malam selasa dan malam jum’at.

Tanpa terasa pertunjukan pun dimulai. Saya dan kawan-kawan bergegas menuju depan panggung dan ikut berbaur bersama penonton sambil duduk lesehan diatas tikar yang disediakan. Lampu diredupkan. Suara membahana sang presenter terdengar dari sound system canggih yang dipasang disekeliling panggung. Yang menarik adalah, efek cahaya warna-warni yang dipancarkan ke arah panggung berasal dari proyektor yang dikendalikan oleh laptop oleh operator yang duduk di dekat kami. Sungguh sebuah paduan mengagumkan antara seni tradisional dan teknologi komputer :) .

DSCN7597

DUERR !! . Tiba-tiba kami semua tersentak kaget. Suara petasan menggelegar seiring suara bariton sang presenter selesai menyampaikan acara. Saya sempat mengelus dada terkejut dan saya melihat mas Wahyu Alam dan mas Slamet tertawa terpingkal-pingkal dibelakang menyaksikan kehebohan pengantar pertunjukan ini. Iringan musik gamelan terdengar kian cepat. Layar pertunjukan terangkat perlahan-lahan. Tarian pertama berjudul Gambu Tameng dipertunjukkan oleh seorang penari Pria dengan luwes dan gagah. Disusul kemudian tari Klono yang menampilkan dua penari pria dengan gerakan lebih atraktif dan dinamis.

DSCN7612

Saya terpukau menyaksikan pertunjukan tari topeng Rukun Perawas ditengah sawah ini. Saat melirik kesamping, saya melihat seorang lelaki tua dengan pakaian batik, kopiah dan sarung begitu serius menyaksikan adegan-adegan diatas panggung, nyaris tak berkedip. Setiap pergantian tari, kembali sang presenter dengan suara yang cettar membahana plus ledakan petasan yang mengakhirinya, menceritakan secara singkat tarian yang akan dipersembahkan. Biasanya narasi disampaikan dalam bahasa Madura, namun karena kehadiran kami dari luar daerah, narasi cerita disampaikan dalam bahasa Indonesia. Sungguh sebuah pentas seni tradisional yang unik dan sangat menghibur. Sayangnya kami semua tak bisa mengikutinya hingga selesai. Pukul 23.30 malam, rombongan kami pamit dan kembali ke hotel.

Kemegahan Keraton & Pesona Masjid Jami’ Sumenep

1477530_10152058681558486_1333993779_n

Matahari bersinar cerah, hari Sabtu (14/12), saat kami semua berkumpul di ruang makan Hotel Family Nur Sumenep. Badan saya relatif sudah terasa lebih segar, seusai sarapan dan tidur cukup setelah perjalanan panjang dari Surabaya, ke gerai batik gentongan Tanjungbumi hingga menonton pertunjukan tari topeng khas Madura tadi malam. Pagi itu, sebelum mengunjungi Keraton Sumenep, serta beberapa destinasi wisata budaya lainna, kami berkumpul sejenak untuk mendengarkan sharing dari budayawan muda mas JJ Rizal yang juga ikut dalam rombongan kami serta jumpa pers bersama teman-teman media.

Dibuka oleh mbak Adinda Kuntoro, perwakilan Dji Sam Soe-Sampoerna Group, pertemuan ini berjalan penuh nuansa kekeluargaan.Beliau mengungkapkan bahwa acara Cultural Trip ini diselenggarakan sebagai bagian dari kegiatan kompetisi foto dan blog Potret Mahakarya Indonesia. Selama 10 minggu berturut-turut sejak September 2013, dilaksanakan lomba blog yang mengambil inspirasi foto 24 finalis lomba foto Potret Mahakarya Indonesia. Pada minggu terakhir dipilih 4 blogger terbaik yang akan mengikuti acara Cultural Trip ke destinasi wisata budaya di Madura. Keempat blogger tersebut itu adalah saya, Dwi Ariyani alias Neng BikerSyaifullah Daeng Gassing dan Danan Wahyu Sumirat.

Hadiah perjalanan wisata budaya ini sebagai bentuk apresiasi kepada para blogger serta diharapkan kelak mereka bisa menuliskannya kembali di blog masing-masing dan dibagikan secara luas kepada publik sebagai bagian dari upaya promosi wisata nusantara, khususnya daerah Madura. Pada kesempatan itu pula hadir Bapak Yasin Tofani Sadikin Brand Manager PT HM Sampoerna, Tbk yang khusus datang dari Jakarta tadi malam untuk mengikuti kegiatan ini.

Setelah itu tampil budayawan muda mas JJ Rizal yang juga adalah penggiat di Komunitas Bambu yang menjelaskan tentang perpaduan budaya Jawa, Cina, Arab bahkan Eropa membentuk kebudayaan Madura. “Ini terlihat jelas pada pementasan tari topeng Madura semalam termasuk corak batik yang khas seperti yang telah kita saksikan di Tanjung Bumi. Asimilasi atau perpaduan budaya ini membentuk kebudayaan Madura menjadi sosok yang unik dan khas,” kata JJ Rizal. Setelah mas JJ Rizal, ada mbak Venus–salah seorang juri lomba blog Potret Mahakarya Indonesia–yang menjelaskan bahwa blogger berada di garda paling depan sebagai duta bangsa yang mempromosikan destinasi wisata dan budaya Indonesia melalui tulisan-tulisan online di blog mereka. Olehnya itu, tambahnya lagi, seusai kompetisi foto Potret Mahakarya Indonesia diselenggarakan lomba blog yang menjaring apresiasi para blogger dengan tulisan yang berasal dari inspirasi foto para finalis.

BbaXzKkCAAI4hGr.jpg large

Di kesempatan berikutnya, fotografer terkenal, Barry Kusuma, yang juga adalah salah seorang juri lomba blog Potret Mahakarya Indonesia mengungkapkan bahwa Madura sebenarnya memiliki potensi wisata dan budaya yang sangat kaya namun sayangnya kurang banyak mendapat promosi yang intens. “Saya berharap agar dengan event ini, para blogger dan media yang ikut bisa membantu untuk mempromosikan wilayah ini dengan cara masing-masing, termasuk dengan foto,” kata Barry dengan mata berbinar.

Rombongan Cultural Trip Potret Mahakarya Indonesia ke Madura kali ini mendapat kejutan menggembirakan. Masing-masing dari kami memperoleh hadiah Jam Tangan G-Shock Casio. Saya menerima hadiah tersebut secara simbolis yang diserahkan langsung oleh bapak Yasin Tofani Sadikin.

BbaZxooCEAASI7q.jpg large

Acara selanjutnya adalah Jumpa Pers. Rekan-rekan media yang hadir bersama rombongan kami memberikan sejumlah pertanyaan kepada kami berempat sebagai pemenang Grand Prize lomba blog Potret Mahakarya. Saya sempat menceritakan artikel di blog saya yang berhasil memenangkan kompetisi ini, termasuk perjuangan saya untuk tetap “ngotot” berpartisipasi menulis sampai 6 artikel, hingga berakhir manis : menang di minggu kesembilan dan berhasil meraih hadiah Grand Prize Cultural Trip ke Madura.

DSCN7633Rombongan kami kemudian bergerak menuju Keraton Sumenep dengan menggunakan bis. Disana, kami disambut hangat oleh Pak Tadjul Arifin, sejarawan Sumenep yang juga telah menulis sejumlah buku. Beliau menjelaskan, Keraton Sumenep dibangun pada tahun 1780 di desa Pajagalan pada era Pemerintahan Panembahan Sumolo.Arsitek yang merancang bangunan keraton berasal dari etnis Cina bernama Lauw Piango, cucu Lauw Khunting, salah satu dari 6 orang Cina pertama yang datang dan menetap di Sumenep sejak melarikan diri dari huru hara di Semarang tahun 1740. Meski sudah tak dihuni lagi oleh raja, keluarga sampai para abdinya, bangunan keraton yang sudah berusia lebih dari dua abad ini tetap terjaga kelestariannya.

Seperti dikutip dari Wikipedia:

Keraton Sumenep berdiri di atas tanah milik pribadi Pangeran Natakusuma I (Panembahan Somala) (sebelah timur keraton lama milik Ratu R. Ayu Rasmana Tirtanegara). Kompleks bangunan Karaton Sumenep lebih sederhana dari kompleks Karaton kerajaan Mataram, bangunannya hanya meliputi Gedong Negeri, Pengadilan Karaton, Paseban, dan beberapa bangunan Pribadi Keluarga Karaton.

Di depan keraton, ke arah selatan berdiri Pendapa Agung dan di depannya berdiri Gedong Negeri (sekarang Kantor Disbudparpora) yang didirikan oleh Pemerintahan Belanda. Konon, Pembangunan Gedong Negeri sendiri dimaksudkan untuk menyaingi kewibawaan keraton Sumenep dan juga untuk mengawasi segala gerak-gerik pemerintahan yang dijalankan oleh keluarga Keraton. Selain itu Gedong Negeri ini juga difungsikan sebagai kantor bendahara dan pembekalan Karaton yang dikelola oleh Patih yang dibantu oleh Wedana Keraton.

Disebelah timur Gedong Negeri tersebut berdiri pintu masuk keraton Sumenep yaitu Labang Mesem. Pintu gerbang ini sangat monumental, pada bangian atasnya terdapat sebuah loteng, digunakan untuk memantau segala aktifitas yang berlangsung dalam lingkungan keraton. Konon jalan masuk ke kompleks keraton ini ada lima pintu yang dulunya disebut ponconiti. Saat ini tinggal dua buah yang masih ada, kesemuanya berada pada bagian depan tapak menghadap ke selatan. Pintu yang sebelah barat merupakan jalan masuk yang amat sederhana. Di bagian pojok disebelah timur bagian selatan Labhang Mesem berdiri Taman Sare (tempat pemandian putera-puteri Adipati) dimana sekelilingnya dikelilingi tembok tembok yang cukup tinggi dan tertutup.

Sedangkan di halaman belakang keraton sebelah timur berdiri dapur, sebelah barat berdiri sisir (tempat tidur para pembantu keraton, emban, dayang-dayang Puteri Adipati), di sebelah barat terdapat sumur. Di depan sumur agak ke arah barat berdiri Keraton Ratu R. Ayu Rasmana Tirtanegara, dan di depannya berdiri pendapa. Namun pada jaman pemerintahan Sultan Abdurahman Pakunataningrat pendapa tersebut dipindahkan ke Asta Tenggi dan disana didirikan Kantor Koneng. Pembangunan Kantor Koneng (kantor kerajaan/adipati) semula mendapat tentangan keras oleh pemerintah Hindia Belanda karena hal tersebut bertentangan dengan peraturan pemerintah saat itu. Namun, untuk menghindari tuduhan tersebut maka Sultan beninisiatif untuk mengubah seluruh cat bangunan tembok berwarna kuning selaras dengan namanya yaitu “kantor koneng” (bahasa belanda :konenglijk=kantor raja/adipati). Pada Masa Pemerintahan Sultan Abdurrahman, kantor Koneng difungsikan sebagai tempat rapat-rapat rahasia para pejabat-pejabat tinggi Karaton. Di sebelah selatan Kantor Koneng, di pojok sebelah barat pintu masuk berdiri pendapa (paseban).

DSCN7660

Pada mulanya antara keraton dengan pendopo letaknya terpisah. Namun, pada masa pemerintahan Sultan Abdurrahman Pakunataningrat, kedua bangunan tersebut dijadikan satu deret. Dahulu, Paseban (pendopo ageng) difungsikan sebagai tempat sidang yang dipimpin langsung oleh sang Adipati dan dihadiri oleh seluruh pejabat tinggi karaton yang waktunya dilaksanakan pada hari-hari tertentu. Paseban sendiri diurus oleh mantri besar dan dibantu oleh kebayan.

DSCN7662

DSCN7661

Kami lalu menyusuri ruangan demi ruangan Keraton Sumenep. Memang sangat terasa sentuhan budaya Cina, Arab, dan Eropa di struktur bangunan, pilar-pilar besar maupun pada lekuk ornamen-ornamennya. Bubungan atap dengan model melengkung pada bagian ujung nampak mirip dengan bentuk bangunan Tionghoa. Terdapat pula ukiran Burung Hong yang merupakan lambang kemegahan bangsa Cina nampak terlihat pada beberapa bagian.

Di pendoponya yang asri dan teduh saya melihat pintu ruangan utama keraton berdiri kokoh dengan ukiran indah dan unik. Sebuah pohon beringin yang rindang berada disisi kirinya. Pada dinding tembok pendopo terpampang sebuah lambang Keraton berpigura emas dengan simbol naga dan kuda sembrani serta mahkota raja yang menjadi lambang Kadipaten Sumenep tahun 1811-1965. Museum keraton Sumenep ini menampilkan sejumlah peninggalan bersejarah seperti guci keramik, koleksi peralatan upacara tradisional, keris, kereta kencana, kotak ramuan jamu, keris, tombak perang, peralatan pertanian kuno dan lain-lain. Tidak ketinggalan pula sejumlah koleksi arca sisa dari kerajaan hindu di Sumenep.

Saya sempat menanyakan asal-usul nama Sumenep pada pemandu wisata kami di Keraton. Konon berasal dari kata Songenep. Dalam bahasa Madura, Songenep adalah gabungan dari kata Lesso dan Nginep. Dimana dalam bahasa Indonesia Lesso berarti lelah dan nginep berarti bermalam. Jadi, bisa dikatakan, setelah kita melakukan perjalanan ke kota ini maka dianjurkan untuk bermalam, dengan begitu kita bisa menjadi lebih segar seusai beristirahat serta memiliki kesempatan mengeksplorasi kekayaan wisata serta Budaya di Sumenep.

1506246_10152058917543486_347252591_o

DSCN7649

Saat memasuki museum saya mendapat penjelasan dari pemandu tentang sebuah Kitab Suci Al-Qur’an yang ditulis tangan sendiri oleh Sultan Abdurrahman hanya dalam waktu semalam. Raja Sumenep ke-30 yang menguasai 10 bahasa itu memang dikenal cerdas, bijaksana dan memiliki kemampuan luar biasa khususnya di bidang kesusastraan. Kitab Suci Al-Qur’an yang ditulis beliau diletakkan dalam sebuah kotak kaca dan kami hanya bisa melihat dari luar saja.

Sultan Abdurrahman sebagai kepala pemerintahan yang disegani dan mendapatkan bintang jasa dari Kerajaan di Daratan Eropa karena hasil karyanya yang gemilang. Beliau mendapatkan tanda jasa Letter Condige dari T.Stamford Raffles dari kerajaan Inggris karena kemampuannya menerjemahkan batu bertulis yang ditemukan di Bali dari Bahasa Sansekerta ke dalam Bahasa Inggris, sehingga dijadikan acuan dalam penulisan buku “History of Java” oleh Raffless. Selain itu Sultan yang memerintah pada tahun 1811-1854 ini mendapatkan bintang “Commandeur der Order Vander Nederlandsche Leeuw” dari Gubernur Jenderal Van Der Capellen dari Belanda.

DSCN7669

Saya kemudian beranjak menuju lokasi pemandian putri Keraton Taman Sare. Air dari Taman Sare ini berasal dari air tanah dengan tiga tangga dan masing-masing mempunyai khasiat/kekuatan yang berbeda. Tangga pertama konon bisa membuat seseorang awet muda dan enteng jodoh serta mudah mendapatkan keturunan saat mencuci muka disana, tangga kedua dipercaya mampu meningkatkan karir maupun kepangkatan, tangga ketiga adalah meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Mustahil meraih semuanya tanpa kerja keras dan usaha yang tekun,”kata pemandu kami sambil tersenyum. Saya melihat sejumlah ikan menghuni lokasi kolam pemandian ini.

DSCN7698

Dari Keraton Sumenep kami kemudian bergerak menuju Masjid Agung Sumenep yang merupakan salah satu dari sepuluh Masjid tertua di Indonesia. Masjid ini dimulai pembangunannya pada tahun 1779 M dan selesai pada tahun 1787 M oleh Panembahan Sumolo. Letaknya tak jauh dari Keraton Sumenep dan berada ditengah-tengah kota. Akulturasi desain nampak jelas pada bagian gerbangnya dengan pilar-pilar besar nan kokoh bergaya ala Benteng Romawi Kuno dipadu dengan ornamen ala Tiongkok. Arsitektur Masjid ini merupakan perpaduan budaya Arab, Jawa, Eropa dan Cina. Warna kuning yang dominan menghiasi Masjid Jami’ Sumenep sungguh indah dan mempesona.

DSCN7691

Kami tiba di lokasi Masjid Jami’ Sumenep bertepatan dengan waktu sholat Dhuhur. Saya dan teman-teman kemudian menunaikan sholat di Masjid eksotis dan bersejarah itu. Masjid Jami’ Sumenep ini adalah masjid kedua yang dibangun oleh keluarga keraton, dimana sebelumnya kompleks masjid berada tepat di belakang keraton yang lebih dikenal dengan nama Masjid laju yang dibangun oleh Kanjeng R. Tumenggung Ario Anggadipa, penguasa Sumenep XXI. Didalam mesjid terdapat 13 pilar yang begitu besar yang mengartikan rukun sholat.

DSCN7688

 

Pada pelataran depan Masjid Jami’ terdapat prasasti yang ditulis tahun 1806M.  Penulisan prasasti tersebut juga bertepatan dengan ditetapkannya Pangeran Abdurrachaman Tirtodiningrat putra Panembahan Somala sebagai Nadir Wakaf sebelum beliau naik tahta menjadi Adipati Sumenep XXXII. Adapun isinya adalah:

Masjid ini adalah baitullah, berwasiat Pangeran Natakusuma penguasa Negeri/Karaton Sumenep. Sesungguhnya wasiatku kepada orang yang memerintah (penguasa) dan menegakkan kebaikan. Jika terdapat masjid ini sesudahku (keadaan) aib, maka perbaiki. Karena sesungguhnya masjid ini adalah wakaf, tidak boleh diwarisi dan tidak boleh dijual, dan tidak boleh dirusak.

Seusai menunaikan sholat, saya memandang kemegahan Masjid Jami’ Sumenep ini dengan decak kagum. Hati saya tergetar dan sangat bersyukur memiliki kesempatan mengunjungi masjid tua namun masih terpelihara bagus ini. Wasiat yang diamanahkan benar-benar dilaksanakan dengan baik dengan tetap menjaga serta melestarikan kekayaan mahakarya budaya leluhur secara intens dan konsisten

Eksotisme Asta Tinggi & Sentra Perajin Keris Sumenep yang Mengesankan

DSCN7792

Seusai menunaikan Sholat Dhuhur di Masjid Jami’ Sumenep, rombongan kami kemudian bergerak ke kompleks Pemakaman Raja-Raja Sumenep dan kerabatnya, Asta Tinggi, yang ditempuh kurang lebih 10 menit dengan bis. Asta Tinggi berdiri pada tahun 1644 M dan berada di desa Kebun Agung, 2,5 km arah Barat kota Sumenep. Lokasi ini berada di dataran tinggi dan direncanakan awalnya oleh Panembahan Somala lalu dilanjutkan pelaksanaannya oleh Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I dan Panembahan Natakusuma II. Sebuah gerbang besar berwarna kuning hijau menyambut kedatangan kami di bagian depan. Saya jadi teringat kompleks pemakaman Raja Gorontalo, Hubulo yang juga berada di dataran tinggi saat saya kunjungi tahun lalu.

Seperti diuraikan dalam buku “Asta Tinggi” karya Tadjul Arifin R yang diterbitkan oleh Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupeten Sumenep, Kompleks Asta Tinggi dibagi menjadi 7 (tujuh) kawasan yakni Kawasan Induk yang terdiri atas 4 ruang/blok berisi 3 cungkup antara lain Cungkup Tumenggung Wirasekar dan Pangeran Pulangjiwo disebelah utara atau belakang, Cungkup Pangeran Jimat dan kerabatnya di depan dan Cungkup Bindara Saud, Ratu Tirtonegoro beserta kerabatnya di sebelah timur cungkup pangeran Jimat. Sementara itu Ruang/blok II terletak di sebelah timur bagian utara berisi cungkup berkubah adalah kuburan keturunan Bindara Saud. Di Ruang/blok III terletak di bagian barat berisi pendopo Bindara Saud sebagai prasasti tanpa tulis dalam peristiwa Patih Pulangjiwo. Dan yang terakhir Ruang/Blok IV terletak di sebelah timur bagian selatan  yang merupakan halaman utama juga disini terletak pintu gerbang utama untuk masuk ke kompleks Asta Tinggi. Ruang ini menghubungkan pada ruang III dan I, dengan melalui pintu gerbang bagian barat, dan menuju pada ruang II, dengan melalui pintu gerbang bagian utara.

 

DSCN7738

DSCN7703

Kawasan berikutnya adalah Kawasan Kuburan Kiyai Sawunggaling yakni seorang tokoh di zaman pemerintahan Ratu Tirtonegoro yang membela Bindara Saud kala mendapat ancaman dari Patih Purwonegoro. Kawasan ketiga adalah cungkup Patih Mangun seorang Patih yang wafat terkena meriam pasukan Inggris saat akan masuk ke Sumenep.

DSCN7705

Kawasan keempat adalah kompleks pekuburan Kanjeng Kiyai Raden Adipati Suroadimenggolo Bupati Semarang dan mertua Sultan Abdulrahman. Kawasan kelima adalah kuburan Raden Adipati Pringgoloyo sebagai Patih pada masa pemerintahan Panembahan Sumolo dan Sultan Abdurrahman. Kawasan keenam adalah kuburan mantan Patih Sumenep Raden Tjakrasudibyo dan terakhir atau kawasan ketujuh yaitu kawasan kuburan Raden Wongsokoesumo.

DSCN7710

DSCN7717

Eksotisme bernuansa religi sangat kental terlihat saat kami berkunjung disini. Di sebuah pendopo besar nan teduh terdapat rombongan anak-anak dari sebuah taman kanak-kanak dibimbing sang guru dengan takzim membacakan ayat-ayat Al Qur’an secara bersama-sama. Memasuki kawasan Induk ternyata lebih ramai lagi. Rombongan peziarah yang jumlahnya saya perkirakan mencapai 200-an orang begitu antusias mendatangi kompleks makam raja-raja Sumenep ini untuk berdoa guna mendapatkan berkah.

DSCN7713

Arsitektur bentuk makam juga relatif unik khususnya makam-makam tua yang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Hindu. Pengaruh kebudayaan Tiongkok terdapat pada beberapa ukiran yang berada pada kubah makam Kanjeng Tumenggung Ario Tirtonegoro, makam Kanjeng Tumenggung Ario Cokronegoro III dan makam Pangeran Pulang Djiwo. Selain itu pengaruh Arsitektur Eropa mendominasi bangunan kubah makam Sultan Abdurrhaman Pakunataningrat I dan Makam Patih Mangun yang ada diluar Asta induk. Dalam kawasan kubah makam Sultan Abdurrahman Pakunataningrat I, Seluruh bangunannya dipengaruhi gaya arsitektur klasik, kolom-kolom ionic masih dipakai dibeberapa tempat termasuk juga pada Kubah Makamnya.

DSCN7741

Hujan mengguyur kawasan Asta Tinggi saat kami meninggalkan daerah tersebut. Kami berganti kendaraan dari bis menuju mobil yang lebih kecil karena mesti melalui jalan kampung di desa Aeng Tong-Tong yang merupakan sentra perajin keris terkemuka di Sumenep. Kurang lebih 20 menit, sampailah kami di desa tersebut. Kami disambut ramah dan disiapkan makan siang ala kampung yang sangat lezat. Mulai dari nasi jagung, ayam goreng, udang goreng, kuah cumi, plus sambal terasi dan lain-lain. Sungguh sebuah sajian yang menggugah selera terlebih saat suasana dingin seusai diguyur hujan. Tak ayal dua piring nasi dan lauknya pun ludes saya “sikat” :)

DSCN7746

Setelah itu kami mendengarkan penjelasan dari bapak Fathur Rahman sebagai koordinator paguyuban pengrajin keris Mega Remang. Filosofi nama paguyuban ini diambil dari legenda masa lalu Madura yakni nama Kuda Terbang yang dikendarai oleh ksatria Joko Tole. Sentra produksi Keris di Sumenep ini termasuk yang terbesar di Indonesia dan secara turun temurun diwariskan sejak 3 abad silam. Menurut beliau sentra produksi Keris di Sumenep tersebar di 3 kecamatan yaitu Bluto, Saronggi, dan Lenteng. Di 3 kecamatan tersebut menyebar pada 14 desa. Khusus di kecamatan Bluto sendiri terdapat 345 perajin, di kecamatan Saronggi terdaftar perajin mencapai 169 orang. Di Lenteng umumnya dilakukan proses Penempaan awal (kodo’an) yang merupakan cikal bakal bahan keris. Pandai besi disana melaksanakan penempaan dengan cara tradisional.

DSCN7743

Adalah Pak Morkak yang menjadi inspirator berkembangnya pelestarian kerajinan keris di daerah ini dengan “menyambungkan” pengetahuan pembuatan keris dari empu-empu terdahulu dengan generasi sekarang sejak tahun 1963 di desa Aeng Tong-Tong. Perkembangan industri Keris kian maju pesat. Berkat jasa beliau, akhirnya oleh Kementerian Kebudayaan dan Industri Kreatif, pada tanggal 30 November silam dinobatkan sebagai maestro keris Indonesia.

Keris Madura memiliki lok atau lekuk sejumlah 3 sampai 17. Bahkan ada pula yang mencapai 99 lok. Paling digemari keris dengan 11 atau 13 lok. Sangat berbeda dengan keris Jawa yang bermotif polos dan tak banyak ukiran, keris Madura justru begitu sarat dengan ukiran indah baik di besi kerisnya sendiri hinggawarangka (gagang) maupun sarungnya.

DSCN7774

Saya terkagum-kagum menyaksikan lekuk keris Madura dengan ukiran indah pada tepian gagangnya, termasuk sepuhan emas berkilau pada tangkai keris. Saya membayangkan tingkat kesulitan pembuatannya yang tentu membutuhkan keterampilan tersendiri.Warangka atau gagang bisa terbuat dari kayu atau gading. Pak Fathur Rahman menunjukkan beragam gaya keris yang dibuat pengrajin disana, mulai dari gaya Bali, Mataram hingga Bugis. Kreatifitas mereka dalam membuat keris sungguh memukau.

Ukiran yang tersaji sangat halus dan dibuat dengan kualitas tinggi. Tak heran bila keris buatan pengrajin disini memiliki harga yang mahal dan laris hingga ke pasar mancanegara. Semakin detail dan sulit pengukirannya termasuk sentuhan akhirnya, maka kian mahal pula harganya. Banyak kolektor keris memesan sendiri desain dan sentuhan akhir sesuai keinginannya, misalnya pada bagian gagang mesti dilapisi emas 22 karat atau 24 karat.

DSCN7790

Saya bersama rombongan kemudian menyaksikan langsung 4 perajin keris di desa tersebut sedang bekerja. Mereka mengerjakannya secara manual dan sesekali dibantu oleh mesin gerinda penghalus jika dibutuhkan. Saya melihat salah seorang pembuat keris mengerjakan dengan tekun ukiran pada gagang keris secara terperinci hingga garis-garis terkecil dengan pahatnya. Pembuatan keris kerapkali melalui ritual tersendiri. Bila seseorang memesan keris maka biasanya diminta tanggal lahirnya agar kelak bisa dilakukan “sinkronisasi” batin dengan keris yang dipesannya itu.

Menjelang petang, kami mengakhiri kunjungan ke sentra perajin keris di desa Aeng Tong-Tong dengan meninggalkan kesan indah. Karya keris buatan anak bangsa dari Sumenep ini sungguh membanggakan dan menjadi potensi yang bisa diandalkan tak hanya meraih devisa dari hasil penjualannya namun juga menghadirkan hasil karya budaya adiluhung yang sangat mengagumkan.

Kemeriahan Upacara Petik Laut & Dahsyatnya Jamu Madura!

1501261_10152061110298486_506449893_o

Hujan yang mengguyur kawasan Sumenep dan sekitarnya, Sabtu (14/12), seusai dari sentra pengrajin Keris di desa Aeng Tong-Tong membuat kami terpaksa mengurungkan niat untuk berkunjung ke salah satu destinasi wisata disana : pantai Cemara Udang. Apa boleh buat karena kondisi cuaca tidak memungkinkan kami sepakat untuk membatalkan kunjungan kesana dan memilih untuk beristirahat di kamar hotel masing-masing.

Pukul 19.30, kami kembali berkumpul bersama-sama di Hotel Family Nur untuk kemudian menuju Cafe JBL yang letaknya tak jauh dari hotel kami untuk makan malam. Sesampai disana, ternyata hidangan sudah disiapkan di meja. Nampak sajian Tomyam, Udang Goreng Tepung, Ikan Bakar, Tumis Kangkung, serta kuliner bernuansa Seafood lainnya terhidang dan membuat kami tak sabar untuk segera menyantapnya :)

 

BbcrenICAAEBeGh.jpg large

967195_10152060675213486_1101250514_o

Setelah menikmati hidangan makan malam yang lezat, kami mendengarkan kata sambutan dari bapak Yasin Tofani Sadikin selaku perwakilan PT HM Sampoerna, Tbk selaku penyelenggara kegiatan Cultural Trip Potret Maha Karya Indonesia menyatakan kegembiraannya atas pelaksanaan acara yang baru pertama kali dilaksanakan ini dalam rangkaian kegiatan Potret Maha Karya Indonesia.

“Dengan perjalanan wisata budaya seperti ini, kita akan semakin banyak mendapatkan pengalaman dan wawasan mengenai kekayaan khasanah budaya Indonesia, khususnya dari Madura,”kata beliau. Di saat yang sama itu pula, disampaikan kejutan (lagi) yang menyenangkan, bahwa kami, keempat blogger terbaik dari kompetisi blog Potret Mahakarya Indonesia berhak mendapatkan hadiah berupa Kamera Canon EOS 650D dan Laptop Acer Slim V5, dan saat itu sedang dalam tahap pengiriman ke alamat masing-masing.

BbcrJKWCcAAU29m.jpg large

Alhamdulillah. Saya sangat bersyukur atas anugerah luar biasa ini. Mendapatkan kesempatan berwisata budaya ke Madura saja sudah merupakan berkah tersendiri yang begitu mengesankan dalam perjalanan karir saya sebagai blogger, apalagi mendapatkan hadiah tambahan saat pulang ke Cikarang nanti. Seusai kata sambutan, dilanjutkan dengan acara santai yaitu bernyanyi diiringi organ tunggal. Saya ikut menyumbangkan suara dengan menyanyikan lagu “Biarlah Bulan Bicara” dan “My Way” sementara mas Danan menyumbangkan suara dengan lagu “Butiran Debu”. Oya, menjelang akhir acara, Pak Bram dari GELAR membagikan goodie bag kepada kami semua. Yang menarik adalah selain berisi majalah TAMASYA dan kaos ala Madura, terdapat pula obat ramuan madura untuk kesehatan seksual salah satunya adalah “Tongkat Wasiat” !. Wow !

DSCN7803

Keesokan harinya, Minggu (15/12), seusai sarapanpagi, kami bergegas check-out dari hotel dan menuju ke bis. Pukul 08.15 kami meninggalkan kota Sumenep dan beranjak menuju Pamekasan. Kami akan menuju ke desa Padelegan, Pamekasan dimana sedang diadakan acara Rokat Tasek atau Petik Laut yang merupakan tradisi ungkapan rasa syukur masyarakat nelayan pesisir kepada Tuhan Yang Maha Esa atas Rezeki dan keselamatan.

Setelah menempuh kurang lebih 1,5 jam perjalanan, kami tiba di desa Padelegan. Konon upacara Rokat Tasek ini diselenggarakan dua tahun sekali dan saat kami tiba adalah prosesi pesta perayaan yang sangat meriah. Acara larung berkah dengan melepas 40 jenis sesaji baru akan dilaksanakan keesokan harinya sebagai ekspresi rasa syukur dan berterimakasih pada alam. Rombongan kami menyaksikan kemeriahan upacara pembukaan Rokat Tasek antara lain ada musik Daul yakni musik perkusi dengan irama atraktif dan dinamis. Para pemusik berada disebuah kendaraan hias dengan warna meriah beraneka ragam. Masyarakat datang berduyun-duyun menyaksikan pesta rakyat ini.

893064_10152061111383486_1363906933_o (1)

DSCN7833

Tiba-tiba muncul barongsai hitam dan penari topeng menambah semarak suasana. Tariannya kocak dan sungguh menggoda. Para pengunjung berebut memberikan saweran kepada sang barongsai melalui mulutnya. Semakin banyak sawerannya, semakin heboh goyangannya, bahkan hingga jungkir balik segala. Sangat menghibur. Kami memang tak bisa lama-lama berada disana karena mesti ke Bandara Djuanda Surabaya untuk kembali ke Jakarta dengan pesawat sore. Sambil berjalan kaki menuju bis, kami sempat singgah memotret sejumlah kapal-kapal nelayan yang dihias warna-warni indah berlabuh di pelabuhan kecil di pinggir pantai desa Padelegan. Mereka bersiap membawa persembahan yang akan dilarung ke tengah laut. Para penjual makanan dan minuman termasuk mainan anak-anak ikut meramaikan upacara ini dengan menggelar dagangan mereka disekitar lokasi.

DSCN7862

DSCN7853

Dari desa Padelegan, bis yang membawa kami beranjak menuju kota Pamekasan. Disana kami mengunjungi gerai Jamu Tradisional “Mahkota Madura” yang diasuh oleh ibu Fachruzah. Peracik jamu tradisional ini mengaku mendapatkan keahliannya secara turun temurun selama bertahun-tahun. Tidak hanya meracik jamu, ibu Fachruzah juga menjual bahan-bahan pembuat jamu di gerainya yang mungil.

“Bila jamu-jamu di Jawa banyak menggunakan bahan “Temu” maka di jamu Madura banyak menggunakan bahan Manjakani sebagai material dasar jamu,”kata ibu Fachruzah. Jamu yang dijual sangat bervariasi namun konon kata ibu Fachruzah jamu yang jadi “best seller” di gerainya adalah jenis jamu kuat serta jamu kesehatan reproduksi wanita. Banyak pelanggan ibu Fachruzah berasal dari luar kota Madura, bahkan ada yang berasal dari Jakarta maupun mancanegara. Khasiatnya yang dahsyat meningkatkan gairah dan vitalitas menjadi ikon dari ramuan jamu Madura. Sejumlah kawan membeli jamu racikan ibu Fachruzah sebagai buah tangan untuk dibawa pulang.

Dari gerai jamu “Mahkota Madura”, kami mampir membeli oleh-oleh khas Madura disalah satu toko di Pamekasan. Setelah itu kami kemudian melanjutkan perjalanan ke Bandar Udara Djuanda Surabaya. Diatas bis saya sempat menyampaikan ucapan terimakasih atas nama pribadi dan juga teman-teman blogger yang ikut dalam perjalanan ini, kepada penyelenggara kegiatan Potret Maha Karya Indonesia Dji Sam Soe PT HM Sampoerna Tbk serta pemandu kami dari GELAR Cultural Trip atas pengalaman yang luar biasa selama melakukan perjalanan wisata budaya ke Madura. Semoga bisa berjumpa pada kesempatan-kesempatan lainnya.

Saat pesawat Garuda Indonesia GA 325 mengangkasa menuju ke Jakarta, rasa senang dan bahagia membuncah di dada. Perjalanan Wisata Budaya Potret Mahakarya Indonesia ke Madura kali ini, meski waktunya begitu singkat, namun telah menorehkan kenangan mendalam di hati. Saya didera kekaguman yang luar biasa pada kekayaan dan keindahan budaya bangsa Nusantara khususnya di Madura dan rasanya ingin berseru lantang dengan penuh haru dan rasa bangga : Damn, I Really Love My Country !! 

 

Penulis

Amril Taufik Gobel

Twitter : @amriltg