Travel More, Explore More

Awal​ ​Mula​ ​Bisa​ ​Ke​ ​Filipina

Malam hari itu smartphone saya berdering, terdengar suara teman lama di ujung telpon “Gan! ke Filipina yuk!? kita nonton AFF sekalian jalan-jalan nanti. Cebu lagi ada promo tuh 700 ribu, kapan lagi coy nonton timnas Indonesia away ke Fillipina, gimana?” tanpa banyak berfikir saya langsung menjawab “berangkat​ ​gan!”

 

Begitulah percakapan awal yang membawa saya ke negara berbahasa Tagalog ini. Hari ini merupakan hari ke-3 kami berdua berada di kota Manila. Mulai dari keliling kota Manila, menyaksikan Timnas Garuda berlaga di ajang AFF, hingga makan balut sudah kami lakukan. Balut merupakan janin bebek berusia​ ​belasan​ ​hari​ ​yang​ ​hampir​ ​matang​ ​dan​ ​salah​ ​satu​ ​makanan​ ​favorit​ ​masyarakat​ ​Filipina. Setelah mencapatkan sedikit info dengan pemilik hostel, siang itu kami memutuskan untuk pergi ke Zambales. Kota kecil di sebelah utara kota Manila. Tujuan kami sesungguhnya bukanlah kota Zambales itu​ ​sendiri,​ ​melainkan​ ​pulau​ ​kecil​ ​yang​ ​ada​ ​di​ ​sebrang​ ​Zambales​ ​bernama​ ​Anawangin.

 

Menuju​ ​Zambales,​ ​Sebuah​ ​Kota​ ​Antah​ ​Berantah

Perjalanan dari kota Manila menuju kota Zambales membutuhkan waktu kurang lebih 6 hingga 7 jam menggunakan bus. Bayangan kami, kota Zambales memiliki area untuk para wisatawan mancanegara seperti Bangla Road di Phuket, atau Pub Street di Siem Reap. Namun ketika kami turun dari bus, semua yang​ ​sudah​ ​kami​ ​bayangkan​ ​sebelumnya​ ​buyar​ ​seketika.

 

Kenek bus langsung menurunkan kami ketika melewati jalan protokol utama kota Zambales. Sunyi dan senyap menghampiri kami, padahal saat itu waktu baru menujukan jam 8 malam. Seperti berada di tempat antah berantah. Tidak ada penginapan ataupun pedagang kaki lima. Hanya ada beberapa tukang becak motor di persimpangan yang tidak peduli dengan kedatangan kami, juga satu toko roti yang terlihat masih melayani pelanggan. Bingung harus kemana, kami akhirnya menemukan secercah harapan. Terdapat sebuah toko 7-11 tidak jauh dari jalan tempat kami diturunkan. Untungnya, toko tersebut masih buka. Kami langsung bergegas masuk, membeli 2 botol galon ukuran mini dan beberapa snack hingga makanan siap saji untuk bekal di pulau Anawangin. Kami sempat berusaha menanyakan kepada kasir cara terbaik menuju Anawangin pada malam itu, namun hasilnya nihil karena terkendala bahasa.

 

Setelah urusan perbekalan selesai, tiba-tiba ada seorang pria lokal menghampiri kami. Dia menanyakan tujuan kami dengan bahasa inggris yang sedikit terbata-bata. “pundaquit beach”, “Anawangin” jawab
saya. Pundaquit merupakan pantai dimana kapal-kapal kecil menuju Anawangin berada. “​Okay, give me 150 peso ​ ”katanya, saya menawar “​how about 100 ​ ?” . Dia menjawab​“it’s night, okay 120 peso” ​ . “​Deal! ​ ” jawab​ ​kami​ ​berdua.

 

Dengan sedikit rasa khawatir, kami mulai menyusuri gelapnya jalanan , tak ada penerangan kecuali lampu dari becak motor yang kami tumpangi. Suasana terasa sedikit mencekam ketika kami melewati hutan dengan pohon-pohon besar yang menjulang tinggi. Sambil berdoa dalam hati, kami akhirnya sampai di lokasi tujuan. Butuh waktu sekitar 20 menit untuk sampai di pantai Pundaquit. Malam itu rencana kami cuma dua, memasang tenda yang kami bawa, dan tidur hingga esok pagi. Gonggongan anjing liar yang tak ada henti-hentinya sudah tidak lagi kami hiraukan. Pada saat itu hati memang tidak pernah bisa berbohong, kami berdua merasa cemas dan sedikit ketakutan pada malam itu. Berharap pagi​ ​segera​ ​tiba​ ​adalah​ ​doa​ ​yang​ ​saya​ ​ucapkan​ ​sebelum​ ​tertidur.

 

Pagi menyapa, matahari keluar dengan hangat dari peraduannya. Kami membereskan tenda dan makan roti seadanya. Terdapat beberapa orang di sekitar bibir pantai. Setelah bertanya-tanya, kami menemukan seorang nelayan yang mau mengantarkan ke pulau Anawangin dengan sistem antar jemput. Perjanjiannya adalah pagi ini mengantar kami ke Pulau Anawangin, lalu besok menjemput kami untuk kembali ke Pundaquit. 1200 peso adalah harga yang harus kami bayar. Sekitar 300 ribu rupiah. Ya, cukup​ ​mahal​ ​jika​ ​hanya​ ​dibagi​ ​berdua.

 

Ini​ ​Dia​ ​Si​ ​Anawangin!

Perjalanan membelah lautan dimulai. Bukit- bukit berwarna hijau kecoklatan, dan air berwarna biru menemani perjalanan menuju Anawangin. Setelah 30 menit perjalanan, akhirnya kami sampai di Pulau Anawangin. Pasir putih, pohon-pohon tinggi menjulang, bukit savana, dan air laut berwarna hijau tosca adalah sekelumit gambaran Pulau Anawangin. Luar biasa indahnya, semua lelah, susah, juga kekhawatiran yang kami lalui terbayar lunas ketika berada di pulau ini. Hanya ada 2 hingga 3 kelompok pengunjung lokal di Anawangin membuat pulau serasa pulau sendiri. Ternyata, pulau ini memang bukanlah destinasi para wisatawan mancanegara. Mungkin kami berdua adalah orang Indonesia pertama​ ​yang​ ​pernah​ ​ke​ ​sini.​ ​Mungkin,​ ​ya.

 

Tenda sudah berdiri persis menghadap pantai, Hammock telah diikat dengan mantap, saatnya menikmati Pulau Anawangin. Waktu siang kami habiskan untuk ngobrol satu sama lain dan tidur siang di hammock. Menjelang sore kami bangun untuk menyaksikan matahari terbenam indah. Semua terjadi persis di depan tenda kami. Mungkin ini adalah salah satu Sunset terindah yang pernah saya lihat, ditempat yang bisa dibilang antah berantah. Saking bahagianya, kami berlari-larian dan loncat-loncatan seperti​ ​anak​ ​kecil.​ ​Suara​ ​deburan​ ​ombak​ ​menambah​ ​syahdu​ ​dan​ ​romatis​ ​suasana​ ​kala​ ​itu.

 

Hari mulai memasuki malam. Tak ada penerangan sama sekali di pulau tersebut. Untungnya kami sudah menyiapkan​headlamp ​ . Namun apa daya, bintang pada malam itu layaknya butiran pasir. Langit seolah dipenuhi bintang, begitu menawan. ​Headlamp pun serasa tak berguna. Malam itu pun diri mulai berkhayal kejadian-kejadian yang membawa sanpai ke pulau ini. Hati ikut-ikutan mulai berbicara sendiri. Traveling memang perlu keluar dari zona nyaman. Menjelajah perlu keberanian, cukup sedikit keberanian, asalkan percaya bahwa sang penguasa alam akan menjaga selama perjalanan. Mungkin jika hanya di hostel dan keliling Manila ceritanya akan berbeda. Ah! Mata mulai terpejam perlahan-lahan. Kantukpun​ ​tak​ ​bisa​ ​ditahan​ ​hingga​ ​akhirnya​ ​jiwa​ ​dan​ ​raga​ ​terlelap.

Oleh : Abdurrahman​ ​Karim​ ​Zaidan, 2017

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

[Surabaya] Gratis ke Jepang dengan Tukar Poin

Hari kedua Kompas Travel Fair 2017 di Ciputra World Surabaya, Sabtu (2/9), pengunjung tetap ramai. Pameran ini tak hanya menghadirkan paket wisata tour & travel, tetapi ada juga promo tiket pesawat, hotel, dan koper.

Harian Kompas sebagai penyelenggara acara juga ikut andil dalam kegiatan KTF 2017 dengan memberikan banyak hadiah undian Lucky Spender seperti pouch Kompas Travel Fair, voucer belanja, kecantikan, kesehatan, menginap hotel dan tiket PP Jakarta – Jepang. Hadiah bisa didapat dengan cara menunjukkan bukti transaksi minimal Rp 500 ribu yang akan ditukarkan 1 poin dan seterusnya, berlaku kelipatan.

Semakin besar jumlah transaksi yang dilakukan, semakin banyak juga poin yang terkumpul dan mempunyai kesempatan besar untuk memenangkan hadiah undian Lucky Spender. Pemenang Lucky Spender akan diumumkan melalui website travel.kompas.id pada 4 September 2017. [NP/ACA]

Penerbangan yang Spektakuler menuju Queenstown

Pemandangan yang spektakuler selama penerbangan? Ya, tentu saja tapi ini lebih dari sekedar pemandangan. Apakah itu? Mari simak cerita saya di bawah ini.
Bulan lalu saya berkesempatan jalan-jalan ke New Zealand, negeri yang kaya pemandangan khususnya di pulau Selatan-nya.
Setelah dua hari berwisata di kota Wellington yang terletak di pulau Utara, saya terbang ke Queenstown yang terletak di pulau Selatan. Penerbangan terasa tenang walau pilot menginfokan angin sedang kencang, mungkin karena kami terbang dengan Air NZ yang memang menguasai wilayah jadi pilot bisa menguasainya. Pesawat kami terbang di bawah awan sehingga sepanjang perjalanan saya puas melihat pemandangan. Saya juga beruntung duduk di bangku di pinggir jendela sehingga saya bisa sepuasnya mengambil foto dari balik jendela pesawat.
Pemandangan saat mendekati kota Queenstown semakin cantik, sepanjang mata memandang adalah pegunungan salju yang spektakuler, berliuk-liuk tajam diselimuti salju yang tebal terhampar dibawah kami.
Saat asyik menikmati pemandangan hamparan pegunungan salju ini, pilot mengatakan “landing position”. Sayapun siap-siap mengencangkan sabuk pengaman dan mata saya mulai mencari-cari dimana area kami akan mendarat, namun 10 menit berlalu, tidak tampak area pendaratan,semuanya masih pegunungan salju yang cantik dan menjadi agak dramatis karena hati saya yang mulai bertanya-bertanya, dimanakan kota Queenstown?
Pesawat masih terus berputar-putar membuat saya semakin penasaran. Pesawat lalu masuk ke area berkabut dan mulai agak goncang. Wah, ada apa yah dibalik kabut ini? Apakah pengunungan salju berkabut yah? Tidak, ternyata dibalik kabut inilah arah masuk ke area pendaratan dimana kota Queenstown berada.
Sungguh ajaib, dibalik kabut dan pegunungan salju yang luas dan gagah, seakan satu-satunya yang berkuasa, terdapat perbukitan tanpa salju yang dihiasi sinar matahari dimana manusia dapat hidup dengan nyaman.
Saya berkata dalam hati, tiada yang seajaib karya Tuhan. Dia mampu menciptakan segalanya. Tuhan mampu membuat tempat untuk hidup bagi umatNya dibalik tempat yang sulit untuk hidup.
Saya menjadi diingatkan bahwa mendapat masalah atau sesuatu yang sulit itu bukan akhir dari segalanya. Kesabaran dan iman dapat mendatangkan suatu kebaikan dibalik setiap kesulitan.
Kota Queenstown ini juga bukan kota yang sepi loh…, kota yang terletak dibalik pegunungan salju ini adalah kota wisata yang ramai loh…banyak rumah makan, toko-toko baju dan tentunya permainan-permainan ekstrimnya. Kesimpulannya, berbeda dan berdampingan dengan selaras itu cantik seperti kota Queenstown yang tampak ceria dan banyak memberi kebahagian bagi wisatawan yang datang, berdampingan selaras dengan pegunungan kokoh bersalju, yang cantik dipandang mata.

Oleh : Kumala Budiyanto

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Musim Dingin yang Hangat di Gletser Fox Selandia Baru

Tidak pernah terbayangkan dalam hidup saya bahwa suatu hari saya akan mendaki gletser. Jangankan mendatangi gunung es abadi di negeri seberang sana, mendaki gunung di Tanah Air yang populer disambangi teman-teman saya saja, belum pernah saya lakukan.

 

Tapi itulah yang terjadi pada Agustus lalu. Saya tertantang oleh ajakan kakak saya untuk merasakan sensasi menjejakan kaki di atas salah satu gletser ternama di dunia, Gletser Fox, di Selandia Baru saat musim dingin.

 

Gletser merupakan hamparan es di permukaan tanah yang terbentuk karena endapan salju yang membatu. Selain ingin merasakan sensasinya, saya juga antusias karena gletser di dunia terus menyusut akibat pemanasan global. Di benak saya, kapan lagi berkesempatan mendaki gletser yang tersisa?

 

Mencapai angan-angan itu bukan perkara mudah. Pertama, selain belum pernah naik gunung, saya takut ketinggian. Padahal untuk menuju lokasi gletser saya harus menumpang helikopter selama tiga menit dari landasan helikopter milik kantor agen tur di 44 Main Road, Fox Glacier.

 

Kedua, pendakian gletser ini akan berlangsung selama tiga jam. Waktu sepanjang itu membuat saya langsung membayangkan apa saja yang bisa terjadi. Pikiran buruk akan berbagai spekulasi menggerogoti, mulai dari longsor, cuaca buruk, bertemu beruang liar, hingga gempa bumi.

 

Karena dua alasan inilah, sebelum menuju lokasi, saya hampir mengutarakan keinginan untuk membatalkan tur saja. Saya menghampiri ibu saya yang ternyata berpikiran sama. Tetapi setelah berdiskusi panjang, akhirnya kami mengurungkan niat. Kami tidak ingin membuat kakak yang telah mengurus perjalanan ini dari A sampai Z kecewa. Sepanjang perjalanan dari penginapan menuju kantor agen tur, kami hanya bisa saling menguatkan.

 

Namun, semakin mendekati lokasi, kegalauan ibu akhirnya pecah juga.

 

“Dek, kira-kira ibu kuat tidak ya, mendaki gletser selama tiga jam? Apa betul durasi waktunya selama itu?” tanya ibu pada saya.

 

Rasa khawatirnya ternyata tidak bisa ditutupi lagi. Saya tahu, pertanyaan retoris ibu sebetulnya ditujukan pada kakak, bukan pada saya.

 

Bagaikan diberi kesempatan untuk ikut ‘menghasut’ kakak, saya pun serta merta melanjutkan pertanyaan ibu dan melemparkannya kepada kakak, yang terlihat sangat tenang dibandingkan dengan kami berdua.

 

“Iya kak, tiga jam itu… Lama banget loh…” kata saya dengan suara pelan, berharap kakak memahami kecemasan kami dan akhirnya membatalkan perjalanan ke Gletser Fox.

 

Kakak hanya terdiam. Ia fokus membantu mencari arah untuk kakak ipar saya yang menyetir mobil sewaan kami selama perjalanan darat di Selandia Baru.

 

Setibanya di kantor agen tur, kami langsung mendapatkan sambutan yang hangat. Sepertinya para pemandu wisata mendeteksi rasa takut kami. Bersama lima orang wisatawan mancanegara lainnya, kami langsung diajak memulai tur yang diawali dengan penjelasan tentang proses mendaki gletser.

 

Kami pun akhirnya naik helikopter dan melambung tinggi ke atas langit. Tiga menit yang saya pikir akan menjadi tiga menit terlama dalam hidup, ternyata sebaliknya. Saya begitu menikmati pemandangan menakjubkan di bawah sana sehingga waktu justru terasa begitu cepat. Barisan gunung tinggi menjulang, diselingi sungai yang mengalirkan air segar, membuat saya lupa akan takut ketinggian.

 

Setibanya di gletser, saya tidak bisa berkata-kata. Ternyata gletser berkilau bagai permata. Pemandu wisata kami, Sarah, meminta kami ekstra hati-hati. Dengan sepatu bergerigi tajam, kami diminta melangkah dengan mantap di lantai es yang licin.

 

Perjalanan kadang terhenti karena medan yang terlalu sulit dilewati, sehingga Sarah harus memahat tangga buatan dengan kapaknya untuk kami.

 

Ada satu titik di mana kami melewati turunan yang curam. Di sini ibu terlihat kehilangan keseimbangan dan berusaha kembali tegak dengan berpegangan pada gundukan es di kanan kirinya. Tetapi bukannya pegangan kokoh yang ia dapat, licinnya es membuat ibu tergelincir dengan posisi tengkurap. Melihat ibu mulai meluncur ke bawah, saya yang berada persis di belakang ibu memasang ancang-ancang untuk menahan kaki ibu. Tetapi Sarah dari bawah meneriaki saya untuk diam di tempat. Saya sangat panik dan kesal tidak bisa menolong ibu. Belakangan Sarah mengungkapkan, ia khawatir saya justru meluncur bersama ibu.

 

Untung saja ibu tidak meluncur terlalu jauh karena Sarah menahannya. Ibu tidak terluka berat meski tangannya sedikit memar. Saya bangga ibu terlihat tenang dan tetap semangat menjalani sisa perjalanan. Semangat kami semakin membara ketika Sarah mengatakan dalam satu jam ke depan, kami akan melihat fenomena alam gua es.

 

Setibanya di gua es itu, kami semua terbelalak.

 

Wow, this is amazing,” ucap Jelte, seorang anak SMA berkewarganegaraan Belanda.

 

Sarah menjelaskan bahwa lengkungan gua terbentuk karena gumpalan es yang bergerak ke bawah. Di satu titik, sebagian es terhenti, sementara es dari atas masih terus menekan. Tekanan terus menerus ini menyebabkan tumpukan es di bawah melengkung menjadi sebuah gua.

 

Tentu saja kami tak ingin melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen berada di lengkungan es tersebut. Sejenak saya merasa seperti berada di lokasi film The Revenant. Langsung terbayang bagaimana Hugh Glass, pemuda yang diperankan oleh Leonardo DiCaprio, berjuang mempertahankan diri di tengah rimba hutan es dan salju. Di sisi lain kakak saya merasa bak putri es, Elsa, dalam film animasi Frozen.

 

Usai berfoto, cuaca mendadak tak bersahabat. Langit biru dengan cepat tertutup awan gelap. Kata Sarah, demi keamanan, kami harus segera kembali. Mendengarnya saya merasa sedih karena saya baru saja mulai menikmati perjalanan ini.

 

Anehnya dalam perjalanan menuju helikopter, langit kembali terang. Sarah mengubah keputusannya sehingga kami dapat mendaki lagi. Ia mengajak kami ke titik teratas yang bisa dijangkau. Peluh terasa bercucuran meski udara sangat dingin.

 

Sesampainya di puncak, saya dan ibu berpelukan. Kami tidak menyangka bisa mencapainya.

 

Subhanallah... Luar biasa sekali ya bu lukisan alam Tuhan,” kata saya sedikit tersengal, akibat kelelahan di tengah suhu empat derajat yang menusuk.

 

Merinding bulu kuduk saya melihat gagahnya puncak-puncak gunung Alpen berpadu dengan sentuhan keanggunan salju dan gletser. Belum lagi langit biru dihiasi buntalan-buntalan awan yang berserakan. Dinginnya es pun menjadi tak terasa karena rasa hangat yang menyeruak asa.

 

Saya lantas mengeluarkan bendera merah-putih dari dalam tas. Saya mengajak ibu mengunci momen ini dalam rak penyimpanan kamera alias foto dengan membentangkan bendera. Layaknya pahlawan yang berhasil merebut kemerdekaan Indonesia, kami bangga bisa menaklukkan rasa takut mendaki gletser.

 

Perjuangan belum selesai, kami harus turun kembali ke lokasi awal dengan menumpang helikopter. Sampai di kantor agen tur, kami langsung memesan teh hangat. Karena diminum di saat yang tepat dan diminum sambil menikmati pemandangan yang indah, teh ini resmi saya nobatkan menjadi teh ternikmat! Terimakasih Tuhan atas perjalanan yang terasa penuh berkat.

Oleh : Nadia Sekarsari

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Wisata Religi di Kudus

Merayakan hari kemenangan menjadi sebuah kewajiban yang tak boleh ditunda-tunda hukumnya. Perayaan lebaran kental pula dengan tradisi mudik dan halal bihalal bareng keluarga. Momen yang ditunggu-tunggu semua orang untuk sekadar berkumpul, bertukar kabar, mengembalikan kenangan masa lampau, atau berharap ketiban THR.

Tahun ini berbeda dari tahun sebelumnya. Biasanya saya jauh-jauh hari sebelum lebaran—ketika sudah memasuki masa liburan pasti langsung mudik. Namun, kali ini saya memutuskan untuk pulang pada lebaran kedua, tepatnya hari Senin. Entah kenapa pulang H- itu sudah terlalu mainstream. Ditambah lagi jalanan menuju pantura bakal disesaki kendaraan yang memanjang sepanjang jalur. Hal tersebut sangat menyebalkan. Sungguh. Maka dari itu saya memutuskan pulang hari Senin. Harapannya, tentu saja jalanan bakal lengang. Dan perjalanan pun nyaman.

Namun, kenyataan jauh dari ekspektasi ternyata. Rute yang saya pilih dari Yogyakarta menuju pantura sebenarnya ada dua pilihan. Lewat Purwodadi atau Semarang. Semalam suntuk berfikir—karena rute Purwodadi sudah sering saya lewati akhirnya rute Semarang lah yang terpilih.

Berangkat sesuai jadwal, sekitar jam 10. Saya mulai mengendarai sepeda motor berplat S. Memulai perjalanan dengan nyaman awalnya. Namun, semuanya buyar setelah saya melihat deretan kendaraan roda empat maupun roda dua tak beranjak dari tempat. Padahal perjalanan saya waktu itu baru saja sampai daerah Tempel. Tapi macet terjadi disetiap persimpangan jalan. Tidak sesekali tapi berkali-kali hingga daerah Ambarawa pun kemacetan terjadi. Ya, macet memang sudah menjadi kultur Indonesia. Apalagi disaat libur lebaran seperti ini.

Setelah melewati rute yang melelahkan dan menyebalkan itu, ditambah cuacana panas pula akhirnya saya memutuskan untuk mampir ke Masjid Agung Demak. Oh iya, sebelum sampai Demak saya buang banyak waktu dan bahan bakar di Semarang. Hampir setengah jam muter-muter tak jelas. Maklum sudah lama tidak lewat Semarang. Rasanya melihat jalan di sana bercabang-cabang. Sialnya lagi, ban sepeda motor yang saya kendari sempat bocor juga. Barulah saya tiba di Demak sekitar pukul 4 sore. Setibanya di sana masjid yang berdekatan dengan Alun-alun Demak tersebut sudah disesaki banyak orang. Mereka berseliweran di mana-mana—sekadar berswafoto maupun duduk santai melepas penat. Masjid Agung Demak memang menjadi salah satu ikon dari kota para wali ini. Lokasinya yang berada di pusat kota menjadikan Masjid Agung Demak sebagai persinggahan yang terjangkau bagi siapapun.

Pasca menunaikan ibadah asar dan mengisi perut yang sejak diperjalanan sudah meronta-ronta, tak ada salahnya mampir melihat-lihat masjid bersejarah bekas peninggalan kerajaan Islam pertama di pulau Jawa ini. Apalagi di kompleks masjid terdapat makam-makam Sultan Demak—berada dibagian belakang masjid. Yang tak kalah menarik adalah Museum Masjid Demak yang berada satu kompleks dengan masjid.

Hawa sejuk dan bau wewangian menyambutku ketika baru melangkahkan kaki masuk ke area pemakaman. Di sana sudah ada beberapa peziarah yang sedang memanjatkan doa. Di makam tersebut peziarah dapat melihat makam-makam Sultan Demak beserta kerabatnya. Makam yang bersih didominasi warna kuning tersebut terukir nama-nama Sultan Demak pada masanya. Walaupun masih dalam euforia bulan Syawal namun peziarah yang datang cukup ramai.

Begitupun dengan pengunjung Museum Masjid Demak. Sekadar ingin tahu tentang sejarah panjang masjid Agung Demak, pengunjung tak perlu membayar biaya masuk. Cukup berdermawan seiklasnya di kotak amal yang sudah disediakan. Disetiap ruangan walau tak terlalu besar tapi menyimpan banyak peninggalan bersejarah yang dibatasi oleh  kaca tersebut. Di sana pengunjung akan disuguhkan sejarah tentang masjid seperti peninggalan bedug, al-quran kuno tulisan tangan, hingga bekas soko guru pemberian Walisongo (Sunan Bonang, Sunan Ampel, Sunan Gunung Jati, dan Sunan Kalijaga). Semua peninggalan terawat dengan baik. Sudah semestinya barang-barang bersejarah menjadi aset yang bisa mengembangkan wawasan banyak orang, di sini salah satunya. Jadi tak heran kalau Demak menjadi salah satu destinasi wisata religi.

Tak terasa sang surya sudah mau terlelap saja. Tak pelak hal tersebut mengingatkan tentang saya perjalanan   yang masih panjang. Namun, saya berfikir kalau ke Demak tak afdol rasanya kalau tidak ziarah ke makam Sunan Kalijaga. Toh, jaraknya juga tak terlalu jauh—hanya sekitar 2 kilometer dari Masjid Agung Demak. Tanpa berfikir panjang lagi saya langsung tancap gas menuju makam Sunan Kalijaga, tepatnya di Kadilangu.

Setibanya di lokasi, hanya memakan waktu 15 menit saja, suasana terlihat cukup ramai. Setelah memarkir sepeda motor saya langsung bergegas masuk area makam. Terlihat beberapa toko pernak-pernik khas beberapa masih tertutup rapat. Namun tak semuanya, beberapa toko lagi dengan ramah melayani calon pembeli. Kiri dan kanan berjejer rapi kaos bergambar Sunan Kalijaga yang dijual sebagai buah tangan. Bukan hanya itu saja, tasbih, baju koko, pernak-pernik dan segala sesuatu yang berbau Islam dijual di sana.

Setelah menengok kiri-kanan akhirnya saya sampai di pintu masuk. Yang pertama harus dilakukan sebelum masuk area makam adalah menitipkan sandal. Sandal harus dilepas dan dititipkan kepada salah seorang pedagang yang membuka jasa titip sandal di samping pintu masuk.

Memasuki area pemakaman siapapun dan di manapun sudah menjadi aturan untuk menjaga kesopanan dan tutur kata. Apalagi ini makam wali Allah. Jika Anda datang berombongan silakan perwakilan untuk laporan maksud kedatangan Anda kemari dan mengisi buku tamu. Nah, kalau sendirian seperti saya ini langsung masuk saja, tapi bilang permisi sama bapaknya yang jaga.

Akhirnya saya berada di sini—makam Sunan Kalijaga untuk yang kedua kalinya. Sebelumnya memang pernah tapi itu sudah lama sekali. Kalau tak salah ketika saya masih duduk di bangku kelas 3 SMK. Bersama teman-teman seangkatan, dulu, kami memang sering ziarah. Apalagi memasuki fase-fase kritis seperti ujian nasional. Tapi kini saya sendiri, sedih? Sedikit sih. Mudah-mudahan tahun depan bisa sama-sama lagi ziarahnya, biar lebih afdol.

Seperti biasa beberapa bapak, ibu, dan pemuda-pemudi sedang melantunkan ayat-ayat suci al-quran. Mereka merupakan peziarah yang datang dari luar kota, sama halnya dengan saya. Bagi masyarakat Jawa ziarah ke makam sembilan wali atau Walisongo seperti sudah mendarah daging. Tak sedikit dari mereka yang berhasil mengunjungi kesembilan makam wali tersebut. Di Pati, tempat saya tinggal sering sebuah Rt/Rw mengadakan tour ziarah Walisongo dengan menggunakan kas yang mereka kumpulkan. Walau usia mereka beberapa sudah senja namun sebuah keberkahan apabila bisa berziarah ke makam Walisongo.

Oleh : MS Fitriansyah

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

[Yogyakarta] Pencinta Kopi di Kompas Travel Fair

Memasuki hari kedua penyelenggaraan Kompas Travel Fair, Sabtu (2/9), hadir para pencinta kopi dari komunitas kopi di Yogyakarta. Dengan berkembangnya budaya meminum kopi di Yogyakarta, panitia ingin membagikan pengalaman para pencinta kopi dengan mengadakan talkshow mengenai kopi.

Salah seorang anggota komunitas kopi, Andri , mengatakan, “Dari kopi saya bisa traveling ke berbagai tempat di Nusantara, karena seperti halnya komunitas fotografi yang selalu hunting ke mana pun terdapat obyek. Kopi pun juga begitu.” Jadi dengan menjadi pencinta kopi, dapat membuka wawasan kita terhadap daerah lain karena keberagaman kopi di Nusantara.

Selain bertukar wawasan tentang pengalaman berburu kopi, mereka juga memberikan informasi tentang teknik dan cara membuat kopi. Selain itu, mereka berpesan untuk berhati-hati memilih kopi. Pada akhir acara, komunitas kopi ini memeragakan cara menyeduh kopi dengan alat-alat portable yang digunakan jika mereka sedang traveling ke daerah lain. [AD/ACA]

[Jakarta] Wujudkan Angan Bersua Aurora

Sempatkah tebersit dalam angan untuk melihat langsung keindahan langit dengan aurora yang magis? Saatnya mengubah angan jadi rancangan perjalanan. Di Kompas Travel Fair 2017, Nenty Travel menyuguhkan paket wisata khusus untuk mengeksplorasi Eslandia, termasuk berburu aurora.

Nenty, pemilik agen perjalanan ini, mengatakan Eslandia adalah salah satu tempat terbaik untuk melihat aurora. “Pada dasarnya, aurora bisa dilihat dari seluruh wilayah Eslandia. Namun, kami memang memilihkan tempat-tempat yang sepi, dingin, dan bebas dari polusi cahaya untuk memperbesar kemungkinan melihat aurora,” kata Nenty.

Untuk turnya, Nenty yang pernah menetap di Eslandia ini mengajak peserta tur untuk mengamati aurora di Hekla dan Skaftafell, bagian selatan Eslandia yang langitnya begitu bersih dan pemandangan alamnya memukau. Selain berburu aurora, perjalanan ini juga mengagendakan kunjungan ke tempat-tempat elok seperti Golden Circle (Thingvellir, Gullfoss, dan Geysir), kolam air hangat Fontana, tur pesisir selatan (Seljalands, Skogafoss, dan Reynisfjara), serta danau es Jokulsarlon.

Waktu-waktu terbaik untuk melihat aurora adalah antara September – April. Peserta tur bisa mengatur sendiri waktu yang paling pas untuk dirinya. Nenty Travel juga menyediakan paket trip prewedding di Eslandia. [NOV]

[Jakarta] Pengunjung Minati Promo Taman Impian Jaya Ancol

Melepaskan pikiran dari penat dengan berekreasi tak mesti dilakukan di luar kota. Jika Anda berada di Jakarta, ada banyak tempat yang juga menjanjikan beragam keseruan. Salah satunya, Taman Impian Jaya Ancol.

Di Kompas Travel Fair 2017, Taman Impian Jaya Ancol hadir dengan beragam promo spesial. Anda bisa mendapatkan Annual Pass seharga Rp 325 ribu dari harga normal Rp 600 ribu. Ada pula Annual Pass Rp 200 ribu untuk berenang di Atlantis. Di samping itu, Taman Impian Jaya Ancol juga masih menawarkan promo STNK mobil pada periode September 2017. Dengan promo ini, harga tiket per orang pada weekday menjadi Rp 100 ribu dari Rp 200 ribu, sementara ketika akhir pekan Rp 150 ribu dari Rp 295 ribu.

Dengan promo menarik ini, booth Taman Impian Jaya Ancol pun ramai disambangi. Jangan sampai kehabisan! [NOV]

[Jakarta] Nyaman dengan Tur Ramah Muslim

Berwisata ke luar negeri memang menyenangkan dan menjanjikan banyak pengalaman baru. Namun, kerap kita yang Muslim dihinggapi rasa waswas, misalnya karena kita tidak yakin tentang kehalalan menu yang disajikan ketika makan di sebuah restoran.

Sejumlah agen perjalanan memberi perhatian pada hal ini, misalnya Indo Citra Tamasya yang hadir di Kompas Travel Fair 2017. Agen perjalanan ini menawarkan paket-paket perjalanan yang ramah bagi Muslim. Selain memastikan menu makanan halal, dalam tur ini waktu-waktu shalat juga diperhatikan sehingga Anda bisa merasa lebih nyaman.

Indo Citra Tamasya menawarkan banyak destinasi di dalam dan luar negeri. Di dalam negeri, Anda misalnya bisa memesan tur untuk ke Bali dan Lombok, Raja Ampat, atau Bangka Belitung. Untuk luar negeri, paketnya juga mencakup negara-negara di Asia, Eropa, Amerika, Australia, dan Afrika.

“Saat ini wisata ke China sedang naik daun,” kata Inna Hanarti dari Indo Citra Tamasya. Dalam perjalanan yang diorganisasikan agen perjalanan ini, Anda bisa mengunjungi tempat-tempat ikonik Beijing. Tembok Raksasa, Tiananmen Square, pabrik giok, dan Bird Nest. Tak ketinggalan, masjid indah seperti Masjid Beijing Nandouya yang dibangun pada masa Dinasti Yuan dan pusat komunitas Muslim Beijing pun bisa Anda sambangi.

Inna mengatakan, Indo Citra Tamasya berupaya membuat liburan yang nyaman dengan standar yang baik bagi para peserta turnya. “Kami menggunakan pesawat dengan servis full dan hotel bintang empat,” ujarnya. Paket wisata ramah Muslim ke Beijing ini ditawarkan dengan harga mulai dari Rp 12 jutaan. [NOV]

[Jakarta] Puaskan Jiwa Bertualang di Etiopia

Kompas Travel Fair 2017 menawarkan ragam wisata yang kaya. Bekerja sama dengan Kedutaan Besar Etiopia, Indonesia Trip Advisors memberikan Anda kesempatan mengeksplorasi kebudayaan dan alam Etiopia yang mengesankan.

Berada di booth M17A, Kedutaan Besar Etiopia mengenalkan Land of Origins-slogan negara ini-kepada para pengunjung KTF 2017. Pertama-tama kita akan disambut kehangatan secangkir kopi arabija Tomoca. Nissi, perempuan asli Etiopia yang bekerja di kedutaan, juga dengan bersemangat menceritakan keindahan negaranya.

Nissi menunjukkan foto Danakil Depression, tempat bertemunya 3 lempeng tektonik. Ini adalah salah satu tempat terpanas dan terendah di bumi. “Tempat ini sangat indah,” kata Nissi.

Ada banyak pula peninggalan arsitektur kuno di Etiopia. Misalnya, Axum Obelisk dan St George Church. Keduanya dipahat dari satu batu utuh dan terdaftar dalam Warisan Dunia Unesco.

Afrika tentu saja juga menyajikan pengalaman safari yang penuh petualangan. Anda bisa mengunjungi Taman Nasional Gunung Simien, habitat beberapa satwa endemik Etiopia. Menarik juga menyambangi Harar, kota kuno Islam yang juga menyajikan atraksi memberi makan hyena di malam hari.

Indonesia Trip Advisors menawarkan paket tur ke Etiopia untuk periode keberangkatan Januari dan Juni 2018. [NOV]

12