Home Lomba Blog KTF 2014 Berkelana di Yordania : Cherry yang ceria

Berkelana di Yordania : Cherry yang ceria

oleh

Bukan Jepang atau Korea, melainkan negara-negara Timur Tengah yang menjadi destinasi impian saya selama ini.

Sedikit banyak cita-cita saya berwisata ke negeri padang pasir akibat dari dongeng masa kecil, diantaranya kisah Aladin dalam kisah ‘Seribu Satu Malam’. 
Latar belakang kisah tentang negeri penuh misteri dan eksotisme ala Timur Tengah akhirnya membawa saya dua dekade setelahnya berpetualang ke Yordania.

Yordania merupakah sebuah negara di kawasan yang berbatasan langsung dengan Mesir, Syria, Saudi Arabia, dan daerah konflik Palestina-Israel.
 Tersohor dengan warisan situs arkeologikal purba di Petra, Yordania juga dikenal sebagai tanah suci.
 Banyak paket tur dari Indonesia memasukkan Yordania sebagai bagian dari perjalanan tanah suci (atau ‘Holyland tour’).
Saya sendiri memilih menginjakkan kaki di Yordania tanpa mengikuti paket tur seperti ini.  Berbekal tiket promo murah dari sebuah maskapai penerbangan dan ransel yang setia menemani, saya pun berangkat menuju Timur Tengah.

Petualangan saya dimulai dari kota Amman, ibu kota kerajaan Yordania.
Memang bentuk negara ini masih berupa kerajaan dan kursi kekuasaan diwariskan ke generasi berikutnya.
 Hari pertama di Amman saya bertemu seorang sahabat yang lama tinggal di Jerman untuk bergabung dalam petualangan ini.
Keesokan harinya kami berkenalan dengan seorang pemuda asal Irak yang akan berlibur di Yordania.
 Ahmed, nama teman baru kami tersebut, ternyata seorang dokter gigi yang pernah mengenyam pendidikan di negara Eropa Timur. Selain fasih berbahasa Arab (bahasa ibunya) dan bahasa Inggris, dia juga menguasai bahasa Rusia. 
Merasa cocok satu sama lain, Ahmed memutuskan bergabung dengan kami dalam perjalanan ini.
Sedang kami tentunya sangat diuntungkan dengan kehadiran Ahmed, yang kemampuan bahasa Arab-nya ampuh menghindarkan kami dari berbagai modus penipuan selama di Yordania.

Beberapa tempat yang kerap dikunjungi turis selama di Yordania adalah Amman, Jerash (ibu kota Yordania kuno), Laut Mati, sungai Yordan, Madaba, Aqaba, Petra, dan padang gurun di Wadi Rum atau Wadi Araba. Kebanyakan pelancong seperti kami mengunjungi tempat-tempat tersebut hanya dalam waktu singkat. Dan hotel tempat menginap pun kerap jadi ajang pertukaran informasi bagi para pelancong yang sudah atau akan berkunjung ke destinasi tertentu.

Saat kami menginap di sebuah hotel di Amman, saya berkenalan dengan seorang pelancong perempuan asal Tiongkok bernama Cherry.
Cherry berumur sekitar pertengahan 20an dan rencananya akan berkelana sendiri selama dua minggu di Yordania. Kepribadiannya tampak ceria dan murah senyum, tetapi saat berbicara bahasa Inggrisnya agak sulit dimengerti.
Walaupun kemampuan bahasa Inggrisnya terbatas sepertinya Cherry selalu berhasil menemukan pilihan paling ekonomis untuk pergi ke suatu tempat.

Berbekal info dari pengalaman Cherry yang mengunjungi Laut Mati sehari sebelumnya, kami pun mengikuti petunjuk yang diberikan.
Sukses berenang dan foto narsis di Laut Mati, tujuan kami selanjutnya adalah Wadi Musa, kota yang tak jauh letaknya dari situs arkeologikal Petra.

Saat berangkat menuju Wadi Musa, seorang pelancong asal Perancis bergabung dengan kami. Sehingga sekarang grup kami berjumlah 4 orang dari berbagai negara.
Setiba di Wadi Musa dan selesai menaruh barang di kamar hotel, kami melangkahkan kaki menyusuri jalanan kota sambil menunggu waktu matahari terbenam. 
Tidak berapa lama, kami melihat sesosok tubuh yang kami kenal, sedang berjalan  sendirian.
Kami panggil dia untuk bergabung bersama kelompok kecil kami. Ya Cherry rupanya juga baru tiba di Wadi Musa

.

Cherry bercerita kalau hotelnya terletak sedikit jauh dari tempat kami menginap, dengan balkon menghadap ke barat sehingga para tamu bisa melihat Petra dari kejauhan. Kedengarannya menarik dan kita pun segera menginvasi hotel tempatnya menginap, sambil menikmati pemandangan gratis matahari terbenam dari atas balkon.
Pada hari-hari tertentu Petra dibuka malam hari. Dengan penerangan cahaya lilin, pengunjung dapat merasakan sensasi berbeda memasuki Petra di tengah gelapnya malam. Kami pun tentunya tidak ingin melewatkan kesempatan berharga seperti ini.
Sekarang rombongan kami sudah berjumlah 6 orang, dengan tambahan Cherry dan seorang pelancong wanita asal Jerman.
Sambil berjalan kaki menuju Petra kami mengobrol, saling berbagi cerita tentang pengalaman selama berpetualang di Yordania maupun belahan dunia lain. 
Saya katakan pada teman-teman bahwa Petra kabarnya akan tutup sementara untuk direnovasi;
“ I heard that Petra would be closed for renovation”, ucap saya.
Teman-teman yang lain merespon dengan berkata, bahwa betapa beruntungnya mereka bisa mengunjungi tempat ini sekarang.
Hanya Cherry seorang yang tampaknya kebingungan dengan perkataan saya. Dia rupanya tidak begitu mengerti apa maksud perkataan saya, walaupun sudah saya coba jelaskan.
Sepuluh menit kemudian teman-teman yang lain membantu menjelaskan apa maksud dari perkataan saya, dengan kalimat lain yang lebih sederhana. Bahkan Ahmed sempat mencoba menerjemahkan kalimat itu dengan bahasa tubuh.
Kami pun sadar, terlepas dari kemampuan bahasa Inggris-nya yang terbatas, adalah kepribadian Cherry yang ceria dan keberanian tekadnya telah berhasil membawa dia untuk berpetualang kemana pun.

Beberapa hari terakhir di Yordania kami berempat (saya, sahabat, Ahmed dan teman asal Perancis) menghabiskan waktu di padang gurun Wadi Rum. Ahmed pernah kesini sebelumnya sehingga kami berhasil mendapat harga diskon untuk paket tur padang pasir, yaitu 25 dinar per orang.
Dengan mobil sewaan kami pun mengunjungi beberapa tempat yang direkomendasikan pemandu.

Saat mengunjungi salah satu situs terkenal sebagai lokasi syuting film ‘Lawrence of Arabian‘ di tengah padang pasir, rupanya kami bertemu seorang teman lama. Tebak siapa yang kami temui disana?
Ya lagi-lagi Cherry!

Keberadaan Cherry di situ rupanya tanpa direncanakan, sambil menunggu proses pembuatan visa Mesir katanya.
Dari hasil ngobrol-ngobrol, ternyata dia hanya membayar 20 dinar saja untuk tur privat padang pasir seorang diri! 
Dia bilang sebetulnya tidak terlalu tertarik dengan tur seperti ini, tapi dia setuju karena harga yang ditawarkan tergolong murah.
Oh Cherry, tampaknya keberuntungan selalu menyertaimu!

Malam terakhir sebelum saya kembali ke tanah air, kami bertiga (saya, sahabat dan Ahmed) kembali berkumpul di Amman. Kami sempat berjanji jika waktu dan kesempatan mengijinkan maka akan berpetualang bersama lagi di masa mendatang.

“Maybe we should see each other again in China !“ begitu kata Ahmed sambil tertawa.

Yes Ahmed !“ saya pun menyetujui.

Jika seorang Cherry saja bisa bertahan seorang diri di Yordania, maka kami yakin juga bisa!
[ Tulisan ini juga dimuat dalam blog pribadi penulis .: traveler’s tale :. ]

Penulis

Dona Oktavia

Twitter : @klinikgratis

Artikel yang mungkin kamu suka