Travel More, Explore More

BER-KANO RIA DI TALU ISLAND

Tertarik dengan promosi “3 in 1 Phang Nga with canoe” yang tak sengaja saya lihat di internet, saya pun mulai merancang jadwal. Taman Nasional Ao Pha Nga kemudian menjadi salah satu tujuan dari rangkaian perjalanan saya di Phuket, Thailand. Dari jauh hari saya dan keluarga sudah merencanakan untuk mengambil paket tour sehari dengan biaya 1300 Baht per orang, sudah termasuk transportasi dan makan siang.

Sesuai perjanjian, jam 10 pagi kami dijemput dengan minibus ber AC di lobby hotel. Minibus menjemput peserta tour lainnya yang terdiri dari berbagai kebangsaan di hotel masing-masing. Setelah peserta lengkap, tujuan pertama kami adalah mengunjungi Suwannakuha Temple (Monkey Temple). Disini kami bertemu dengan pemandu perjalanan kami, seorang wanita bertubuh tinggi besar bernama Nancy. Ia menjelaskan obyek wisata apa saja yang akan dikunjungi dan mempersilahkan kami untuk mengikutinya, mengingat dalam perjalanan ini akan bertemu dengan banyak rombongan lainnya.

Di Monkey Temple ini terdapat gua dengan patung-patung Buddha di dalamnya, juga terdapat  stalaktit dan stalagmit. Sesuai dengan namanya, di depan gua banyak ditemui kera-kera, mulai dari yang kecil sampai yang besar. Adapula induk kera yang menggendong anaknya. Kami disarankan untuk tidak memberi makan kera-kera tersebut, mungkin untuk alasan keamanan. Kami diberikan waktu yang singkat disini untuk menjelajahi gua dan berfoto-foto. Di dalam gua terdapat patung Buddha besar yang sedang tidur (reclining Buddha), ada juga yang dalam posisi duduk dan berdiri.

Setelah itu Nancy mengajak kami kembali ke minibus menuju dermaga untuk menaiki long tail boat, perahu kayu bermotor  yang sudah menanti untuk membawa kami berkeliling Taman Nasional Pha Nga yang terletak di sebuah teluk di Laut Andaman. Perairan disekitar situ termasuk tenang, tidak berombak karena kebetulan cuaca cerah, dengan air yang berwarna kehijauan. Di atas perahu sudah disediakan jaket pelampung yang harus dipakai oleh setiap orang. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi pemandangan yang luar biasa, dimana bermunculan bukit-bukit karst (batuan karang) yang menjulang tinggi dan ditumbuhi pepohonan hijau. Ada yang berbentuk runcing seperti sirip ikan hiu, setengah bulat, ada pula yang berdampingan seperti bukit kembar, sampai yang tidak beraturan bentuknya.

Tak lama kemudian kami menepi dan mendarat di Panyee island untuk makan siang. Panyee island merupakan perkampungan nelayan yang mayoritas penghuninya beragama Islam. Tak heran bila dari kejauhan terlihat kubah mesjid yang berwarna keemasan. Kami memasuki restoran yang sudah menyediakan berbagai hidangan di atas meja. Hidangan utamanya adalah hidangan laut, seperti cumi, udang, ikan laut, tom yam dan sayuran semacam capcay.. hmm rasanya lezat, atau karena perut kami yang sudah lapar .. entahlah, yang jelas hidangannya cukup banyak dan berlebih. Setelah makan, kami masih punya waktu untuk menjelajahi perkampungan di pulau kecil ini yang sesungguhnya dibangun diatas permukaan laut. Di sebelah perkampungan ini berdiri tegak dan kokoh sebuah bukit karst yang besar.

Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan menuju Khao Ping Kan, sebuah pulau yang terkenal dengan nama “James Bond island”, karena pernah menjadi lokasi film James Bond yang berjudul “The Man with the Golden Gun”. Perahu-perahu yang membawa para turis antri untuk berlabuh disini. Para turis kemudian berfoto ria di depan sebuah bukit karst  yang bernama Khao Ta Poo (pulau Kuku). Bentuknya yang unik menyerupai jempol yang menyembul di atas permukaan laut membuat pulau (bukit) karst ini terkenal dan menjadi ikon kawasan James Bond island ini. Di pulau ini terdapat pedagang suvenir yang kebanyakan ibu-ibu berkerudung. Berbagai macam cindera mata hasil kerajinan tangan yang terbuat dari kerang dan mutiara seperti kalung, tirai dari kerang sampai sandal jepit dan sebagainya dijual disini. Tak bosan-bosannya kami berfoto sampai terdengar suara Nancy memanggil rombongannya untuk berkumpul dan menaiki boat kembali.

Tujuan selanjutnya adalah Thalu island dimana terdapat  sebuah dermaga terapung berbentuk kapal besar. Inilah saat yang kami tunggu-tunggu. Disini kami akan ber-kano ria. Tas dan barang-barang bawaan dititipkan di dermaga tersebut, dan hanya barang berharga yang sudah dimasukkan kantong plastik yang dibawa. Kami menaiki kano-kano yang bermuatan 3 (tiga) orang, termasuk pengemudinya. Petualangan ber-kano di laut pun dimulai. Pengemudinya sangat ramah dan begitu mengetahui kami dari Indonesia, ia pun berbicara dengan logat Melayu. Ia mendayung dengan mahirnya sehingga tidak sampai bertabrakan dengan kano lain.

Kami lalu dibawa menyusuri hutan manggrove yang cukup lebat, serta tebing-tebing karang yang berongga, memasuki goa besar yang didalamnya remang-remang, sehingga hanya cahaya di ujung goa yang terlihat. Apabila kano memasuki celah yang sangat sempit, kami harus merebahkan badan agar tidak terantuk dinding karang di atasnya.  Ditengah perjalanan kami menemukan dinding karang beraneka bentuk, ada yang menyerupai moncong babi, belalai gajah dan sebagainya.  Sungguh suatu pengalaman yang tak terlupakan.

Sayang perjalanan ini harus berakhir. Kami kembali ke dermaga tempat kano-kano tersebut berlabuh dan disuguhi minuman segar. Setelah beristirahat dan mengambil kembali barang-barang yang dititipkan, kami dipersilahkan menaiki long tail boat yang akan membawa kami kembali ke daratan.

Oleh : Happy A. Anggraeni, 2017

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Macau, Tak Hanya Sekadar Kota Judi

Kasino dan judi. Dua kata itulah yang melekat di benak banyak orang ketika mendengar kata Macau. Begitu pun saya, ketika diajak mengunjungi kota ini 5 tahun lalu. Ternyata pikiran saya salah, kota kecil yang luasnya hanya 29,2 km2 ini memiliki potensi wisata arsitektur peninggalan Portugis yang cukup menarik.

Macau adalah sebuah kota yang bernaung di bawah pemerintahan Republik Rakyat Cina. Di tahun 1557, pemerintah Cina menghadiahkan Macau kepada Portugis, sebagai imbalan atas jasa Portugis membasmi bajak laut di perairan Cina. Pada tahun 1999, Macau bersama dengan Hongkong dikembalikan lagi ke Republik Rakyat Cina, dan seperti halnya Hongkong, Macau mendapat kewenangan untuk mengatur sendiri daerahnya, sehingga ditambahi embel-embel Special Administration Region (SAR).

Empat ratus tahun lebih menjadi koloni Portugis menyebabkan budaya Portugis amat merasuk ke dalam kehidupan warga Macau. Selain nama jalan, nama orang, dan nama bangunan yang masih menggunakan nama-nama berbau Portugis, bangunan-bangunan yang ada di Macau kebanyakan bergaya Eropa. Sungguh indah. Saya bahkan tak merasa berada di salah satu bagian Cina! Untungnya, warga Macau termasuk orang-orang yang mencintai sejarahnya. Meskipun banyak hotel-hotel besar dengan desain-desain baru bermunculan, bangunan-bangunan lama peninggalan Portugis masih tetap dirawat dan dilestarikan. Tak nampak satu pun bangunan yang terbengkalai, semuanya bersih dan indah.

Menelusuri Senado Square

Senado Square adalah salah satu tempat yang tepat untuk mengeksplorasi bangunan bergaya Eropa. Di sana banyak sekali bangunan yang dapat dinikmati, salah satunya adalah Leal Senado Building. Bangunan yang dikenal juga dengan nama Instituto Para Os Assumptos Citios E Municipal ini terletak persis di seberang Senado Square. Bangunan abu-abu bergaya neo klasik ini dahulu adalah tempat pertemuan para pejabat Portugis. Sekarang, bangunan ini digunakan sebagai pusat sejarah Macau dan pusat pelayanan publik bagi warga Macau.

Selain fasad bangunan ini, Anda akan terpukau dengan courtyard yang ada di tengah bangunan. Konon, courtyard ini idenya berasal dari courtyard yang biasa ada di rumah-rumah bergaya Cina, namun agar unsur Portugis tetap terasa, dinding courtyard ini dihiasi dengan keramik khas Portugis yang berwarna biru putih. Wih, cocok untuk tempat foto-foto!

Di sepanjang Senado Square juga banyak terdapat bangunan menarik bergaya Portugis. Pencinta arsitektur seperti saya, rasanya tak bosan berlama-lama berada di sana. Semua bangunannya indah, semua tertata. Bahkan, paving block yang melapisi jalannya saja ditata dengan apik, yang membuat saya langsung jatuh cinta.

Gereja di Tengah Kepungan Toko

Hal lain yang dapat dilakukan untuk melihat peninggalan budaya Portugis adalah dengan mengunjungi gereja. Ya, Macau banyak memiliki gereja yang indah yang saying untuk dilewatkan. Yang paling terkenal adalah Gereja St. Paul, sebuah gereja bergaya campuran antara Barat dan Timur yang kini hanya tersisa bagian depannya saja. Gereja ini dulunya adalah bagian dari St. Paul Collage, sebuah universitas kristen yang didirikan bangsa Portugis ketika menginjakkan kaki di semenanjung Macau. Di tahun 1835, terjadi kebakaran hebat yang membumihanguskan semua bagian universitas dan gereja, dan hanya menyisakan bagian depan saja. Walau hanya tersisa bagian depan saja, gereja ini tetap mempesona. Saya jadi membayangkan, bagaimana luar biasanya gereja ini saat masih utuh berdiri.

Tak jauh dari reruntuhan St. Paul, terdapat Igreja Santo Dominicus, sebuah gereja katolik pertama di daratan China. Bangunan gereja ini amat menarik mata, dinding luarnya dicat dengan warna kuning, yang sangat kontras dengan daun pintu dan kusen jendelanya yang berwarna hijau. Uniknya, gereja yang masih dalam kondisi sangat baik ini berada di tengah-tengah toko-toko yang menjual berbagai barang bermerek

Egg Tart yang Melegenda

Peninggalan portugis lainnya yang masih ada di Macau adalah Egg Tart. Ya, karena mencicipi egg tart di Macau, saya jadi tergila-gila pada kue berbentuk bulat yang gurih dan renyah itu. Egg tart memang salah satu peninggalan Portugis yang jadi ikon Macau. Belum sah rasanya berkunjung ke sana tanpa mencicipi egg tart.Area Senado Square dan sekitarnya adalah tempat yang paling pas untuk membeli

egg tart. Atau kalau sempat, mampirlah ke Lord Stow’s Bakery yang ada di dekat Coloane Village. Konon, egg tart di sinilah yang asli, paling enak, dan paling popular.

Senado Square, Egg Tart, dan semua peninggalan Portugis, yang berpadu dengan budaya Cina menjadikan Macau sebagai destinasi favorit saya. Kalau diajak ke sana lagi, saya pasti langsung berkata “yes, I do”!

Oleh : Rahma Yulianti

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Bagan, Kota Seribu Kuil yang Misiterius

Tak banyak yang tahu soal kota kecil di yang terletak di tengah Myanmar ini. Padahal, Marcopolo pernah menyebutnya sebagai “kota yang dipenuhi gemerincing bel dan desiran jubah para biksu.”

Banyak yang melongo ketika pertama kali saya menyebut Bagan sebagai kota tujuan saya. Bagan memang kota kecil yang belum menjadi tujuan wisata popular bagi warga Indonesia. Selain cukup kecil, kota ini terletak di Myanmar, negara berkembang yang sedang terlibat konflik antar-entik.

Bagan sangat terkenal di kalangan fotografer karena keelokannya dan kemisteriusannya. Bagan juga amat tersohor di kalangan para pecinta sejarah karena di seantero kota ini berdiri banyak sekali kuil, sehingga ia dikenal dengan nama “kota seribu kuil”.

Ya, menurut litertur yang saya baca, sebenarnya dulu ada 13.000 lebih kuil di kota seluas 16 hektar ini. Namun sekarang ini, hanya tersisa 2.000 kuil dengan berbagai bentuk dan ukuran. Kuil-kuil ini dibangun ketika Bagan ada di zaman keemasan; saat Bagan menjadi ibukota kerajaan Burma.

Naik Delman Kitari Bagan

Ada banyak cara mengitari Bagan. Yang paling sering dipilih para turis adalah sepeda berdinamo. Cara ini disukai karena murah. Peminjam sepeda hanya dikenai biaya 2.500 kyat per hari. Cara ini sebenarnya menyenangkan, asalkan fisik kuat dan tahan panas. Ya, Bagan adalah daerah yang panas, tandus, dan berdebu, terutama di Old Bagan, tempat kuil-kuil berada. Sebagian besar jalan di sana masih berupa tanah berdebu, yang akan semakin berdebu saat ada yang melintas di atasnya.

Kalau tak ingin tertimpa debu seperti saya, ada pilihan cara lain yang (sayangnya) lebih mahal: naik horse cart alias delman. Delman ini bisa disewa per hari, mulai dari sunrise

hingga sunset. Biaya sewanya tergantung negosiasi dengan si kusir. Biasanya berkisar antara 10.000-15.000 kyat per delman. Kusir ini akan membawa penumpangnya menyusuri kuil-kuil seharian, tergantung rute yang diinginkan. Namun, kalau tak tau rute mana yang ingin Anda sambangi, percayakan saja rutenya pada Pak Kusir dan kudanya, seperti yang saya lakukan kali ini.

Seribu Kuil

Perjalanan dengan delman biasanya dimulai dari Shwezigon Pagoda, pagoda emas yang terletak tak jauh dari Terminal Bus. Konon, pagoda yang amat mirip dengan Shwedagon Pagoda di Yangon ini dibangun karena mimpi Raja. Di mimpi tersebut, Raja melihat seekor gajah putih (hewan yang disucikan bangsa Burma) membenamkan kepalanya di dalam gundukan pasir. Nah, untuk menangkal bencana, di tempat itu dibangun sebuah pagoda. Sayangnya, kuil ini tidak terlalu terawat sehingga lantainya dipenuhi kotoran burung.

Penjelajahan pun akan dilanjutkan ke area Old Bagan, di mana kuil-kuil lama berada. Old Bagan ini cukup besar, sebenarnya tak cukup jika dijelajahi hanya dalam satu hari. Namun bagi Anda yang tak punya waktu banyak seperti saya, satu hari terasa amat cukup.

Sang kusir dan kudanya membawa saya ke sebuah kuil kecil yang tak bernama. Di kuil ini, saya bisa naik ke atas sambil melihat pemandangan. Wow, ternyata Bagan memang benar-benar kota seribu kuil! Di depan mata, yang tersaji hanyalah kuil dan kuil, dalam bentuk dan ukuran yang berbeda.

Berbagi Rupiah

Perjalanan dilanjutkan menuju HtilMinlo Temple. Kuil yang dibangun di tahun 1211 ini termasuk kuil yang sangat dilindungi pemerintah Bagan. Di dalam kuil ini sebenarnya terdapat banyak pahatan yang indah. Sayangnya, saat gempa besar melanda Myanmar, kuil ini runtuh. Proses rekontruksinya tidak terlalu baik, sehingga bagian dalam hanya dilapisi dengan plesteran kasar saja. Namun, bagian luar kuil ini sangat memesona, apalagi jika dilihat saat ditimpa matahari senja.

Tujuan selanjutnya adalah Ananda Temple, kuil tersuci di Bagan. Namun sebelum mencapai kuil itu, saya dibawa ke beberapa kuil lagi, yang entah bernama apa. Di kuil-kuil kecil tersebut, saya diikuti beberapa pedagang kecil. Ketika saya menolak tawaran barang mereka, mereka meminta uang Rupiah sebagai tanda mata. Ketika saya berikan uang dua ribu rupiah yang tersisa, dengan bahasa Inggris yang baik, mereka tak segan-segan mengobrol dan berbagi cerita.

Uniknya, yang dilakukan para pedagang ini sangat serupa. Begitu saya menolak membeli dagangannya, mereka akan menanyakan asal usul. Begitu dijawab Indonesia, mereka langsung sumringah, dan berkata bahwa jarang sekali orang Indonesia berkunjung ke sana. Mereka juga langsung menghentikan kegiatan “memaksa”, dan berganti dengan obrolan ramah. Hal ini nampaknya tak terjadi pada turis Barat. Para pedagang cilik itu terus saja menguntit mereka. Entah apa sebabnya. Mungkin karena kedekatan emosional dengan Indonesia, atau mereka pikir orang Indonesia tak punya uang banyak?

Sunset yang Tak Ada

Ananda Temple berbeda dengan kuil lainnya yang terbuat dari bata, kuil ini bercat putih. Entah memang begini asalnya, atau ini akibat restorasi yang dilakukan setelah terkena gempa. Yang jelas, temple ini sejatinya memang indah. Konon, karena indahnya, temple ini sempat dijuluki sebagai Westminster Abbey-nya Burma.

Perjalanan di Bagan terus berlanjut ke beberapa kuil, antara lain Sulamani, That Byin Nyu, dan akhirnya berakhir di Shwesandaw Temple untuk menikmati sunset. Temple ini terletak cukup tinggi dan memiliki pelataran cukup luas sehingga menjadi tempat favorit untuk menunggu matahari terbenam. Sayangnya, saat itu awan mendung menutupi tenggelamnya matahari, sehingga sunset di Bagan yang konon sangat indah itu tak dapat saya nikmati.

BOKS

Tip Berpergian ke Bagan

  • Mata uang yang digunakan di Myanmar adalah kyat. Sulit untuk menemukan kyat di Indonesia, jadi lebih baik bawa uang dollar dan tukarkan di bandara.
  • Tak ada biaya masuk ke tiap temple, tapi untuk memasuki Bagan, kita diharuskan membayar admission fee sebesar $15.
  • Semua temple mengharuskan pengunjungnya membuka alas kaki, termasuk kaus kaki. Jadi lebih baik, gunakan alas kaki yang mudah dibuka.
  • Hampir seluruh lantai temple dipenuhi kotoran burung yang mengering. Sediakan tissu basah untuk membersihkan kaki.
  • Di musim panas, suhu Bagan dapat mencapai 35 derajat. Sediakanlah sunblock untuk menghindari kulit menjadi rusak.
  • Di musim dingin, tersedia balon udara untuk menikmati Bagan dari atas. Harga yang dibanderol untuk ini sekitar 300 dolar per orang.

BOKS 2

Cara Menuju Bagan

Ada 2 cara yang dapat ditempuh untuk menuju Bagan. Yang pertama dan yang paling murah adalah dengan menggunakan bus malam. Lama perjalanan sekitar 10 jam dengan harga sekitar 18.000kyat. Bus berangkat dari Yangon pada malam hari dan akan sampai di Bagan keesokan harinya. Jika ingin menggunakan bus, mintalah bantuan kepada petugas hotel untuk mem-booking bus karena kebanyakan bus tidak bisa di-booking dari Jakarta. Bus yang cukup baik adalah JJExpress, Shwe Mandalar, dan Mandalar Inn. Kondisi bus cukup nyaman, namun sediakan baju hangat karena AC-nya sangat dingin.

Yang kedua adalah menggunakan pesawat. Tak ada penerbangan langsung ke Bagan, jadi Anda harus terbang ke Mandalay. Dari Mandalay ke Bagan memakan waktu 3-5 jam. Anda dapat menggunakan taksi untuk mencapai Bagan atau meminta hotel menjemput Anda.

Oleh : Rahma Yulianti

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Mencicipi 3 Budaya di Melaka

Peninggalan Portugis dan Belanda, yang dipadu dengan budaya Cina peranakan membuat Melaka terasa unik dan berbeda.

Di tahun 1400-an, Sriwijaya diserang oleh kerajaan Majapahit. Parameswara, sang raja, terpaksa melarikan diri ke arah utara. Kapal layarnya berlabuh di sebuah tempat dan ia memutuskan untuk tinggal di daerah itu. Sang raja menamakan tempat itu “Melaka”, yang konon diambil dari nama pohon tempat ia pertama kali beristirahat.

Melaka terus berkembang pesat. Letaknya yang strategis menjadikan Malaka sebagai pelabuhan besar yang dikenal oleh banyak negara. Banyak negara yang ingin menguasai tempat ini, termasuk negara-negara Eropa. Alhasil, di tahun 1511, Portugis di bawah pimpinan Alfonso de Alburqueque mengambil alih kekuasaan Malaka. Kekuasaan Portugis berakhir di tahun 1641, ketika akhirnya Malaka jatuh ke tangan pemerintah Hindia Belanda.

Di Melalui perjanjian Anglo-Dutch di tahun 1984, Belanda menyerahkan Malaka ke tangan Inggris dan menukarnya dengan Bencoelen (Bengkulu). Ketika Malaysia merdeka, Melaka pun berpindah ke pangkuan Kerajaan Malaysia.

Sejarah panjang Melaka, membuat kota kecil ini memiliki keunikan dibandingkan kota lainnya di semenanjung Malaysia. Di sini Anda masih dapat menemukan peninggalan Belanda dan Portugis, berdampingan dengan bangunan-bangunan berarsitektur Cina yang mendominasi.

Gedung Merah Ikon Kota

Peninggalan arsitektur yang paling terkenal di Melaka adalah Stadthuys. Bangunan yang lebih dikenal dengan nama Red Building ini dibangun Belanda di bekas benteng Portugis. Bangunan dengan arsitektur kolonial yang khas ini konon meniru Stadhuis yang ada di Frisian Town of Hoorn di Belanda. Aslinya, bangunan ini berwarna putih, namun pemerintah Inggris mengubahnya menjadi warna merah. Entah apa alasan Inggris mengubah warna tersebut, namun yang jelas warna merah ini mampu memikat para pelancong untuk datang ke sana.

Stadthuys dahulu merupakan pusat administrasi pemerintahan Belanda. Kini, bangunan berlantai dua itu difungsikan sebagai Museum Sejarah Melaka dan Ethnography Museum.

Selain Stadthuys, di area ini juga terdapat sebuah bangunan yang juga berwarna merah. Bangunan tersebut adalah Crist Church, gereja yang dibangun oleh pemerintah Belanda untuk menggantikan gereja Portugis yang telah runtuh.

Sisa-Sisa Kejayaan Portugis

Selain Belanda, Portugis juga masih meninggalkan jejaknya di Melaka, walaupun hanya tersisa runtuhannya saja. Tepat di belakang Stadthuys, terdapat St. Paul Church, sebuah reruntuhan gereja

peninggalan bangsa Portugis. Saat kedatangan Belanda, bangunan ini hancur hingga hanya tersisa reruntuhannya saja.

Gereja yang dulunya bernama Igreja de Madre de Sus (Chapel of Mother of God) ini awalnya benar-benar digunakan sebagai gereja. Namun setelah Crist Church terbangun, gereja ini dipakai sebagai perkuburan. Kini, makam tersebut telah direlokasi. Nisan-nisan bekas makam Portugis tersebut kini dipajang di dinding gereja.

Di depan gereja terdapat patung St. Francis Xavier, misionaris asal Portugis yang memerintahkan untuk membangun gereja ini. Uniknya, patung ini tidak memiliki lengan kanan. Konon, sehari setelah patung diletakkan (di tahun 1952), ada sebuah pohon yang tumbang , menimpa patung dan menghancurkan tangan kanan patung ini.

Gereja ini terletak di sebuah bukit yang tidak terlalu tinggi. Selain dapat menikmati dan membayangkan keindahan gereja saat masih berdiri tegak, dari sini Anda dapat melihat pelabuhan Melaka.

Di bawah bukit terletak sisa benteng Famosa. Famosa yang berarti “terkenal” adalah benteng Portugis yang dibangun untuk menahan gempuran lawan. Sayangnya, yang tersisa kini hanya sebuah bangunan yang dulunya adalah pintu masuk benteng.

Dominasi Bangunan Cina

Jika Belanda dan Portugis hanya meninggalkan bangunan, bangsa Cina yang datang ke sini ketika zaman penjajahan Portugis berakulturasi dengan budaya Melayu dan menghasilkan budaya yang dikenal dengan nama budaya Cina Peranakan.

Hampir seluruh sudut kota kental dengan nuansa Cina Peranakan ini. Bangunan-bangunan di sana, terutama rumah, didominasi oleh bangunan-bangunan bergaya Cina. Jonker Street adalah tempat yang tepat untuk merasakan atmosfer Cina di Melaka. Jalan yang kini bernama Hang Jebat ini dipenuhi toko-toko yang menjual berbagai aksesori. Di akhir pekan, Jonker Street berubah menjadi pasar malam yang menyediakan aneka makanan dan minuman.

Di sana juga terdapat Museum Cheng Ho dan Museum Baba Nyonya. Museum ini tadinya adalah sebuah rumah milik saudagar kaya asal Cina bernama Chan. Di sini, kita dapat melihat interior asli rumah yang dibangun tahun 1861 ini.

Warna-Warni di Tepian Sungai Melaka

Objek wisata lain yang tak boleh dilewatkan di Melaka adalah sungai. Ya, sungai yang membelah kota Melaka ini dulunya adalah jalur perdagangan utama. Puluhan kapal dulunya mengangkut hasil perdagangan ke Pelabuhan Melaka. Kini, yang bisa berlayar di sini hanya kapal kecil yang mengangkut wisatawan yang ingin menikmati Sungai Melaka.

Cara lain—yang lebih asyik—untuk menikmati Sungai Melaka adalah dengan berjalan kaki menyusurinya. Di sepanjang sungai terdapat jalur pedestrian yang menyenangkan. Bangunan-bangunan

tua berarsitektur Cina yang berubah fungsi menjadi kafe-kafe mungil dan penginapan dapat Anda temukan di sini. Yang menarik, banyak bangunan yang dicat dengan warna-warna cerah, bahkan ada yang dihiasi dengan lukisan-lukisan besar nan indah.

Ketiga budaya pendatang yang berpadu dengan sedikit budaya Melayu membuat Melaka pantas dikunjungi. Wajar saja jika UNESCO menobatkan Melaka sebagai salah satu kota warisan budaya dunia.

BOKS

Menikmati Makanan 3 Budaya

Melaka juga terkenal sebagai surga kuliner. Jonker Street adalah salah satu tempat yang tepat untuk mencari makanan ini. Beberapa makanan serupa dengan makanan khas Indonesia, seperti tapai, dodol, dan cendol. Ada pula makanan khas Melayu yakni asam pedas. Berbagai bahan makanan seperti ikan, ayam, ataupun udang dapat dimasukkan ke dalam asam pedas ini. Jangan lupa, cicipi makanan yang merupakan perpaduan antara budaya Eropa dengan Melayu, yakni durian puff.

TIP

Mencapai Melaka

Melaka adalah kota kecil. Hanya butuh waktu 1-2 hari untuk mengeksplor tempat ini. Melaka dapat dicapai dari Singapura ataupun Kuala Lumpur. Dari Singapura, butuh waktu sekitar 5 jam, sementara dari Kuala Lumpur hanya butuh waktu selama 2 jam.

Oleh : Rahma Yulianti

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

 

Para Pencari Hidup di Kawah Ijen

Kabut tebal menyelimuti kawah sejak lewat waktu Subuh. Bau belerang sudah makin menyengat hingga menyesakkan paru-paru. Udara panas dari dasar kawah terasa sampai di jalur pendakian. Bagi sebagian orang, daerah sekitar kawah menjadi amat berbahaya. Namun bagi para penambang belerang, kawah Ijen menjadi tempat mereka menyambung hidup. Ironisnya, justru dengan cara menggadaikan nyawa.

Suhartono (32) perlahan menaiki jalanan yang mendaki. Ia baru memulai aktifitas untuk menambang batu-batu belerang di dasar kawah. Dua keranjang dari bambu yang dipanggungnya belum berisi apa-apa membuatnya tak begitu kesulitan mencapai puncak.

“Nggak Mas, sudah terbiasa. Setiap hari saya begini,” begitu penjelasan singkatnya saat ditanya apa dirinya merasa sulit mendaki. 

Sudah 4 tahun ke belakang, bapak seorang anak perempuan ini bekerja sebagai penambang belerang di kawah Ijen. Sebuah pekerjaan sulit yang mesti ia jalani demi menghidupi keluarganya di kampung halaman di Bangkalan, Madura. Tak banyak modal yang ia punya. Tubuhnya yang kurus tak begitu mampu membantu untuk mengangkat puluhan kilo batu belerang di punggungnya setiap hari. Hanya keranjang bambu yang menjadi senjata utamanya. Mungkin satu-satunya sumber tenaga paling besar baginya ialah keberanian.

Setiap hari, ia mesti mengangkut minimal 75 kilogram belerang. Menuruni kawah berbatu hingga ke dasar lalu mendaki lagi ke pos penimbangan yang letaknya tak kurang 1 jam perjalanan dari dasar kawah. Jika tubuhnya sedang fit, ia bahkan mampu membawa sampai 90an kilogram.

Perjalanan dari puncak menuju dasar kawah sangatlah sulit. Jalanannya berbatu dan licin. Mesti sangat berhati-hati jika tak ingin tergelincir. Belum lagi bau belerang pekat yang membuat dada sesak. Bagi orang yang tak biasa, udara bercampur belerang sangat menyakitkan mata. Apalagi penambang mesti membawa puluhan kilo batu belerang kembali ke puncak, tentu tak terbayang bagaimana sulitnya pekerjaan yang mereka lakukan.

Para penambang tak memakai perlengkapan yang layak. Mereka menggunakan kain sarung atau selendang sebagai masker. Hanya sebagian saja yang memakai sepatu bot, sisanya sudah merasa nyaman dengan sandal jepit. Tak ada helm begitu juga sarung tangan dan kaca mata. Mereka benar-benar tidak sadar bahaya mengincar dari jarak dekat.

Di perjalanan dari dasar kawah menuju puncak gunung, saya bertemu seorang mandor proyek dari pabrik yang berwenang pada kawasan penambangan tersebut.

Ia menegur saya dengan nada yang agak tinggi, “Kamu dari mana?! Di bawah itu sangat berbahaya!”

Saya tidak terlalu memperdulikannya dan berlalu begitu saja.

Dalam hati kecil, saya kecewa sekali dengan perlakuan mereka yang berwenang. Bukan karena teguran, tapi lebih kepada ketidakpeduliannya pada semua penambang belerang. Mandor itu memakai perlengkapan lengkap, mulai dari baju tambang, helm, kaca mata hitam, sarung tangan, masker berlapis, hingga sepatu bot. Mereka tahu betapa berbahaya berada di lingkungan kawah tapi mereka tak merasa perlu melengkapi penambang dengan perlengkapan yang sama.

Sampai di puncak sekitar jam 5 pagi membuat saya tak mendapat waktu yang tepat untuk sampai ke dasar kawah. Saya bertemu Pak Suhartono di perjalanan saat mendaki. Ia menawarkan diri untuk mengantar saya ke bawah.

Seorang pengunjung asal Surabaya menghampiri saya dan menyarankan untuk tidak turun.

“Mas sudah telat. Harusnya turun sejak Subuh tadi. Sekarang kabutnya sudah pekat dan bau belerangnya menyengat. Bahaya, Mas.”

Ia baru saja kembali dari lokasi penambangan. Memang sudah sejak Subuh tadi ia memulai perjalanan.

Saya jadi ragu untuk turun. Tapi di sisi lain dalam diri, ada keinginan kuat untuk sampai ke tempat para penambang menyambung hidup.

Rasa penasaran itu terkadang bisa membunuh. Sebuah pepatah yang saya yakini benar adanya.    

Pada satu titik, saya meyakinkan diri sendiri untuk berani menantang batas. Keputusan sudah bulat dan tak lagi bisa digugat. Dengan bantuan Pak Suhartono, saya menuruni jalanan terjal berbatu perlahan.

Hati-hati menjejak di bebatuan yang padat, saya beberapa kali luput menjaga keseimbangan. Untung saja ada Pak Har, panggilan beliau, yang sigap bereaksi pada saat-saat genting. Makin dekat ke kawah, semakin saya tak bisa melihat apa-apa dengan jelas. Kabut pekat menutupi pandangan. Masker dua lapis yang saya pakai tak juga banyak membantu. Bau belerang punya jalan-jalan sendiri untuk masuk ke saluran pernafasan saya.

Kaca mata tertutup serbuk belerang yang bertebaran di udara. Saya mesti menunduk untuk membersihkan lensanya. Sedikit saja mata terpapar udara, rasa pedih datang dan menyiksa.

Keyakinan makin luntur seiring semakin dalam daerah kawah yang saya tapaki.

Pak Har tak berhenti berjalan. Saya masih berusaha mengikutinya dengan keyakinan yang tersisa.
“Tunggu sebentar, Pak. Saya minum dulu.”
“Ini sudah sedikit lagi sampai ke dasar, Mas.”

Danau air tawar sudah terlihat. Dekat danau, ada mata air panas yang mengalirkan air langsung ke danau. Airnya beruap dan tak berhenti mengucur dari sumbernya.

“Airnya hangat di sini, Mas. Bisa dicoba,” kata Pak Har sambil mengambil air untuk mencuci tangannya.

Dari sana, hanya tinggal beberapa langkah menuju lokasi utama penambangan belerang.
Saya cukup takjub melihat apa yang ada di hadapan. Ada enam tong besar dari seng yang tak berhenti mengeluarkan uap panas. Di bawah tong-tong besar itulah sumber belerang yang ada di kawah ini.

Ada tiga penambang yang sedang menghancurkan batu-batu belerang di sekitar lokasi. Mereka tak memakai masker. Satu di antaranya hanya menggunakan sendal jepit. Mereka tersenyum melihat kedatangan saya dan Pak Har. Raut wajah mereka juga menyibak keterkejutan.

Tak lebih dari lima menit saya berada di dasar kawah. Saya tak kuat lagi berlama-lama di sana. Udara di sekitar yang panas membuat saya sangat tidak nyaman. Lalu saya mengajak Pak Har untuk kembali ke puncak. Perjalanan mendaki tak lebih mudah dari perjalanan turun.

Namun, saya punya bekal keyakinan yang sudah kembali penuh. Saya berhasil mengalahkan ketakutan diri hingga kini tahu benar pekerjaan yang para penambang itu jalani di sini.

Kehidupan Pak Suhartono dan para penambang lain adalah sebuah kisah megah tentang perjuangan. Perjuangan yang bagi mereka amatlah biasa. Tapi untuk saya, dan mungkin juga orang lain, sangatlah mulia dan mengagumkan.

Bagi para penambang belerang di kawah Ijen, bahaya bukanlah momok yang menakutkan. Ia dekat dengan pekerjaan mereka sehari-hari. Mereka sadar itu. Tapi mereka menganggap itulah hidup yang mesti mereka jalani dengan setulus hati. Demi sebuah tujuan yang lebih besar, untuk masa depan keluarga dan anak-anaknya.

Oleh : Bayu Adi Persada

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Terpikat Keindahan Alam Mount Cook National Park, New Zealand

 

Hari keempat di New Zealand, pada bulan Desember 2016, saya dan keluarga melakukan perjalanan dari kota Queenstown menuju kota Christchurch dengan bus  Great Sights.  Pukul 07.30 bus berangkat dari The Rees hotel tempat kami menginap, dengan operator seorang driver yang merangkap jadi tour guide, beliau tak lagi muda, namun di usianya yang sudah senja mampu seharian menemani perjalanan kami, mantap sekali staminanya pak.

Sebelum perjalanan , Om berpesan pada saya dan keluarga “perjalanan hari ini akan disuguhi pemandangan yang sangat indah, kalau bisa jangan tidur.” Mendengar kalimat beliau saya langsung semangat!  Benar sekali, baru saja beberapa km kami meninggalkan kota Queenstown, mata saya langsung melek, wow tidak menyangka seindah itu. Untuk perjalanan kali itu saya sengaja tidak searching google, saya ingin tahu seberapa mengejutkannya pengalaman baru yang akan saya lalui hari itu. Padahal sebenarnya di bus tersedia free wifi yang super kencang, tapi karena terpesona memandang alam dari balik kaca,  maka saya tak ingin melewati moment tersebut, tidak update status di social media manapun. Kabar baiknya cuaca hari itu sangat cerah, setelah beberapa hari di kota Queenstown mengalami anomali cuaca dari dingin, turun hujan, turun salju, kemudian cerah, terus mendung padahal lagi musim panas, musim panas dengan sensasi rasa musim dingin. Alhamdulillah kami beruntung akan ikut tur dengan cuaca cerah dihari terakhir liburan di New Zealand.

Keindahan yang tersaji sepanjang perjalanan melihat rerumputan hijau, perbukitan yang megah, lahan pertanian yang tertata rapi, indah sekali. Beberapa jam kemudian, kami berhenti di Marino Country Cafe untuk istirahat selama kurang lebih setengah jam, free time nya bisa untuk belanja oleh-oleh khas New Zealand, saya perhatikan disana masih terhitung banyak rumah penduduk (sepanjang perjalanan jarang sekali melihat pemukiman padat penduduk, negeri ini penduduknya sedikit).  Setelah cukup istirahatnya kemudian bus pun melaju kembali, driver dan assistant-nya mengecek jumlah penumpang.  Bus yang kami tumpangi penuh dengan para turis dari berbagai negara. Dari Indonesia hanya saya dan keluarga, kebanyakan bule, ada beberapa turis Jepang, Korea, India.

Saya pun kembali menikmati perjalanan, driver-nya menjelaskan bahwa gunung yang tampak dari bus adalah Mount Cook, saya langsung takjub, tak menyangka akan melihat gunung, dengan puncaknya dibalut salju abadi, saya berdoa semoga bisa melewatinya, semoga  driver-nya  berhenti, ternyata setengah jam kemudian pak driver berhenti di spot keren dan mempersilahkan kami turun dari bus, dan foto-foto tentunya. Turun dari bus, jeng jreng ternyata spotnya pas banget bisa melihat pemandangan Mount Cook dari Lake Pukaki yang indah sekali, sebuah danau yang sangat bersih, berbalut perbukitan menawan dengan disuguhi keanggunan gunung tertinggi di New Zealand.

Dalam tur keliling sehari penuh dari Queenstown ke Christchurch, ternyata melalui perjalanan ke kaki gunung tertinggi Selandia Baru, Aoraki / Mount Cook (3,724 meter).  Wow bagian South Island ini pemandangannya magic sekali.  Selesai berfoto, bus pun melaju dan keindahan alamnya semakin mempesona, memanjakan mata saya.  Semakin bus melaju, rasanya kok saya semakin dapat melihat jelas Mount Cook, saya ingin sekali turun dari bus, tapi takut ditinggal haha, karena jalannya mulus dan sepi, tidak banyak kendaraan, tak ada polusi, udara bersih, kan saya jadi betah.  Alhamdulillah akhirnya setelah jam makan siang kami istirahat, diberikan waktu sekitar satu jam, kami berhenti di Mount Cook Village.  Dikarenakan fokus utama saya dan keluarga saat itu mencari restoran karena sudah lapar, tapi ternyata kok penuh, akhirnya dapat tempat dipojok.  Setelah selesai memesan, sambil menunggu pesanan, saya mulai memperhatikan sekitar, ternyata view yang saya dapatkan Mount Cook dari jarak cukup dekat.  Tidak menyangka, senang, bahagia, terharu, benar-benar hari yang menakjubkan. Kami makan siang pizza rasa keju dan pizza yang ada ikan salmon dengan view Mount Cook (hati saya riang sekali, takjub merasakan suasana yang begitu indah, pemadangan indah nan sejuk memanjakan mata).  Selesai makan kami keluar menikmati dinginnya udara namun terasa bersih.  Dekat dengan tempat kami makan, di bawahnya satu lantai ada museum Sir Edmund  Hillary dan dibelakang saya ada tulisan welcome to Sir Edmund Hillary Alphine Centre (bagi para pendaki gunung, pastilah kenal dengan sosok beliau yang tersohor dan melegenda, orang pertama yang mencapai puncak Everest, gunung tertinggi di dunia).  Sayangnya karena waktu yang terbatas dan harus segera ikut rombongan tur di bus, dengan berat hati meninggalkan tempat  tersebut, bus pun melaju namun keindahan yang tampak dari balik kaca, semakin indah dan eksotis dipandang mata.

Sore hari, perjalanan melewati  Danau Tekapo yang sangat cantik, dibalut perbukitan hijau dan pegunungan salju,  kita  bisa melihat church of the good shepherd   dengan latar belakang danau, gletser biru yang menawan, dengan view Mount Cook,landscape yang sungguh spektakuler, membuat saya semakin terpikat dengan keindahan alam taman nasional Mount Cook.

Kami berhenti sebentar, dan melanjutkan perjalanan melalui beraneka ragam lahan pertanian yang hijau,  bertebaran sabana luas tempat ribuan domba dan sapi merumput.  Hari sudah malam walaupun tampak siang karena kalau musim panas sekitar jam 9 malam, baru mulai gelap. Pokoknya perjalanan hari itu saya diajak untuk meng-explore the real New Zealand, sungguh pengalaman yang berkesan menikmati setiap kejutan yang didapatkan hari itu. Akhirnya kami tiba di tempat ramai, disana kami berhenti untuk istirahat, dan bagi yang ingin, bisa membeli souvenir khas New Zealand yang keren-keren tapi mahal, maka saya lebih senang jajan ice cream khas negeri tersebut, lupa namanya tapi enaaaak sekali, sebuah penutup yang indah untuk melengkapi traveling saya selama satu hari tur dengan bus meng-eksplore sebuah negera yang sangat terkenal setelah film The Lord Of The Ring, ketika hari sudah gelap, sampailah kami di kota Christchurch. Beberapa penumpang masih dalam bus, saya dan keluarga berhenti tepat di hotel tempat kami akan menginap beberapa jam saja, sekitar jam 4 pagi kami ke bandara International Christchurch untuk melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.

Hari yang sangat menyenangkan, wisata alam yang mengenyangkan mata dan hati, karena pemandangan  yang saya dapatkan, membuat saya tercengang setiap saat selama perjalanan menikmati setiap sudut cantik yang tersaji, alhamdulillah itu merupakan sebuah pengalaman yang sangat menakjubkan untuk saya.

Oleh : Ai Latifah

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Bauran Seni, Sejarah, dan Budaya di George Town

Cuaca terik tak menyurutkan niat saya untuk menelusuri jalan-jalan kecil di George Town, kota kecil yang cukup tenar di kalangan pejalan dunia. Biarpun kasur empuk dan sejuknya udara dari pendingin ruangan seperti merayu-rayu untuk tetap mengurungkan diri di balik selimut. Maklum, saya baru sampai dari Kuala Lumpur pagi sekali dan sedikit istirahat harusnya tak masalah. Namun karena takut terlalu terlelap sehingga melewatkan banyak waktu, saya pikir lebih baik mengakhirkan istirahat di malam hari saja.

Secara geografis, George Town terletak di Pulau Pinang yang berada di sebelah barat semenanjung Malaysia. Sedangkan dalam struktur kedaerahan, Pulau Pinang berada dalam negara bagian Penang. Memang agak berbeda dengan negara kita soal struktur kedaerahan ini sehingga masih banyak yang keliru menyebutkan Penang itu sebuah kota.

Selama di George Town, saya menginap di East Indies Hotel yang terletak di Lebuh China, hanya berjarak 100 meter dari pusat kota. Hotelnya sendiri memang berupa bangunan tua yang dialihfungsikan menjadi hotel. Hampir semua struktur bangunan masih seperti aslinya. Nuansa pecinan kuno amat kental terasa di dalamnya. Ada juga foto-foto kuno yang konon pemilik rumah ini di tahun 1800-an. Tentunya juga ada perkakas, lukisan, lemari, dan bahkan kuno yang disusun rapi menjadi ornamen hotel.

Keluar dari hotel, saya berjalan menuju Lebuh Armenian. Saya ingin sekali berburu mural yang terlukis cantik di dinding-dinding bangunan. Terkadang, mural-mural ini tersembunyi di gang-gang kecil atau di balik warung tenda. Untungnya, ada peta yang membantu saya menunjukkan di mana mural-mural ini berada.

Meski tak begitu mengerti seni, siapapun tak akan jemu menghabiskan waktu melihat keunikan mural-mural ini. Terkadang, seni itu tak perlu dimaknai serius. Setidaknya itu menurut saya. Bagi kebanyakan orang seperti saya, seni itu dirasa dan dinikmati. Dari sekian banyak mural, lukisan anak bersepeda dan ayunan kerap jadi spot foto hingga banyak orang rela mengantri. Memang tak lengkap rasanya ke George Town tanpa mengambil foto di kedua mural ini. Beberapa mural juga ada yang sangat sederhana. Salah satu contoh mural kucing berjejeran di samping saluran air. Sangat mungkin banyak orang melewatkannya karena tak begitu kentara terlihat. Apresiasi tinggi untuk para seniman yang menggambar semua mural ini dengan segala makna dan penempatannya yang terkadang tak terduga.

George Town tak hanya tentang mural. Lebih dalam lagi, Pulau Pinang secara umum juga erat dengan sejarah di mana di awal abad 15, para pelaut Tiongkok tercatat sampai di semenanjung Malaka untuk melakukan perdagangan. Raturan tahun kemudian, Penang menjadi bagian dari kesultanan Kedah sampai di akhir abad 18, Inggris mengambil alih Pulau Pinang sebagai daerah koloni. Seperti juga beberapa daerah di Indonesia, arsitektur Inggris jelas terpatri pada beberapa bangunan penting di kota ini. Memang banyak bangunan bersejarah dari zaman koloni Inggris yang masih tegak berdiri dan dialihfungsikan menjadi bank, hotel, ataupun bangunan pemerintah.

Di setiap sisi kota, corak Melayu kuno tetap menjadi mayoritas. Golongan bumiputera, istilah untuk etnis suku Melayu, memang masih menjari mayoritas penduduk di Penang walaupun tak berbeda jauh jumlahnya dengan etnis keturunan Tiongkok. Sisanya, sekitar sepuluh persen penduduk keturunan India dan etnis lain. Jadi tak perlu heran ada Lebuh India yang dipenuhi warga etnis yang tentunya beragama Hindu.

Pemerintah mengatur seluruh arsitektur bangunan tidak boleh diubah sehingga masih sangat terlihat corak budaya aslinya. Komitmen ini membuahkan hasil di tahun 2008 saat George Town dinobatkan oleh lokasi warisan dunia oleh UNESCO. Dari sini, pendapatan warga dan kota dari pariwisata semakin meningkat.

Langkah saya sampai di ujung sebuah jalan. Senyum terurai saat melihat puntung-puntung rokok raksasa seakan menembus dinding. Tentu saja bukan puntung rokok sebenarnya. Di bawahnya ada mural seseorang yang memakai masker tebal. Lagi-lagi karya unik ini jadi ekspresi seni sang seniman yang mengundang decak kagum turis-turis yang lewat. Pesan sederhana tentang bahaya rokok namun dikemas dengan amat tak biasa.

Keesokan harinya, memutuskan menaiki bis wisata dengan atap terbuka membuat saya bisa terduduk santai mengelilingi Pulau Pinang sambil menikmati sejuknya angin yang bertiup dan menyamarkan terik matahari. Saya sampai di Bukit Penang siang itu. Untungnya karena bukan hari libur, tak begitu banyak pengunjung sehingga antrian pun belum mengular. Cuaca pun sedang bagus-bagusnya dengan langit cerah bermosaik gumulan awan. Pemandangan luar biasa dari atas sini. Padatnya bangunan di tengah kota, pepohonan hijau dan perbukitan yang mengelilinginya, birunya air laut, dan putihnya awan membuat kolase pemandangan yang sempurna. Saya jadi ingin sedikit berlama-lama sambil menyeruput teh manis dan mengudap kentang goreng.

Saya turun di halte dekat pantai saat hari menjelang sore. Matahari sudah mulai condong ke barat. Kampung Jetty, pemukiman di atas laut yang konon sudah berusia ratusan tahun, jadi tujuan selanjutnya. Di depan pemukiman, gapura besar warna merah dengan ornament naga khas Pecinan menyambut kami. Masuk ke pemukiman, aroma dupa yang dibakar sudah tercium. Semua bangunan dan jalan terbuat dari kayu-kayu yang tersusun sejajar. Tak ada semen, apalagi aspal. Toko-toko sudah tutup. Tak banyak kegiatan terlihat. Kebanyakan penduduk sudah kembali ke tempat tinggalnya untuk bersiap menutup hari.

Di ujung kampung, suasana tenang kian terasa. Hanya lompatan yang memisahkan laut dengan lantai kayu tempat saya berdiri. Tak terdengar lagi suara kendaraan. Hanya ada suara burung dan desiran ombak. Bagi saya yang tak terlalu suka keramaian, suasana seperti ini selalu dicari. Di ufuk barat, matahari mulai terbenam dan malam pun menjelang. Hari terakhir saya di Penang ditutup dengan amat berkesan.

Di sebuah warung kecil, saya memesan segelas teh tarik hangat. Entah kenapa, menurut saya, rasa teh tarik ini berbeda dengan yang biasa saya pesan di kafe-kafe di Jakarta. Mungkin rasa sentimentil yang turut andil menambah kenikmatan. Semakin saya jauh melangkahkan kaki, semakin saya sadar kota ini sejatinya adalah bauran banyak hal. Ungkapan seni di ujung-ujung jalan dan sudut-sudut kota. Juga catatan sejarah panjang dari ratusan tahun lampau. Dan tentu saja, beragam corak budaya yang selalu berhasil jadi daya tarik bagi siapapun yang sudi singgah.

Oleh : Bayu Adi Persada

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Jelajah Sumba

Sebelumnya, saya belum pernah mengunjungi bagian Timur Indonesia. Jangan jauh-jauh deh, traveling ke Lombok saja, pulau terdekat dengan Bali, belum. Namun, saya bangga karena akhirnya saya berhasil menginjakkan kaki dan bahkan bisa menjelajahi sebagian kecil dari keindahan salah satu pulau terbesar di Indonesia Timur, Pulau Sumba.

Selama kurang lebih satu setengah jam perjalanan dengan pesawat dari Bali, saya tak henti-hentinya memikirkan tentang pulau ini; bagaimana di sana, bagaimana orang-orangnya, apa saja yang bisa dieksplor, apa di sana masih primitif, dan lain-lain. Tapi karena takut terlalu banyak ekspektasi, saya memutuskan untuk tidak terlalu memikirkannya, yang penting nikmati saja perjalanan ini dan lihat bagaimana setelah sampai di sana.

Ternyata Sumba itu sangat luas, bahkan di daerah Sumba bagian Barat masih ada beberapa desa yang tidak dialiri listrik, kalaupun ada listrik hanya dinyalakan dari pukul 6 sore sampai 10 malam.

Bagaimana dengan jalanannya? Siap-siap menjadi penumpang ala off road, karena jalanan masih tanah dan berbatu.

Terus sinyal di sana bagus gak? Saya sarankan kalian menyiapkan provider selular Telkomsel, karena hanya provider itu yang bisa digunakan di sana. Saya baru tahu saat sudah di bandara kalau provider lain tidak bisa digunakan, alhasil selama di Sumba saya menjadi fakir WiFi hotel, itu pun hanya bisa digunakan di restorannya. Hiks. Untungnya teman-teman berbaik hati menawarkan tethering atau berbagi koneksi internet dengan provider mereka. Terima kasih, guys!

Orang-orangnya bagaimana? Secara umum, orang-orang Sumba ramah dan gaul. Berhati-hatilah karena di Sumba bagian Barat anak-anak kecilnya sering malakin turis. Saya pun sempat dipalak saat berkunjung ke salah satu desa adat di sana. Namun, hal itu hanya saya rasakan di Sumba Barat. Di Sumba Timur, anak-anak di sana sudah lebih sopan dan berpikiran lebih moderen. Mungkin karena daerah ini lebih dekat dengan Flores di mana pusat ekonomi dan pariwisata pun lebih maju. Hal yang menarik yang saya amati masih banyak orang-orang Sumba, baik tua maupun muda masih nyirih! Bagi mereka itu sebuah tradisi yang sudah sangat mendarah daging. Salut.

Bisa explore pulau dengan motor? Bisa, tapi buat saya lebih enak dengan mobil karena akan lebih aman dan nyaman. Kalau kalian memang explorer sejati, ya silakan saja naik motor. Hehehe.

Apa saja yang bisa dieksplor di Sumba? Sumba memiliki banyak spot untuk dijelajahi, seperti pantai, danau, air terjun, dan bukit. Mungkin masih ada banyak lagi, karena saya pun mengeksplor sebagian kecil saja.

Nah, berikut 7 top destinations yang sempat saya jelajahi:

Desa Adat Ratenggaro
Terletak di Sumba Barat Daya, desa ini menjadi salah satu tempat yang wajib dikunjungi bila ingin melihat bagaimana penduduk Sumba asli tinggal dengan berbagai adat-istiadatnya. Jujur saya tidak hafal bagaimana menuju ke desa ini, karena saya orangnya yang sangat pelor (nempel molor) dan tanda jalan pun tidak ada. Yang jelas perjalanan menuju ke sini ditempuh dalam kurang lebih 2 jam-an dari Bandara Tambolaka, Sumba Barat. Bila sudah di sini, jangan heran kalau langsung “disambut” alias dikerumuni oleh anak-anak lokal atau penduduk sana yang menjual aksesoris dan benda-benda khas, seperti kalung, gelang, sasando, dan lain-lain. Hati-hati saat kalian foto-foto anak-anak di sana karena saat sesi foto berakhir mereka akan meminta sejumlah uang. Saya tidak memberi karena buat saya itu tidak baik bagi cara berpikir mereka, dan saya tidak mau tiap turis yang tak sengaja foto dimintai uang. Namun, saya kira wajar karena di sana memang masih cukup terpencil dan belum terjamah hal-hal moderen. Bagusnya, kalian akan bisa melihat pantai yang indah dari atas desa ini.

Pantai Mawanna
Tidak jauh dari Desa Adat Ratenggaro, terdapat satu pantai yang saya rasa masih baru. Saking barunya, di geotag pun tidak muncul nama tempatnya. Pantai Mawanna namanya. Jalan menuju ke tempat ini indah, karena melewati jalan panjang dengan ilalang hijau dan tiap kali melihat anak-anak mereka akan da-da da-da. Berasa artis deh. Hahaha. Setelah sampai pun, masih harus menuruni jalan tanah berbatu dan agak licin untuk sampai ke pantainya.

Danau Waekuri

Danau ini unik karena ia terhubung langsung dengan pantai. Airnya yang berwarna biru toska dan sangat jernih membuat danau ini cocok untuk berenang atau sekadar nyebur dan main air. Agar lebih asyik, kalian juga bisa lompat dari atas dan langsung nyebur ke danau. Seru benar!

Air Terjun Lapopu

Air terjun ini menjadi salah satu iconic spots di Sumba. Untuk menuju ke sana memang harus menyusuri jalan turunan yang cukup jauh, tapi tidak terlalu jauh juga, dan jalannya juga tidak berat. Namun, hal itu akan terbayar saat sudah sampai di air terjun ini. Kalian bisa berenang di airnya yang jernih dan sangat menyegarkan.

Bukit Wairinding

Bisa jadi tempat ini yang paling menjadi ikon Sumba. Bukit yang dikelilingi banyak layer ini memang sangat indah. Saya pun tidak berhenti berdecak kagum saat berada di sana. Walau untuk menuju ke sana harus melewati banyak tikungan tajam, tapi saya jamin hal itu akan terbayar dengan indahnya pemandangan di sana. Waktu yang tepat untuk ke sana adalah saat matahari terbenam.

Bukit Persaudaraan

Tak jauh dari bandara Waingapu, terdapat satu bukit yang juga indah, namanya Bukit Persaudaraan. Bukit ini menawarkan pemandangan yang sesuai waktu. Di siang hari kalian akan dimanjakan dengan pemandangan petak-petak sawah yang indah dari atas bukit, sedangkan di malam hari pemandangan Milky Way yang spektakuler bisa kalian nikmati. Mantap, bukan?

Pantai Walakiri

Ini dia tempat yang paling favorit bagi saya. Pantai Walakiri atau nama kerennyai adalah Dancing Tree Beach karena ada kumpulan pohon mangrove yang memang terlihat seperti sedang menari dari kejauhan. Cantik. Yang bikin pantai ini jadi favorit saya adalah karena pantai ini sangat indah, baik saat maupun sebelum sunset. Lighting-nya super oke menurut saya dan tidak terlalu harsh. Bagi yang gemar foto-foto pantai ini sangat pas dan saya yakin kalian akan betah berlama-lama di sini. Plus, kalian bisa main ayunan di tepi pantainya sambil menikmati indahnya pantai dengan angin sepoi-sepoi. Surga.

Saya yakin masih banyak tempat yang bisa dijelajahi di Sumba. Lain kali saya bila memiliki waktu yang lebih lama, saya akan eksplor lebih banyak lagi tempat. Barangkali kalau dengan menjelajah dengan motor akan lebih seru, ya? Kenapa tidak?

Oleh : I Wayan Susada Arimbawa

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Jalan-jalan ke Istana Negeri Dongeng

Saat saya berencana traveling ke Jerman, entah mengapa saya tidak memilih Berlin sebagai tujuan utama, melainkan Munich atau orang Jerman menyebutnya dengan nama Munchen. Sebenarnya saya masih buta tentang kota satu ini. Pokoknya yang penting ke sana dulu, mau ke mananya bisa dipikirkan nanti. Perjalanan yang cukup panjang dari Amsterdam dengan bus (lagi) memungkinkan saya untuk menelusuri lebih banyak lagi tentang Munich lewat internet.

Setelah browsing-browsing, disebutkan dalam beberapa situs kalau di Munich ada salah satu destinasi di mana terdapat istana yang mengispirasi Disney dalam fairytale series-nya. Menarik! Namun, untuk pergi ke tempat ini harus menempuh jarak paling cepat sekitar 2 jam dengan kereta dan setelah sampai harus trekking sedikit. Okelah.

Awalnya agak bingung bagaimana caranya ke sana kalau sendirian. Untungnya di hostel saya nemu brosur yang menyediakan beberapa tur ke tempat-tempat wisata, termasuk ke tempat istana negeri dongeng ini. Besoknya sekitar pukul 8:30 pagi saya langsung bergegas ke tempat meeting point, karena turnya dimulai pukul 9 pagi. Sampai di sana, ternyata lumayan banyak turis yang tertarik dengan tur ini, jadilah peserta tur dibagi menjadi dua grup: grup Spanish speaking dan English speaking. Ya, memang cukup banyak turis berbahasa Spanyol di Eropa dan mereka tidak terlalu fasih berbahasa Inggris.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan kereta, tibalah kami di Füssen. Walaupun sedang spring, tapi cuaca masih berawan dengan temperatur dingin yang bikin tangan dan muka beku. Namun, terbayar dengan pemandangan yang spektakuler indahnya. Tur guide kami yang orang Irlandia menjelaskan bahwa istana ini dibangun oleh Raja Ludwing II yang mencintai seni dan keindahan, dan beliau sangat ingin membangun sebuah istana yang indah. Bisa dibilang Raja Ludwig II ini raja Bayern yang paling nyentrik kala itu.

Jalur trekking-nya ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan. Jalannya sudah bagus walau dengan tergopoh-gopoh saya berjalan bareng orang-orang bule yang tinggi dan berkaki panjang. Dan sampailah saya di jembatan tempat melihat istana ini yang terkenal dengan nama Neuschwanstein Castle atau The Faiytale Castle. “Wow, bagus banget!” gak berhenti saya menyebutkan kalimat itu. Kagum, istana yang dibangun pada abad ke-19 ini masih terawat dengan baik dan dijadikan salah satu sumber penghasilan wisata utama. Hebat.

Selain istana utama ini, ada juga istana yang lebih kecil yang dulunya digunakan sang Raja untuk tinggal sementara sambil mengecek pengerjaan istana ini. Walau lebih kecil, tapi tidak kalah indahnya. Kalau saja cuaca tidak sebegitu dinginnya saya pasti betah diam di sana mandangin istana ini sambil berkhayal nyanyi-nyanyi ala Pangeran yang mencari sang Putri untuk memadu kasih. Hahaha.

Uniknya, masih ada beberapa bagian dari istana ini yang belum selesai dibangun. Kata tur guide saya, istana ini memang belum selesai hingga Raja Ludwig II meninggal. Yang saya sesali, saya tidak masuk ke dalam Neuschwanstein Castle ini karena satu dan lain hal. Untuk masuk ke dalam istana harus bayar seharga 12 Euro. Namun tidak masalah, itu akan menjadi alasan saya untuk kembali jalan-jalan ke istana negeri dongeng ini suatu hari nanti.

Oleh : I Wayan Susada Arimbawa

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

[Jakarta] Diskon 20 Persen untuk Semua Mainan

Tak hanya orangtua yang senang mendapat harga hemat untuk berlibur. Di KTF 2017 buah hati Anda juga bisa mendapatkan mainan favoritnya dengan harga spesial.

Ya, di booth Toys Kingdom, tersedia beragam mainan untuk putera-puteri tersayang mulai dari hot wheels, koper, boneka, hingga mainan figur dan kereta. Semuanya didiskon 20 persen. Hemat bukan!

Bahkan untuk melatih imajinasi dan keterampilan motorik halus anak, Toys Kingdom menawarkan mainan Kiddy Star Builders dalam paket istimewa.Cukup merogoh kocek Rp 49.900, Anda bisa membelikan tiga paket Kiddy Star Builders untuk si kecil. [AJG]

12