Pariwisata menjadi salah satu faktor pendorong terbesar pertumbuhan ekonomi. Tak banyak yang menyadari, sektor ini juga berperan sebagai penggerak sejumlah upaya konservasi. Tak heran, saat ini muncul juga beragam pilihan untuk wisata konservasi. Saatnya Anda, sebagai wisatawan, menjadi bagian dari gerakan ini.

Pariwisata dapat secara signifikan berkontribusi pada proteksi lingkungan dan keanekaragaman hayati. Alam yang lestari adalah daya tarik yang luar biasa dalam dunia pariwisata. Dan untuk mempertahankan nilai tersebut, tidak ada cara selain menjaga lingkungan. Lingkaran konservasi ini dapat terus dipelihara karena wisatawan—pemasukan dari pariwisata dikembalikan lagi untuk investasi lingkungan.

Pariwisata berbasis konservasi barangkali belum terlalu populer bagi wisatawan Indonesia. Padahal, ekosistem dan biodiversitas yang begitu kaya membuat negara kita menjadi salah satu kawasan paling potensial untuk wisata jenis ini. Jika Anda ingin mengalami perjalanan yang bermakna sekaligus memberi kontribusi untuk lingkungan, daerah-daerah ini bisa menjadi pilihan.

Batu Mentas, Belitung

Foto-foto: dokumen Shutterstock.com

Batu Mentas adalah kawasan penangkaran hewan endemik tarsius Pulau Belitung (Tarsius bancanus saltator) yang saat ini dikategorikan terancam punah oleh International Union of Conservation for Nature (IUCN). Sejak 2012, Batu Mentas menyediakan paket tarsius watching pada malam hari yang memungkinkan pengunjung mengamati perilaku hewan nokturnal ini, misalnya ketika mencari makan. Anda juga bisa melakukan susur sungai (river tubing) dengan berbagai rintangan jeram di sungai di wilayah Batu Mentas ini.

Sukamade, Banyuwangi

Pantai Sukamade adalah salah satu dari sedikit daerah peteluran alami penyu di Indonesia. Upaya konservasi penyu di pantai yang masuk dalam wilayah Taman Nasional Meru Betiri ini sudah berlangsung sejak 1970. Di Sukamade dibangun pula lokasi semi-alami untuk penetasan telur penyu (hatchery) supaya telur-telur ini lebih aman dari jangkauan predator.

Wisatawan bisa melihat langsung bertelurnya penyu di Sukamade. Agar suasana tetap kondusif bagi penyu-penyu, jagawana menetapkan sejumlah aturan. Wisatawan, misalnya, harus menjaga ketenangan dan tidak boleh menyalakan penerangan artifisial seperti senter. Mengamati dari dekat penyu yang sedang bertelur menjadi pengalaman yang begitu mengesankan. Ditambah dengan keseruan perjalanan menyusuri hutan dengan mobil berpenggerak empat roda atau trekking, Sukamade adalah destinasi tepat bagi Anda para pencinta petualangan.

Pemuteran, Bali

Desa di Bali Utara yang pada 1980-an gersang, miskin, dan mengalami kerusakan lingkungan parah ini berubah sejak masyarakatnya mau bahu-membahu memperbaiki lingkungan. Komunitas warga di Pemuteran konsisten menjaga lingkungan dan mengelola pariwisata daerah ini sampai sekarang sehingga berhasil mengangkat taraf ekonomi mereka sendiri.

Saat ini, daya tarik utama Pemuteran adalah biorock, struktur-struktur besi beraliran listrik yang mempercepat pertumbuhan terumbu karang sekaligus menjadi instalasi seni menarik yang bisa dinikmati ketika wisatawan menyelam atau snorkeling. Karena penerapan teknologi ini, kawasan Teluk Pemuteran menjadi taman bawah laut yang memiliki keanekaragaman terumbu karang yang kaya.

Desa Pemuteran telah mendapatkan sejumlah penghargaan prestisius, antara lain The Equator Prize dari UNDP Special Award pada 2012 dan juara kedua UNWTO Award untuk kategori Inovasi LSM pada 2016. Jika ingin berpartisipasi lebih jauh untuk keberlanjutan ekosistem terumbu karang ini, Anda juga bisa menjadi sponsor dalam program Baby Coral. [NOV]

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 6 September 2018.

Leave a Response