Travel More, Explore More

Yogyakarta

Harus mulai dari manakah aku menceritakan tentang kota ini? entah, Yogyakarta itu bukan kota kelahiranku, pun aku belum pernah tinggal di sini. aku hanya beberapa kali singgah di kota ini karena aku sempat tinggal di kota Solo beberapa tahun lalu pada saat masih duduk di bangku SMP sampai SMA. tetapi kota Jogja-lah yang justru terasa seperti “rumah”. aku jatuh cinta sejak pertama kali menginjakkan kakiku di kota. suasananya masih tetap asri walaupun sudah banyak pengendara mobil dan motor yang memenuhi jalanan, dan orang-orang yang kutemui di sana pun sangat menyenangkan dan unik-unik, dan budayanya sungguh luar biasa. aku tak pernah bosan dan selalu kegirangan seperti anak-anak ketika aku tahu aku akan berkunjung ke Jogja, bahkan sampai umurku kini 23 aku masih ingin berkeliling Jogja. begitu banyak tempat-tempat baru dan acara-acara budaya yang mereka selalu suguhkan, yang tidak pernah membuatku bosan berkunjung ke sana!

pernah suatu ketika aku merasa penat dengan suasana kerjaku di Jakarta, aku secara spontanitas memesan tiket kereta ekonomi menuju Jogja untuk Sabtu pagi. berangkatlah aku ke sana, dan tidak disangka pada waktu itu sedang ada acara pameran seni Art Jog 2017. ohh, betapa bahagianya aku berkunjung ke acara seni pada saat malam minggu?! sendiri, di Jogja, di acara pameran seni. yaa, aku pergi sendirian ke Jogja dan beruntungnya aku karena pamanku ada yang tinggal di sana, jadi aku tidak perlu memikirkan biaya penginapan selama di sana hihi.

pamanku terkejut pada saat aku telepon dan bilang bahwa aku sedang dalam perjalanan ke Jogja kala itu. tapi, menurutku bahwa eksplorasi spontanitas yang aku lakukan ini adalah pengalaman yang sangat menyenangkan buat aku pribadi. aku baru sadari bahwa menjelajah suatu tempat itu selalu memberi pelajaran baru untukku, baik itu bersama teman-temanku maupun sendirian. aku jadi lebih berani, jalan sendiri, mencoba berkenalan atau berbincang sedikit bersama orang yang tidak kita kenal sebelumnya, berbagi cerita dengan orang baru yang duduk di sebelahku saat di ruang tunggu, juga di bangku sebelahku pada saat sudah dalam gerbong kereta, atau pada saat aku sedang menikmati lukisan dan hasil seni di museum, dan di tempat-tempat umum yang memungkinkan aku untuk punya kesempatan berkenalan dan berbagi cerita bersama orang baru.

aku sadar bahwa ketika aku bereksplorasi sendirian, aku tidak benar-benar sendirian. karena kemanapun aku pergi, akan selalu ada orang baru yang bisa kita ajak bicara dan berbagi pengalaman tentang apa saja yang kita pernah alami.

jadi, kemana lagi kepenatan Ibu Kota akan membawaku? aku tidak sabar!

Oleh : Namira Nimarsha

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Jalan-jalan ke Bangkok

Jalan-jalan ke Bangkok, Thailand mungkin sudah hal yang biasa bagi kebanyakan orang Indonesia yang punya hobi jalan-jalan karena harga yang terjangkau, kota ini juga memiliki pesona yang menarik seperti wisata kuilnya, wisata sungainya, ataupun kulinernya yang bisa memanjakan lidah. Namun perjalanan saya kali ini selain mencicipi jajanan yang menggoda lidah, menjelajahi kuil-kuil yang artistik, saya juga melakukan eksplorasi destinasi wajib bagi muslim, masjid.

Dan berikut beberapa masjid yang dapat ditemui di Bangkok yang letaknya masih berdekatan dengan tempat-tempat ramai, Check it out guys:

1. Masjid Darul Aman (Darul Aman Mosque)

Petchaburi sudah dikenal sebagai kawasan muslim bagi beberapa wisatawan. Di sana wisatawan dapat menjumpai masjid dengan ornamen putih dan cukup megah. Di sekeliling masjid tersebut, wisatawan dapat menemukan jajanan-jajanan Thailand dengan rasa yang memanjakan lidah, bukan hanya itu, tapi juga halal karena yang menjual dan mengolah merupakan muslim Bangkok. Bangunan masjid utama memiliki kubah layaknya masjid pada umumnya dengan goresan cat berwarna putih menyelimuti bangunan tersebut. Suasana di dalam masjid pun selain luas juga tenang, damai, dan bersih. Masjid ini terletak tidak jauh dari Kantor KBRI di Bangkok, berjalan kaki kurang lebih membutuhkan waktu 30 menit sambil menikmati keramaian Kota Bangkok tentunya. Tepatnya di Petchaburi valley 7.

2. Masjid Bang Uthit (Bang Uthit Mosque)

Kawasan Asiatique The Riverfront merupakan kawasan belanja, seperti Mall, juga tempat menjelajahi kuliner di pinggir sungai. Terdapat wahana kincir angin yang dapat dinikmati pengunjung pada malam hari dan melihat suasana Bangkok pinggir sungai. Indahnya.

Masjid Bang Uthit berada di seberang Asiatique, kurang lebih berjarak 100 meter. Berada di corner pertigaan Charoen Krung 99 valley. Masjid ini lebih kecil dari Masjid Darul Aman, tapi halamannya masih cukup luas. Ornamen bangunan tidak jauh berbeda dari Masjid Darul Aman, putih polos, menjadikan suasananya nyaman, damai, dan bersih. Bangunan utama masdij dengan toilet dan tempat wudlu terpisah, jadi kalau mau sholat harus jalan dulu dari tempat wudlu, kurang lebih 10 meter. Tepat di seberangnya, masih satu jajaran, terdapat foodcourt, yang tentunya menyediakan makanan-makanan Thailand dan juga tersedia jambu Thailand yang tidak kalah enak untuk dicoba.

3. Masjid Ban Tuk Din (Ban Tuk Din Mosque)

Bagi wisatawan yang sedang melancong ke daerah Khaosan Road, harus mampir ke masjid ini. Letaknya tidak jauh dari Khaosan Road, kawasan yang sudah sangat terkenal bagi turis mancanegara ketika melancong ke Bangkok. Kawasan Khaosan Road dikenal sebagai western-nya Bangkok karena memang banyak sekali bule-bule non-Asian yang melancong di sini. Bar, spa, massage, dan tempat hiburan lainnya tersedia di sini. Sampai-sampai waktu malam hari kawasan ini sangat ramai dan penuh gemerlap, tak lupa sajian kalajengking dijual saat malam hari.

Terus masjidnya? Masjidnya berada di belakang Post Forum (semacam kantor pos di Thailand) di ujung kawasan Khaosan Toad, tapi untuk mencapai masjid ini, wisatawan harus melewati jalan-jalan sempit yang sedikit berbelok-belok, yang sedikit menjauhkan dari hingar bingar Khaosan Road. Bangunan masjid lebih kecil dari dua masjid sebelumnya, karena memang lokasinya yang “nyempil” di kawasan rumah-rumah. Ornamennya putih polos, dibandingkan dengan dua masjid sebelumnya, masjid ini lebih sepi karena memang hanya warga sekitar yang memanfaatkan masjid tersebut.

So guys, jangan lupa beribadah buat kalian meskipun sedang jalan-jalan melancong ke tempat-tempat indah. Sebagai salah satu wujud syukur kita terhadap ciptaan Tuhan.

Oleh : Sofiyullah

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Semalam di Gurun Sahara

Lautan pasir berwarna emas kecoklatan, padang tandus yang gersang, unta, dan pria bersorban. Itulah gambaran tentang Gurun Sahara di film Lawrence of Arabia, film lawas peraih 7 piala Oscar di tahun 1963. Saking terkenalnya film ini, banyak orang yang lantas ingin melawat ke gurun terbesar di dunia ini dan merasakan keindahan gurun yang terekam di film itu.

Merzouga adalah salah satu kota di Tenggara Maroko yang menjadi gerbang untuk masuk Gurun Sahara. Kota kecil ini berjarak sekitar 560km dari Marrakesh, dan hanya berjarak 50km dari perbatasan Aljazair.

Tak sulit untuk menuju ke sini. Di kota Marrakech banyak ditawarkan paket tur untuk menuju Merzouga dan menginap di tenda Berber di tengah gurun sehara. Harga yang ditawarkan juga hampir sama, untuk paket perjalanan 3 hari 2 malam, harganya berkisar 850-950 Dirham atau setara dengan sekitar Rp 1 juta hingga Rp 1,3 juta. Jika tidak punya waktu banyak, seperti saya dan kawan-kawan, bisa ikut paket perjalanan 2 hari 1 malam. Harganya lebih murah, sekitar 650-750 Dirham atau setara dengan Rp 800.000 sampai Rp 1 juta.

Untuk menuju Gurun Sahara dari Merzouga, para wisatawan bisa menaiki jeep atau unta. Kami jelas memilih menaiki unta ketimbang jeep yang bisa saya naiki di Indonesia. Namun, menaiki unta ternyata tak semudah yang saya kira. Cukup mendebarkan dan melelahkan. Sang pemandu, seorang remaja dengan gamis dan sorban, mesti menepuk kepala untanya hingga sang unta yang tadinya berdiri menurut perintah sang majikan untuk duduk. Saat unta duduk itulah, saya mesti naik ke punggungnya sambil berpegangan erat. Pegangan saya harus tambah erat saat unta bangkit dari duduk karena saat itulah saat yang mendebarkan. Sang unta akan bangun secara tiba-tiba, membuat orang yang tak berpegangan erat bisa terjatuh karenanya. Jantung saya berdegub kencang, kaget oleh sentakan gerakan unta yang tiba-tiba.

Secara berurutan, satu persatu kawan saya naik ke punggung unta. Setelah masing-masing unta diikat dengan tali dan disatukan dengan unta di depan dan belakangnya, Yusuf, sang pemandu, ditemani seorang pamannya membawa kami berenam menyusuri padang pasir yang tandus. Sepanjang perjalanan, kami hanya melihat hamparan pasir, pasir, dan pasir. Tak ada tanda-tanda kehidupan di sana. Tak ada kaktus seperti yang kami kira. Hanya ada semak-semak yang kering. Tandus.

Dua jam lebih kami berada di punggung unta itu, mencoba menyeimbangkan diri agar tubuh tak miring saat sang unta berjalan penuh hentakan, sebelum akhirnya kami sampai di sebuah bukit pasir tertinggi di sana. Dari atas bukit itulah kami diajak melihat matahari terbenam di tengah padang pasir. Ketika matahari mulai meredup dan menyisakan warna emas di ufuk barat, warna padang pasir pun berubah menjadi keemasan. Indah luar biasa.

Begitu matahari hilang dari pandangan, kami menaiki unta kami menuju penginapan: tenda suku Barber. Ada beberapa tenda di sini, dibentuk mengelilingi sebuah lapangan yang tak terlalu luas. Tampak beberapa wisatawan yang berkumpul di tengah lapangan, bernyanyi dan menari diiringi musik khas Barber, di depan api unggun yang menjadi satu-satunya penerangan di sana.

Setelah makan makanan khas Maroko, Couscous dan Tagine, kami tidur dengan lelapnya. Selain musik yang dimainkan hingga tegah malam, tak ada suara lain di sini. Benar-benar sunyi, senyap, dan

tenang. Jika melongok ke luar jendela, tampak ratusan bintang bertaburan di atas sana. Menambah kehidmatan malam kami di tengah gurun Sahara.

Esok pagi, kami kembali menaik sang unta, menuju ke Merzouga. Kembali ke pinggiran sahara dengan membawa pengalaman luar biasa, naik unta dan bermalam di gurun terbesar dunia.

Oleh : Rahma Yulianti

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Merekam Jejak Raja Batak di Huta Siallagan

Merekam Jejak Raja Batak di Huta Siallagan

 

 

Bermula dengan menaiki kapal dari pelabuhan di Kota Parapat menuju rute Pulau Samosir. Biasanya kapal-kapal tersebut akan berlabuh di Tomok sebagai pusat destinasi wisata kebanyakan wisatawan. Namun, kali ini pengunjung akan langsung diajak ke sebuah Desa bernama Siallagan. Tempat yang menyimpan sejarah panjang yang akan membangkitkan energi petualang. Cukup merogoh kocek sebesar Rp 25.000,- kita akan berlabuh di desa ini dengan disambut warga-warga yang ramah dan sebuah patung bertuliskan aksara Batak sebagai tanda selamat datang di Huta Siallagan.

 

Huta Siallagan terkenal dengan situs kuno yang menjadi daya pikat wisatawan. Situs kuno tersebut adalah Batu Persidangan. Sebuah batu yang menjadi saksi bisu persidangan untuk orang yang berbuat kejahatan. Situs kuno ini terdiri dari susunan batu-batu yang terdiri dari sembilan kursi yang terbuat dari batu, ada tempat duduk untuk raja, dukun, dan untuk orang yang melakukan kejahatan. Tindak kejahatan tersebut bisa berupa mencuri, membunuh, memperkosa, dan menjadi mata-mata musuh. “Tempat duduk raja adalah yang paling besar, dan yang kecil untuk orang yang bersalah” tutur Kristian Siallagan selaku tour guide.

 

Kepada yang bersalah akan dikenai sanksi berupa hukum pancung. Terbayang di benak kita bahwa hukum pancung ini akan membuat seluruh rakyat pada waktu itu akan berpikir dua kali dalam bertindak kejahatan. Namun, seperti yang dijelaskan Kristian Siallagan tidak semua perbuatan akan dihukum pancung. Ada perbuatan-perbuatan tertentu seperti membunuh, memperkosa, mata mata musuh itulah yang akan dikenai hukum pancung.

 

Sesudah itu pelaku akan dikurung di bawah Istana raja, yaitu Rumah Bolon, keadaan tersangka atau pelaku akan diperlakukan sama seperti binatang. Sebab Raja menganggap bahwa pelaku kejahatan adalah binatang, yang harus ditempatkan di bawah rumah Raja. Sama seperti hewan ternak pada saat itu. Dalam menentukan hari pemancungan, dukun raja yang akan bertindak menentukan hari pemancungan tersebut. Dikenal namanya Manitiari atau primbon Suku Batak yang menentukannya.

 

Setelah tiba hari pemancungan pelaku kejahatan akan ditempatkan di sebuah meja batu dengan mata tertutup kain ulos. Selanjutnya dukun akan mencoba membuktikan apakah pelaku mempunyai ilmu kebal atau tidak. Sebab, pada saat itu kebanyakan orang mempunyai ilmu kebal yang melindungi dirinya. Untuk membuktikan apakah si pelaku kejahatan mempunyai ilmu kebal atau tidak dukun akan memerintahkan seorang algojo untuk mengiriskan pisau kecil ke badan pelaku, apabila tidak mengeluarkan darah, artinya pelaku mempunyai ilmu kebal dan harus dikeluarkan. Dukun akan menggunakan tongkat saktinya untuk mengeluarkan ilmu kebal dari diri pelaku dengan cara mengelilinginya dengan membaca mantra-mantra. “Pelaku akan disayat-sayat dan diberi siraman air jeruk nipis, baru kemudian di bawah ke tempat eksekusiz” kata Kristian. Adalah sebuah batu berukuran lebar 1 meter dengan tinggi lebih kurang 20 cm. Pada bagian atas terlihat cekung sebagai tempat menyangga leher yang akan dieksekusi oleh para algojo.

 

Setelah prosesi pemancungan selesai, badan dan kepala yang sudah terpisah akan dibedakan cara perlakuannya. Kepala yang sudah terpisah dari badan akan diletakkan di meja berbentuk bulat, sementara badannya akan diletak di meja berbentuk persegi. Bagian tubuh yang telah dipotong-potong seperti jantung dan hati akan diikat dan diberi siraman air jeruk nipis sebanyak-banyaknya. Jantung akan diberikan kepada Raja, dukun, para petuah kampung untuk dimakan.

 

Kemudian, apa yang akan terjadi dengan badannya ? Kristian menjelaskan bahwa badan pelaku akan dibuang ke Danau Toba selama tujuh hari tujuh malam. “Selama itu, para penduduk dilarang melakukan aktivitas di dalam Danau. Kepalanya akan diletakkan di depan gerbang masuk Huta Siallagan, sebagai pemberi peringatan kepada raja lain atau rakyat agar tidak melakukan perbuatan yang sama. Setelah membusuk, kepala akan dibuang ke hutan dibalik kampung, dan selanjutnya warga akan dilarang beraktifitas di hutan selama 3 hari.” Tegasnya.

 

Memang begitu sejarah pemancungan di Huta Siallagan. Dibalik kisah orang Batak makan orang memang benar adanya. “namun, tidak usah khawatir, saya lebih suka makan daging ayam, daripada makan daging manusia” kelakar Kristian di sela-sela penjelasan dengan wisatawan.

 

Huta Siallagan merupakan sekeping kabar baik dalam pariwisata Indonesia yang tentu saja dapat kita nikmati. Pelajaran dan hikmah yang diberikan destinasi yang kaya nilai nilai tradisional ini mengingatkan kepada kita bahwa harus mawas diri selalu menjaga prilaku kepada lingkungan. Bisa kita pikirkan betapa mengerikannya Huta Siallagan jika sampai saat ini masih memelihara dan melaksanakan ritual seperti yang telah dikisahkan di atas. Mari sebarkan kabar baik ini, agar pariwisata Indonesia semakin dikenal dan diminati baik oleh masyarakat Indonesia sendiri maupun masyarakat mancanegara.  

Oleh : Muhammad Hisyamsyah Dani

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting