Banyak orang berkunjung ke Singapura. Seandainya belum pernah maka bisa jadi mengunjungi Singapura masih sebatas rencana saja. Singapura memang memiliki banyak daya tarik sehingga membuat banyak orang ingin mengunjungi negara yang luasnya tidak berbeda jauh dengan luas DKI Jakarta ini. Ada yang ingin ke Singapura untuk bertamasya mengisi waktu liburan. Hal yang wajar mengingat tiket penerbangan Jakarta-Singapura semakin murah dari tahun ke tahun. Ada juga yang ke Singapura untuk berobat. Sebagian yang lain pergi ke Singapura untuk berobat dan sebagian sisanya bepergian ke Singapura dengan alasan untuk berbelanja.

Ada pun saya pergi ke Singapura dengan tujuan mengisi waktu luang sebelum menghadiri suatau konferensi yang kebetulan diadakan di Malaysia. Waktu itu saya pergi bersama dengan 3 orang teman. 2 lelaki dan 1 perempuan menjadi teman yang menyenangkan selama perjalanan tak terlupakan ini. Terbang dari Jakarta pada pagi hari, rencana yang disusun adalah menghabiskan waktu dari siang hingga malam di negara dengan pelabuhan yang sangat sibuk ini. Pertimbangannya adalah Singapura adalah negara dengan biaya hidup yang cukup tinggi sehingga semakin lama berada disana kemungkinan uang yang dihabiskan akan lebih banyak. Dengan pertimbangan itu lah kami berempat bersepakat untuk tidak menginap di Singapura.

Sesampainya di Singapura kami menyadari beberapa keadaan yang sebelumnya tidak sempat kami pikirkan. Pertama, belum satu pun di antara kami pernah ke SIngapura. Hal ini berarti kami harus menentukan sendiri tujuan tanpa mengetahui dimana lokasi dan cara untuk mencapainya. Kedua, karena terlalu sibuk mempersiapkan diri menghadiri konferensi tak satu pun dari kami merencanakan hendak berwisata dimana selama di Singapura. Namun disitulah letak keseruan yang akhirnya kami peroleh kemudian.

Tanpa ada rencana kami harus melatih kemampuan kami dalam membuat keputusan. Dengan keterbatasan waktu sebelum hari konferensi kami musti berfikir hendak jalan-jalan kemana dan kapan akan meninggalkan Singapura. Langkah yang kami ambil adalah bertanya ke warga lokal seputar transportasi di Singapura. Dengan kemampuan Bahasa Inggris yang terbata-bata kami berhasil mengetahui cara menggunakan MRT (semacam kereta cepat). Dengan MRT inilah kami berkeliling Singapura. Tujuannya tidak lain dan tidak bukan adalah Marina Bay. Sebuah spot foto yang selama ini hanya bisa kami saksikan di internet. Setelah salah turun dan terpaksa berjalan kaki agak jauh demi menghemat ongkos sampai lah kami di depan Marina Bay. Keindahan arsitektur yang begitu megah membuat kami tidak henti-hentinya berdecak kagum sebelum akhirnya berfoto di depannya. Tampak perahu melintas di atas danau tak jauh dari sana. Sebenarnya kami sangat ingin mencoba menaiki perahu tersebut namun keterbatasan biaya membuat kami berhenti menginginkannya.

Waktu terus berlalu dan perut kami pun mulai lapar. Sudah berjam-jam lamanya setelah santap terakhir di Jakarta. Berbekal informasi yang kami dapatkan, kami menuju restoran cepat saji yang menyediakan menu murah versi Singapura (akan menjadi mahal jika dihitung menggunakan kurs rupiah). Kami makan siang dan kembali memikirkan tujuan kami berikutnya yang mana kami memutuskan untuk pergi ke masjid. Meski tidak terlalu religious kami merasa perjalanan ini tidak akan pernah terjadi tanpa campur tangan Tuhan. Maka kami pergi ke masjid dan menunaikan shalat wajib disana.

Saat hari beranjak kami menikmati suasana Singapura yang dipenuhi hingar binger cahaya. Membuat kami ingat akan Jakarta dan mendadak ingat suasana rumah. Namun perjalanan harus dilanjutkan. Berkikutnya kami akan meninggalkan Singapura menuju Malaysia. Berbekal pesan dari ibu-ibu yang kami temui di stasiun, kami pergi ke Golden Mile Complex untuk memesan tiket bus ke Kuala Lumpur. Singapura yang indah dan penuh kenangan harus kami tinggalkan malam itu juga.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari perjalanan singkat ke SIngapura yang kami lakukan beberapa waktu yang lalu. Traveling membuat kami sadar bahwa dunia ini begitu luas dan begitu menarik untuk dikelilingi. Bergitu beragam budaya di luar sana yang mengisi dunia dan menjadikannya semakin menarik untuk dipelajari. Kami sadar dan mengerti bahwa antar umat manusia sudah selayaknya bekerja sama dan tolong menolong. Karena pada dasarnya manusia tidaklah bisa hidup sendiri.

Oleh : Saad Fajrul Aziz

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting