Pasca-pembatasan sosial berskala besar (PSBB) beberapa waktu lalu, sejumlah tempat wisata yang dikelola Pemprov DKI Jakarta telah dibuka kembali pada era new normal pada Juni 2020. Selama masa transisi, selain penerapan protokol kesehatan, dilakukan pembatasan jumlah pengunjung serta jam operasional yang hanya sampai pukul 15.00 WIB.

Dari sekian banyak destinasi wisata di Jakarta, kawasan Kota Tua menjadi salah satu tempat yang senantiasa mampu menjadi magnet pengunjung. Maklum saja, arsitektur bangunan bernuansa kolonial menghadirkan suasana khas yang menarik. Tidak heran jika para pengunjung setia menenteng kamera untuk sekadar berswafoto atau memotret model andalan antara lain berlatar Toko Merah yang legendaris.

Tidak jauh dari Toko Merah ada lapangan Fatahillah yang senantiasa ramai. Bagi yang penasaran ingin menjajal naik sepeda berkeliling lapangan, sejumlah sepeda memang sengaja ditawarkan untuk disewa lengkap dengan pernak-perniknya. Aneka jajanan khas Betawi maupun suvenir pun banyak dijajakan di seputar lapangan.

Bagi yang ingin menambah wawasan dan ilmu, terdapat sejumlah museum yang bisa disambangi, antara lain Museum Bank Mandiri, Museum Fatahillah, dan Museum Wayang.

Museum Fatahillah

Museum Fatahillah adalah nama lain untuk Museum Sejarah Jakarta. Bangunan yang menjadi museum ini berdiri sejak 1712. Di dalamnya kini tersimpan benda-benda peninggalan era Kerajaan Padjadjaran dan Tarumanagara, koleksi becak dari berbagai era, produk kebudayaan Betawi, dan peninggalan sejarah era kolonial.

Bukan hanya itu, di museum ini terdapat juga koleksi perabot kuno dengan berbagai gaya, mulai dari Jawa, China, hingga Belanda. Museum Fatahillah juga memiliki program edukasi sejarah dan budaya yang menarik, seperti Program Kesenian Nusantara, seminar museum sejarah, hingga kegiatan rekonstruksi sejarah. Bentuk gedungnya yang unik dan artistik membuat museum yang satu ini kerap dijadikan lokasi foto prewedding.

Museum Wayang

Tidak jauh dari Museum Fatahillah terdapat Museum Wayang yang menyimpan koleksi wayang dari berbagai daerah di Indonesia, seperti misalnya wayang kulit, wayang golek, dan wayang boneka.

Bukan hanya wayang dari daerah di seputar Nusantara, di museum ini juga disimpan koleksi wayang dari negara-negara tetangga Indonesia, seperti Malaysia, Vietnam, Thailand, China, India, dan Kamboja. Dengan begitu, Anda bisa mengetahui persamaan maupun perbedaan wayang dari negara-negara tetangga.

Memiliki desain bangunan khas Eropa era kolonial, museum yang satu ini terkesan lebih homey bila dibandingkan dengan Museum Fatahillah. Bukan sekadar dapat menikmati koleksi wayang yang terpajang, pengunjung bahkan juga bisa menyaksikan teater serta proses pembuatan wayang.

Asyiknya lagi, Museum Wayang bahkan juga menawarkan berbagai kegiatan untuk menambah wawasan pengunjung melalui kursus singkat membuat wayang. Menarik, bukan? Segera saja luangkan waktu bersama keluarga untuk berkunjung ke kawasan Kota Tua. Namun, ingatlah untuk selalu menjaga jarak dan mengenakan masker.