Home Lomba Blog KTF 2017 Awal​ ​Mula​ ​Bisa​ ​Ke​ ​Filipina

Awal​ ​Mula​ ​Bisa​ ​Ke​ ​Filipina

oleh Dimitri Herlambang

Malam hari itu smartphone saya berdering, terdengar suara teman lama di ujung telpon “Gan! ke Filipina yuk!? kita nonton AFF sekalian jalan-jalan nanti. Cebu lagi ada promo tuh 700 ribu, kapan lagi coy nonton timnas Indonesia away ke Fillipina, gimana?” tanpa banyak berfikir saya langsung menjawab “berangkat​ ​gan!”

 

Begitulah percakapan awal yang membawa saya ke negara berbahasa Tagalog ini. Hari ini merupakan hari ke-3 kami berdua berada di kota Manila. Mulai dari keliling kota Manila, menyaksikan Timnas Garuda berlaga di ajang AFF, hingga makan balut sudah kami lakukan. Balut merupakan janin bebek berusia​ ​belasan​ ​hari​ ​yang​ ​hampir​ ​matang​ ​dan​ ​salah​ ​satu​ ​makanan​ ​favorit​ ​masyarakat​ ​Filipina. Setelah mencapatkan sedikit info dengan pemilik hostel, siang itu kami memutuskan untuk pergi ke Zambales. Kota kecil di sebelah utara kota Manila. Tujuan kami sesungguhnya bukanlah kota Zambales itu​ ​sendiri,​ ​melainkan​ ​pulau​ ​kecil​ ​yang​ ​ada​ ​di​ ​sebrang​ ​Zambales​ ​bernama​ ​Anawangin.

 

Menuju​ ​Zambales,​ ​Sebuah​ ​Kota​ ​Antah​ ​Berantah

Perjalanan dari kota Manila menuju kota Zambales membutuhkan waktu kurang lebih 6 hingga 7 jam menggunakan bus. Bayangan kami, kota Zambales memiliki area untuk para wisatawan mancanegara seperti Bangla Road di Phuket, atau Pub Street di Siem Reap. Namun ketika kami turun dari bus, semua yang​ ​sudah​ ​kami​ ​bayangkan​ ​sebelumnya​ ​buyar​ ​seketika.

 

Kenek bus langsung menurunkan kami ketika melewati jalan protokol utama kota Zambales. Sunyi dan senyap menghampiri kami, padahal saat itu waktu baru menujukan jam 8 malam. Seperti berada di tempat antah berantah. Tidak ada penginapan ataupun pedagang kaki lima. Hanya ada beberapa tukang becak motor di persimpangan yang tidak peduli dengan kedatangan kami, juga satu toko roti yang terlihat masih melayani pelanggan. Bingung harus kemana, kami akhirnya menemukan secercah harapan. Terdapat sebuah toko 7-11 tidak jauh dari jalan tempat kami diturunkan. Untungnya, toko tersebut masih buka. Kami langsung bergegas masuk, membeli 2 botol galon ukuran mini dan beberapa snack hingga makanan siap saji untuk bekal di pulau Anawangin. Kami sempat berusaha menanyakan kepada kasir cara terbaik menuju Anawangin pada malam itu, namun hasilnya nihil karena terkendala bahasa.

 

Setelah urusan perbekalan selesai, tiba-tiba ada seorang pria lokal menghampiri kami. Dia menanyakan tujuan kami dengan bahasa inggris yang sedikit terbata-bata. “pundaquit beach”, “Anawangin” jawab
saya. Pundaquit merupakan pantai dimana kapal-kapal kecil menuju Anawangin berada. “​Okay, give me 150 peso ​ ”katanya, saya menawar “​how about 100 ​ ?” . Dia menjawab​“it’s night, okay 120 peso” ​ . “​Deal! ​ ” jawab​ ​kami​ ​berdua.

 

Dengan sedikit rasa khawatir, kami mulai menyusuri gelapnya jalanan , tak ada penerangan kecuali lampu dari becak motor yang kami tumpangi. Suasana terasa sedikit mencekam ketika kami melewati hutan dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Sambil berdoa dalam hati, kami akhirnya sampai di lokasi tujuan. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai di pantai Pundaquit. Malam itu rencana kami cuma dua, memasang tenda yang kami bawa, dan tidur hingga esok pagi. Gonggongan anjing liar yang tak ada henti-hentinya sudah tidak lagi kami hiraukan. Pada saat itu hati memang tidak pernah bisa berbohong, kami berdua merasa cemas dan sedikit ketakutan pada malam itu. Berharap pagi​ ​segera​ ​tiba​ ​adalah​ ​doa​ ​yang​ ​saya​ ​ucapkan​ ​sebelum​ ​tertidur.

 

Pagi menyapa, matahari keluar dengan hangat dari peraduannya. Kami membereskan tenda dan makan roti seadanya. Terdapat beberapa orang di sekitar bibir pantai. Setelah bertanya-tanya, kami menemukan seorang nelayan yang mau mengantarkan ke pulau Anawangin dengan sistem antar jemput. Perjanjiannya adalah pagi ini mengantar kami ke Pulau Anawangin, lalu besok menjemput kami untuk kembali ke Pundaquit. 1200 peso adalah harga yang harus kami bayar. Sekitar 300 ribu rupiah. Ya, cukup​ ​mahal​ ​jika​ ​hanya​ ​dibagi​ ​berdua.

 

Ini​ ​Dia​ ​Si​ ​Anawangin!

Perjalanan membelah lautan dimulai. Bukit- bukit berwarna hijau kecoklatan, dan air berwarna biru menemani perjalanan menuju Anawangin. Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di Pulau Anawangin. Pasir putih, pohon-pohon tinggi menjulang, bukit savana, dan air laut berwarna hijau tosca adalah sekelumit gambaran Pulau Anawangin. Luar biasa indahnya, semua lelah, susah, juga kekhawatiran yang kami lalui terbayar lunas ketika berada di pulau ini. Hanya ada 2 hingga 3 kelompok pengunjung lokal di Anawangin membuat pulau serasa pulau sendiri. Ternyata, pulau ini memang bukanlah destinasi para wisatawan mancanegara. Mungkin kami berdua adalah orang Indonesia pertama​ ​yang​ ​pernah​ ​ke​ ​sini.​ ​Mungkin,​ ​ya.

 

Tenda sudah berdiri persis menghadap pantai, Hammock telah diikat dengan mantap, saatnya menikmati Pulau Anawangin. Waktu siang kami habiskan untuk ngobrol satu sama lain dan tidur siang di hammock. Menjelang sore kami bangun untuk menyaksikan matahari terbenam indah. Semua terjadi persis di depan tenda kami. Mungkin ini adalah salah satu Sunset terindah yang pernah saya lihat, ditempat yang bisa dibilang antah berantah. Saking bahagianya, kami berlari-larian dan loncat-loncatan seperti​ ​anak​ ​kecil.​ ​Suara​ ​deburan​ ​ombak​ ​menambah​ ​syahdu​ ​dan​ ​romatis​ ​suasana​ ​kala​ ​itu.

 

Hari mulai memasuki malam. Tak ada penerangan sama sekali di pulau tersebut. Untungnya kami sudah menyiapkan​headlamp ​ . Namun apa daya, bintang pada malam itu layaknya butiran pasir. Langit seolah dipenuhi bintang, begitu menawan. ​Headlamp pun serasa tak berguna. Malam itu pun diri mulai berkhayal kejadian-kejadian yang membawa sanpai ke pulau ini. Hati ikut-ikutan mulai berbicara sendiri. Traveling memang perlu keluar dari zona nyaman. Menjelajah perlu keberanian, cukup sedikit keberanian, asalkan percaya bahwa sang penguasa alam akan menjaga selama perjalanan. Mungkin jika hanya di hostel dan keliling Manila ceritanya akan berbeda. Ah! Mata mulai terpejam perlahan-lahan. Kantukpun​ ​tak​ ​bisa​ ​ditahan​ ​hingga​ ​akhirnya​ ​jiwa​ ​dan​ ​raga​ ​terlelap.

Oleh : Abdurrahman​ ​Karim​ ​Zaidan, 2017

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting