Travel More, Explore More

Mengintip Sudut Kota Llangollen

Marilah kita pergi nun jauh di utara dari Negara Wales. Mungkin negara ini kalah tenar dibanding sekutu lainnya dalam group British Isle, Inggris, Skotlandia, dan Irlandia. Tapi begitu mendengar nama Ryan Giggs (salah satu pemain bola terkenal yang bergabung di klub Manchester United sampai masa pensiun dan menjadi asisten pelatih) dan Catherine Zeta-Jones (artis Holywood yang terkenal dengan film, The Mask of Zorro, America’s Sweetheart dan The Terminal), aku yakin pembaca akan mangut-mangut seraya mengatakan O…. Dua tokoh ini merupakan warga asli yang berasal dari negara Wales. Lumayan untuk menyegarkan pikiran, bukan?

Llangollen merupakan kota yang terletak di sebelah utara Negara Wales (atau lebih dikenal dengan sebutan North Wales). Kota ini sebenarnya tidak termasuk dalam itinerary tour aku, melainkan pilihan opsional. Saat itu, aku tidak berniat membeli paket opsional ini karena kota itu terdengar asing dan tidak membuat aku berminat. Namun, apalah daya tatkala hampir semua peserta dalam bis setuju memilih menambahkan destinasi ke kota itu. Rachel, sang tour leader aku kebetulan berasal dari Wales (tepatnya di kota Swansea). Dia memberikan garansi setelah melihat Llangollen, rombongan akan diajak naik ke puncak bukit di utara Wales. Dengan berbekal  kepasrahan disertai harapan jadilah aku ikut serta mengintip kota Llangollen.

Llangollen adalah sebuah kota kecil yang terasa tua dan dingin. Aku kesini pada akhir bulan Maret, dimana musim dingin masih menyisakan kebekuannya untukku. Ada yang menarik dari Wales. Mereka masih menjunjung tinggi bahasa asli Wales. Pada saat anak-anak di rumah, mereka menggunakan bahasa Wales untuk berkomunikasi. Sedangkan saat sekolah mereka menggunakan bahasa Inggris. Kebiasaan penggunaan bahasa ini berlangsung sampai sekarang. Di kota-kota Wales sangat mudah membedakan penduduk asli dengan pendatang. Penduduk asli jika bertemu di jalan dan bertegur sapa, mereka otomatis menggunakan bahasa Wales. Sebaliknya kalau mereka menggunakan bahasa Inggris kemungkinan besar salah satu dari kedua orang itu bukan penduduk asli Wales. Jangan heran kalau di setiap sudut kota di Negara Wales, banyak informasi yang menggunakan dua bahasa. Biasanya kalimat atas adalah Bahasa Wales, kalimat di bawahnya Bahasa Inggris. Aku sempat membeli kartu pos Llangollen yang berisi lirik lagu kebangsaan Wales berjudul Land of My Fathers atau Hen Wlad Fy Nhadau dalam Bahasa Wales. Kalau diucapkan terdengar seperti Bahasa Middle-earth dalam film The Lord of the Rings, bukan? Hehehe…. Mirip dengan apa yang terjadi di desa-desa di sini, bukan? Dimana para penduduknya masih menggunakan Bahasa Daerah untuk berkomunikasi. Hanya di sekolah penggunaan Bahasa Indonesia dilakukan.

Siang itu, hujan mengguyur dengan lebatnya. Saat itu aku merasa bahwa kunjungan kali ini bukan waktu yang tepat. Pilihan saat itu adalah nekad berhujan-hujanan atau berteduh. Aku putuskan berteduh di sebuah toko wol, sambil menunggu hujan reda. Puji Tuhan untuk segala kebaikanNya padaku. Tidak lama kemudian, hujan deras telah berhenti, bergegas aku berjalan menyusuri jalan menuju stasiun untuk melihat kereta uap tersebut. Stasiun ini terkenal dengan nama The Victorian Railway Station. Aku beruntung, pada saat aku sampai di ujung jembatan, kereta baru saja berangkat. Dengan tidak menyia-nyiakan kesempatan, aku memotret kepergian kereta itu. Perhatikan asap putih yang keluar dari kepala kereta. Historical! Mengingatku akan masa yang telah lalu. Kereta uap, pelan namun terasa meyakinkan, seolah saksi produk tradisional. Di kota ini, kereta uap masih memakai batu bara sebagai bahan bakarnya.

Tut…tut…tut… terasa indah didengar, melemparkanku ke masa jauh sebelum ada internet. Sangat berbeda dengan masa sekarang dimana media massa sedang ramai memberitakan kereta cepat. Semuanya serba harus cepat cepat cepat dan terburu-buru. Aku merindukan rasa lambat, santai dan tenang untuk menyegarkan pikiran dan me-recharge kembali memory.

Setelah puas memotret stasiun, aku berjalan menuju ke ujung jalan dimana aku menemukan bunga Daffodil yang sedang mekar dalam sebuah pot. Serta bangunan The Royal dengan keunikan warna bangunannya. Hanya nampak warna hitam dan putih mendominasi. Bayangkan, udara dingin sekitar 5ºC dihiasi awan mendung kelabu menjadi latar dari bangunan hitam dan putih. Semakin menambah rasa dingin pada gambar tersebut.

Setelah waktu yang diberikan habis, aku berjalan kembali untuk berkumpul di bis. Oh iya di tengah jalan, aku masuk dalam sebuah toko buku charity (dimana hasil penjualan buku untuk kegiatan sosial). Toko buku ini menjual buku bekas namun masih bagus dan layak dibaca. Aku mengubek-ubek rak buku anak-anak dan menemukan buku In the Night Garden. In the Night Garden adalah salah satu cerita di stasiun Cbeebies (BBC Kids) yang menjadi favorit anakku saat masih bayi. Aku beruntung sekali karena harga buku tersebut hanya 1 £. Mungkin karena buku ini bekas dan untuk charity sehingga dijual murah.

Meski hanya sebentar namun Llangollen menyisakan pesan untukku bahwa semaju-majunya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, jangan pernah melupakan budaya dari mana kita berasal karena budaya itulah identitas kita sebagai suatu bangsa. Sebuah pekerjaan rumah sendiri untuk selalu menggunakan bahasa Indonesia dengan baik dan benar. Dan itu aku mulai dari diriku sendiri  dan keluarga. Semoga berasal dari sebuah keluarga, penggunaan bahasa Indonesia dengan baik dan benar bisa menular ke lingkungan sekitar.

Oleh : Maria Santi Mawanti

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Meratap di Bukit Ratapan Angin

Dataran Tinggi Dieng di Wonosobo menyimpan banyak wisata alam. Daerah berketinggian diatas 2000 mdpl dan berhawa sejuk ini memang dianugerahi Sang Pencipta dengan lansekap yang luar biasa. Gunung, lembah, telaga, kawah, candi dan goa merupakan banyak wisata alam yang bisa kita kunjungi, ketika kita melakukan perjalanan ke Dieng.

 

Kali ini perjalanan saya dimulai dari Stasiun Pasar Senen, Jakarta menuju Stasiun Tugu di Yogyakarta. Kebetulan saya sedang ada pekerjaan di kota Gudeg, dan segera melanjutkan perjalanan menuju Dieng begitu selesai. Saya menumpang bis menuju ke terminal transit di kota Magelang, dan segera berganti minibus melanjutkan perjalanan ke Wonosobo.

 

Setelah menempuh perjalanan selama 2 jam lebih, bus ini akhirnya tiba di Wonosobo. Segera bergegas berganti minibus lagi arah menuju Dataran Tinggi Dieng, karena waktu sudah menunjukkan pukul 17.00 dan cuaca sangat mendung. Ternyata minibus yang saya tumpangi ini merupakan angkutan terakhir yang menuju Dieng; bisa dibayangkan bagaimana penuh sesaknya angkutan ini? Ketika sampai di Dataran Tinggi Dieng hari sudah menjelang malam. Segera saya mencari penginapan yang murah.

 

“Mas Dwi, tolong bikinkan saya nasi goreng dan teh panas manis ya. Gulanya sedikit saja,” pinta saya ke Mas Dwi, seorang penjaga losmen tempat saya menginap.

 

Mas Dwi ini juga seorang tour guide yang biasa membawa tamu ke tempat-tempat wisata di Dieng. Saya mengenalnya lebih dari 5 tahun lalu, ketika pertama kali saya ke Dieng.

 

“Baik, Mas. Mau diantar ke kamar atau di meja sini saja?” tanyanya meyakinkan saya.

 

“Di meja makan saja, mas. Nanti saya turun. Mau mandi dulu nih,” jawab saya singkat.

 

Malam itu tidak banyak aktifitas yang saya lakukan, mengingat badan ini terasa capek dan saya perlu istirahat. Makan malam dan sebentar menonton TV di penginapan menjadi acara saya sebagai pengisi waktu, dan memutuskan segera tidur selesai membuat daftar tempat wisata yang besok akan saya explore.

 

Dieng, menurut saya merupakan salah satu surganya para traveler yang menyukai wisata alam dan sangat saya rekomendasikan. Beberapa tempat wisata alam di Dieng sudah pernah saya datangi beberapa waktu sebelumnya; dan saya melihat banyak perombakan dan perbaikan yang cukup bagus.

 

Batu Pandang Ratapan Angin menjadi tujuan utama saya. Tempat ini memang belum lama dibuka untuk umum – menurut informasi baru tahun 2015 lalu dibuka; tetapi tempat ini sudah cukup terkenal di kalangan traveler. Beberapa foto yang diunggah ke berbagai media sosial makin menambah rasa penasaran saya akan tempat ini. Batu Pandang Ratapan Angin terletak bersebelahan dengan kompleks Dieng Plateau Theater. Untuk menuju Batu Pandang Ratapan Angin kita perlu sedikit treking ke atas bukit. Harga tiket masuk seharga IDR 10.000 terbilang cukup murah untuk masuk kawasan ini. Ketika kita sampai di atas bukit, dengan segera mata kita disuguhkan pemandangan yang memanjakan mata. Tampak Telaga Warna dan Telaga Pengilon di kejauhan.

 

Sebenarnya tempat ini namanya adalah Batu Pandang, terbukti dengan adanya batu yang menjulang tinggi dimana kita bisa berpijak dan melihat lansekap secara keseluruhan. Batu Ratapan Angin adalah nama lain dari tempat ini, dikarenakan ketika kita berdiri atau duduk diatas batu yang menjulang itu kita bisa mendengar suara angin yang bertiup seperti berputar diantara daun-daun disekitarnya. Maka timbullah nama Batu Ratapan Angin.

 

Pengelola tempat wisata Batu Pandang cukup kreatif dengan membangun area seperti panggung dari papan lengkap dengan aksesoris berbentuk “Jantung Hati”; saya rasa fungsinya sebagai tempat swafoto bagi para pelancong. Saya sendiri merasa kalau aksesoris dan tulisan Batu Pandang yang ada malah membuat tempat ini sedikit kurang nyaman dari segi estetika. Biarlah alam melukiskan keindahan dan keelokannya sendiri, itu menurut saya sih.

 

Saya mencoba untuk berdiri di atas sebuah batu yang letaknya lebih tinggi dari yang lain, dan  membiarkan Sang Pencipta membelai lembut lewat angin yang datang. Seperti seorang anak yang terbuai oleh belaian lembut ayahnya, begitulah DIA yang selalu ingin dekat dengan makhluk ciptaanNya.

 

“Mas, kalau mau mencoba jembatan gantung ada di sana tuh. Naik sedikit lurus, dibalik batu besar itu ada jembatan,” begitu kata Sarip. Dia adalah salah seorang penjaga loket di kawasan ini.

 

“Iya, mas Sarip. Nanti saya coba kesana deh,” jawab saya sambil tetap mengambil gambar lewat kamera saya.

 

Benar, ketika kemudian saya bergeser naik menuju bukit yang ditunjukkan mas Sarip, saya dapat melihat jembatan gantung bernama Jembatan Merah Putih. Jembatan kecil yang menghubungkan dua batu yang menjulang itu cukup popular juga dikalangan warganet. Saya tidak terlalu tertarik untuk mencoba Jembatan Merah Putih ini, menurut saya terlalu mainstream biasa.

 

Batu Pandang atau Bukit Ratapan Angin adalah salah satu ikon baru di Dieng, yang sudah dikelola dengan cukup baik oleh pemerintah ataupun penduduk setempat. Fasilitas umum seperti toilet, pedagang asongan dan para penjual souvenir juga ada disini. Pemerintah daerah setempat sepertinya sangat tahu bahwa Dataran Tinggi Dieng mempunyai potensi wisata yang sangat bisa dikembangkan untuk menjaring banyaknya pelancong datang ke wilayah ini.

 

Saya menganjurkan kepada para pelancong yang akan berkunjung ke tempat ini untuk menggunakan pakaian yang nyaman, sepatu atau sandal gunung dan juga krim tabir surya untuk menghindari sengatan sinar matahari. Ini semua untuk kenyamanan anda sendiri. Dan yang paling penting, jangan buang sampah sembarangan karena itu sungguh TIDAK KEREN! Jaga selalu kebersihan dimana kita datang berkunjung.

 

Banyak hal dan juga banyak cerita yang bisa kita dapatkan ketika berpergian. Tentunya itu akan memperkaya pengalaman kita. Kaya tidak melulu berbicara tentang materi, tetapi saya lebih bahagia kalau saya kaya akan pengalaman. Tsaaah…

Oleh : Yokhanan Prasetyono

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

 

Denting Sasando di Oebelo

Sadar atau tidak, desain mata uang Rupiah telah membuat kita banyak belajar. Belajar mengenali pahlawan nasional, juga belajar mengenali seni budaya. Saya sendiri merasakan dampak tersebut. Karena gara-gara uang pecahan 5.000 yang beredar di tahun 90-an, saya jadi tahu nama danau Kelimutu dan sebuah alat musik tradisional NTT yang bernama Sasando. Namun hingga akhirnya dewasa, saya belum pernah sekalipun melihat secara langsung wujud Sasando itu.

Baru sekitar tujuh tahun yang lalu, saya akhirnya melihat wujud dan mendengar suara Sasando lewat sebuah acara pencarian bakat di televisi. Berto Pah nama pemainnya. Lihai sekali dia. Tangannya lincah memetik dawai-dawai Sasando, dan sukses menerjemahkan setiap denting ke dalam notasi lagu-lagu populer. Luar biasa. Saya pun berandai-andai kapan kiranya bisa melihat instrumen unik tersebut lebih dekat.

Pertanyaan itu pun terjawab bulan lalu. Saat saya berkesempatan pergi ke Kupang dan menyempatkan mendatangi Rumah Sasando, yang ada di Oebelo, Kabupaten Kupang Tengah, Nusa Tenggara Timur.

Oebelo sendiri dikenal sebagai perkampungan petani garam. Sehingga tak heran, di sepanjang jalan saya menuju Rumah Sasando, mudah sekali menjumpai penjual garam di kanan-kiri jalan.

Menurut penjelasan pengemudi yang mengantar saya ke Rumah Sasando, garam tersebut tidak didapat dengan menjemur air laut seperti yang kerap kita jumpai di tambak-tambak garam umumnya. Melainkan, dengan diolah (dimasak) berjam-jam hingga air mengkristal dan menjadi garam. Dan hasilnya kemudian dikemas, ke dalam tabung panjang yang dibuat dari daun lontar.

Tapi tidak seperti penduduk Oebelo yang bergantung pada olahan garam, penduduk Oebelo yang satu ini justru memanfaatkan lontar menjadi bahan lain. Apalagi kalau bukan untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuat Sasando.

Ya, saya akhirnya tiba di tujuan. Di sebuah rumah sederhana, berlantai tanah, beratap asbes, dan berdinding batang lontar. Tidak jelas plang penandanya. Tapi sebuah tulisan: ‘Pengerajin Sasando’ di salah satu bagian dinidingnya, terasa cukup membantu.

Berhubung siang hari, suasana Rumah Sasando terasa sepi. Hanya terdengar denting merdu Sasando yang dimainkan oleh seorang pria muda di sudut ruangan. Bukan hanya berupa lagu-lagu kebangsaan seperti Indonesia Pusaka saja, lagu masa kini yang tengah hits milik Ed Sheeran pun tak ketinggalan dimainkan.

Ia mengenalkan diri sebagai salah satu anak dari pemilik rumah. Selain dirinya, ada pula beberapa pengerajin dan seorang ‘mama’ (ibu-ibu) yang menemani saya di Rumah Sasando tersebut.

Ternyata, rumah sederhana ini milik bapak sepuh asal Rote bernama Jeremiah Pah. Ia sekeluarga, sudah memainkan Sasando secara turun-temurun. Dimulai sejak masa nenek moyangnya hingga kini ke anak-cucunya. Dan ternyata lagi—usut punya usut, beliau adalah bapak dari Berto Pah yang dulu pernah saya lihat di TV itu! Ah, dunia ternyata sempit, kawan!

Bersama sang adik—yang saya lupa namanya itu—saya dijelaskan mengenai sejarah singkat Sasando. Bahwa alat musik ini sudah dimainkan masyarakat Rote sejak abad ke-7! Dan dulu, dengan desainnya yang sederhana, Sasando memanfaatkan lekukan daun lontar kering sebagai alat resonansi suara. Oh…terjawab sudah soal lekukan serupa cangkang kerang yang ada di belakang Sasando itu.

Seiring waktu, Sasando mengalami banyak improvisasi. Dan hal ini tak lepas dari peran Pak Jeremiah sebagai maestro yang membuat Sasando lebih user friendly. Selain membuat bagian ‘cangkang’ Sasando lebih ringkas (dibuat menjadi lipatan seperti kipas), Pak Jeremiah juga membuat Sasando menjadi elektrik. Tak perlu lagi ‘cangkang’ daun lontar itu sebagai alat pengeras. Tinggal disambungkan ke kabel pengeras suara, denting Sasando bisa mengudara dengan lantang layaknya gitar elektrik.

Saya sempat mencoba memainkan alat musik khas Pulau Rote ini. Dengan bantuan adik Berto Pah tersebut, saya mengetahui kalau Sasando sudah mengalami perubahan nada. Dari yang semula seperti nada pada gamelan, kini menjadi solmisasi. Persis seperti yang terjadi pada angklung saat Mang Udjo memodifikasinya.

Ketika saya mencoba memainkan Sasando—yang ternyata susah!—salah seorang mama yang ada di sana mengatakan saya harus menggunakan topi Ti’i Langga sekaligus kain tenun khas Rote. ‘Biar menghayati,’ katanya. Saya pun menurut saja. Tapi bukannya makin konsentrasi, fokus saya malah buyar karena lebih pengin difoto daripada belajar main Sasando. Haha.

Di samping rumah Pak Jeremiah, ada pula sebuah workshop yang dimanfaatkan untuk membuat Sasando. Mulai dari yang kecil untuk gantungan kunci, yang sedang untuk pajangan di rumah, bahkan yang besar untuk dimainkan sungguhan, bisa kita lihat proses produksinya di sini. Selain itu, kain tenun khas Rote pun dibuat di sini. Kita bisa membelinya dengan harga bervariasi.

Sayang sekali kemarin saya tak bertemu Pak Jeremiah. Kata anaknya yang tadi menemani, beliau sedang istirahat siang. Duh, salah sendiri ‘bertamu’ siang-siang. Hehe. Tapi tak mengapa, saya sangat puas dengan kunjungan hari itu. Saya jadi belajar hal baru, sambil diam-diam berharap…

Semoga regenerasi pemain Sasando tak berhenti hanya pada keturunan Pak Jeremiah saja. Dan semoga denting Sasando makin nyaring, bahkan hingga ke seluruh penjuru dunia.

 

catatan: tulisan ini juga penulis tampilkan di blog pribadi penulis http://www.doubletrackers.com/

Oleh : Hening Swastikaningrum

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Ada pelangi di kota Semarang

Ada pelangi di bola matamu adalah sepenggal lirik lagu milik grup band Jamrud. Eeh… tunggu dulu! Ternyata ada pelangi di kota Semarang. Ya, benar. Dia hinggap di kota Semarang… Hehehe. Ternyata ada satu ikon wisata baru di kota ini, namanya Kampung Pelangi. Ya benar, kampung ini memang sedang menjadi berita hangat di beberapa media online ataupun media sosial, bahkan sudah mendunia. Dari 391 rumah di kawasan ini, total saat ini rumah yang sudah berubah kelir seperti warna bianglala ini mencapai kurang lebih 240.

 

Kampung Pelangi berada di kawasan yang terkenal dengan sebutan Gunung Brintik – tepatnya di kampung Wonosari, kelurahan Randusari, kecamatan Semarang Selatan. Kawasan ini dulunya terkenal dengan kawasan kumuh. Sejak imbas krisis moneter pada tahun 1997, penduduk mayoritas di sini adalah pengangguran. Banyak juga yang menjadi pengamen ataupun pengemis. Pagi itu saya bertemu dengan Pak Kaswadi, seorang pengrajin pot yang sudah tinggal di kampung ini sejak 1980an. Ia menemani saya sekedar menyesap secangkir kopi di sebuah warung.

 

“Menurut berita, pemerintah kota sudah mengucurkan dana hingga 300 juta Rupiah untuk pembangunan kampung sini. Itupun sampai saat ini masih belum rampung.” Pak Kaswadi menjelaskan sambil menghisap dalam rokok kreteknya. Menghembuskan asap putih pekat ke udara.

 

“Beberapa rumah malah rencananya akan dibedah dulu sebelum di-cat. Ada beberapa rumah yang masih kumuh, akan dirombak bagian atapnya. Baru kemudian dilanjutkan dengan pengecatan di bagian luar rumah. Sementara bagian dalam dibiarkan seperti apa adanya, otentik.” tambahnya.

 

Beberapa fasilitas sebagai penunjang kawasan wisatapun mulai dibangun. Menyusul toilet yang sudah ada sebelumnya, saat ini sedang dikerjakan tempat istirahat untuk pengunjung dan juga pusat kuliner. Sepertinya pemerintah kota Semarang cukup serius menggarap kawasan ini sebagai ikon baru wisata.

 

Masalah klasik sepertinya adalah kurangnya lahan untuk parkir untuk para pengunjung. Jika akhir pekan akan tampak kemacetan yang mengular di sepanjang kawasan ini. Tetapi pemerintah kota Semarang tampaknya cukup perduli dengan problema ini, buktinya mereka sedang menggarap sebuah lahan yang cukup luas. Saya melihatnya berbarengan dikerjakan dengan tahapan pengerukan sungai yang letaknya tepat di depan Kampung Pelangi ini.

 

Setelah selesai dengan tahap pengerukan, sungai kecil yang terkenal dengan nama Kali Semarang itu nantinya akan ditempatkan perahu-perahu supaya pengunjung bisa menikmati wisata air. Sebelumnya Kali Semarang memang mengalami pendangkalan yang hebat. Bahkan boleh dikatakan kali itu dalam tahap “sakit parah” dan berbau tidak sedap.

 

Konsep kampung pelangi ini bukanlah yang pertama kali ada di Indonesia. Sudah ada 9 daerah yang mengambil konsep kampung warna-warni atau pelangi. Sebut saja nama kp. warna warni Jodipan di Malang, desa wisata Bejalen – Ambarawa, kp. warna-warni Code – Yogyakarta, kp. Kelir di daerah Kroman – Gresik, kp. Penas di Cipinang Selatan, kp. Wisata Lubuk Linggau, kp. Wisata Teluk Seribu – Balikpapan, kp. Kali Lo – Banyuwangi serta kp. Bulak – Kenjeran di Surabaya. Segera menyusul kemudian yaitu sebuah kampung di lembah Tidar – Magelang.

 

Pembangunan kawasan wisata seperti Kampung Pelangi di Semarang ini sudah barang tentu akan mengubah penampilan dari wajah kumuh menjadi lebih berseri. Lebih kekinian dan Instagramable. Tentunya akan menjadi suatu perubahan yang lebih baik, dilihat dari sisi meningkatnya taraf hidup masyarakat yang ada di kawasan tersebut. Pendapatan meningkat berujung pada naiknya tingkat kesejahteraan. Dari sisi bisnis pertanahan, jelas akan meningkatkan harga tanah atau rumah di kawasan ini. Padahal sebelumnya, siapa yang melirik kawasan kumuh ini.

 

Hingga saat ini untuk masuk ke dalam kawasan wisata ini masih belum dikenakan tarif, karena memang belum diresmikan oleh dinas pariwisata ataupun pemerintah kota Semarang. Tidak usah pusing dengan urusan logistik makan ataupun minum, beberapa rumah sudah ada warung yang siap menyediakan pesanan anda.

 

“Pemerintah kota memfasilitasi cat untuk bagian tembok dan atap rumah. Sementara untuk jalan kampung, pengecatan dilakukan atas partisipasi warga. Uangnya pun urunan warga setempat. Mural yang di dinding itu hasil karya para pelukis Semarang. Mereka tidak dibayar lho. Sukarela” jelas Pak Kaswadi, kali ini sambil menyesap kopi hitam di gelasnya. Guratan kulit menua jelas terlihat di wajah dan tangannya.

 

Saya mohon ijin meninggalkan Pak Kaswadi di warung dengan secangkir kopinya, demi melanjutkan menelusur jalan-jalan sempit dan menanjak di perkampungan ini. Beberapa warga tampak sedang larut dalam aktifitas paginya. Saya sendiri asyik menikmati torehan warna-warni mural di dinding ataupun jalan-jalan setapak. Tampak beberapa pengunjung sudah mulai berdatangan. Sesekali pula mereka ber-swafoto di depan mural-mural yang terdapat di tembok rumah warga.

 

Masih banyak pekerjaan rumah untuk pemerintah kota Semarang demi menggarap kawasan wisata ini. Beberapa diantaranya boleh saya catat:

 

  1. Tidak tersedianya homestay atau guest house di kawasan ini perlu diperhatikan. Mengapa? Biasanya wisatawan dari luar negeri lebih suka dengan kondisi yang otentik – mereka sangat tertarik untuk berbaur dengan warga lokal ketimbang harus menginap di hotel.
  2. Perlu adanya peta kawasan Kampung Pelangi yang bisa menuntun pengunjung lengkap dengan titik-titik persinggahan, untuk sekedar istirahat atau ber-swa foto.
  3. Dibuatkan kafe sederhana di titik-titik tertentu (di pelataran rumah warga misalnya), dengan rasa ontentik khas Semarang di kecap rasa.
  4. Tidak adanya atraksi kesenian dari warga lokal. Mungkin bisa ditampilkan misalnya kesenian tari atau seni membatik di rumah warga atau balai pertemuan warga, sehingga pengunjung bisa menikmati kekayaan budaya lokal – ketimbang hanya menikmati Kampung Pelangi dengan berfoto-foto saja tetapi tidak ada kenangan suguhan budaya.

 

Tentunya untuk mewujudkan sebuah kawasan wisata yang mumpuni, dibutuhkan sebuah kerja keras dan kerjasama dari berbagai macam pihak.

 

“Paling tidak saat ini kota Semarang sudah dapat berdiri sejajar dengan kota Cinque Terre di Italia, Olinda di Brazil maupun Guanajuato di Mexico”

 

Semoga wangi harum Kampung Pelangi ini semakin semerbak,  jangan lupa bawa serta Bandeng Presto dan Wingko Babat semakin tenar hingga ke pelosok dunia lebih dari hari ini. Teruslah berbenah dan bersolek. Ciptakan lebih banyak kreasi kotamu dengan tema-tema yang mendunia.

Oleh : Yokhanan Prasetyono

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Bagan : Land of Thousand Pagodas

Bagan adalah alasan utama mengapa saya melakukan perjalanan ke Myanmar. Bagan yang terletak di tepi sungai Irrawady merupakan rumah bagi ±2.200 kuil, pagoda, stupa dan reruntuhan Buddhis yang masih bertahan hingga sekarang. Kuil dan pagoda di Bagan dibangun dari abad ke-9 hingga abad ke-13. Diestimasi ada sekitar 13.000 kuil dan pagoda yang berdiri dengan megah pada saat itu, menandakan zaman keemasan Bagan, hingga akhirnya pada tahun 1287 bangsa Mongol datang dan menghancurkan Bagan.

Setelah menempuh 10 jam perjalanan darat via bus dari Yangon, saya pun tiba di terminal bus Bagan. Saat itu pukul 05.30 dan langit sudah terang. Turun dari bus, saya pun langsung dikerumuni supir taxi dan kereta kuda yang berbondong-bondong menawarkan jasanya untuk mengantarkan saya ke penginapan. Saya pun kemudian memutuskan menggunakan kereta kuda. Seiring langkah kaki kuda, saya pun memasuki wilayah Bagan Archaelogical Zone. Kesan pertama yang saya dapatkan adalah sepertinya waktu berjalan lebih lambat di Bagan. Saya pun langsung jatuh cinta dengan Bagan.

Centuries Old Stupa

Setelah selesai check-in, saya pun siap berangkat mengeksplor Bagan dengan e-bike (sepeda elektronik) sewaan. Tujuan pertama adalah Shwezigon Pagoda. Pagoda ini merupakan salah satu yang paling terkenal di Bagan dan menyerupai Shwedagon Pagoda yang terkenal di Yangon. Dari sana saya kemudian melanjutkan perjalanan ke kuil lainnya, sebu saja Bulethi, Sulamani, dan kuil-kuil kecil yang tidak saya ketahui namanya. Sebagian saya kunjungi, sedangkan sebagian lagi hanya saya amati dari luar saja.

Kuil-kuil di Bagan didominasi oleh warna merah bata yang begitu kontras dengan warna hijau dari pepohonan liar yang tumbuh di sana. Kuil-kuil tersebut sudah berada di sana selama berabad-abad lamanya, terpapar sinar matahari, angin, hujan dan juga gempa tanpa perlindungan apapun. Gempa terakhir yang terjadi pada Agustus 2016 silam telah meluluhlantakkan lusinan kuil yang terdapat di Bagan. Ketika saya berkunjung ke sana, sebagian besar kuil sedang direnovasi, sehingga tidak bisa diakses.

Menjelang petang saya pun kembali mengendarai e-bike menuju ke Shwesandaw Stupa yang katanya merupakan spot terbaik untuk menikmati sunset di Bagan. Ketika tiba di sana, sudah ada beberapa bus pariwisata, mobil dan puluhan e-bike yang terparkir rapi di depan stupa. Saya pun bergegas naik untuk mencari tempat duduk yang ideal. Stupa ini dijadikan sebagai spot favorit untuk melihat sunrise dan sunset karena lokasinya yang strategis, karena terdiri dari 5 lantai, sehingga pengunjung bisa menyaksikan pemandangan dari lokasi yang lebih tinggi. Saya datang ke Bagan pada bulan Juni yang merupakan awal dari musim hujan di Myanmar sehingga saya tidak berharap banyak dapat melihat sunrise dan sunset yang bagus. Apalagi hari pertama saya di Yangon ditemani oleh hujan yang turun terus menerus. Saya menunggu hingga sunset pada pukul 18.30, sambil menyaksikan turis datang dan pergi, termasuk beberapa Bhikkhu dari berbagai negara (bisa dilihat dari warna jubah yang dikenakan) baik yang datang sendiri maupun bersama rombongan. Semuanya berlomba-lomba mengabadikan sunset dengan latar kuil-kuil di Bagan, tetapi tidak sedikit dari mereka yang kecewa. Meskipun tidak ada hujan di Bagan, tetapi langit dipenuhi oleh lapisan-lapisan awan sehingga menghalangi pemandangan sunset. Belakangan roommate saya yang duluan tiba di Bagan bercerita kepada saya bahwa dia sudah berburu sunrise dan sunset selama 3 hari berturut-turut sebelum akhirnya memutuskan untuk menyerah. Nampaknya, kami datang bukan pada musim yang tepat.

Keesokan harinya, meskipun sudah tahu tidak akan bertemu dengan sunrise yang bagus, saya tetap memutuskan untuk mengunjungi Bulethi stupa. Stupa ini juga tidak kalah populer dengan Shwesandaw sebagai sunrise temple. Pengunjung bisa naik hingga ke tingkat keempat di stupa ini. Pukul 04.00 subuh saya sudah bangun dan bersiap-siap untuk berangkat. Saya pun langsung menuju ke Bulethi. Subuh itu tidak begitu banyak orang yang berada di sana, mungkin karena low-season dan mungkin karena banyak yang malas bangun pagi. Kembali saya pun harus kecewa karena tidak ada sunrise pada hari itu, yang ada hanyalah semburat warna lembayung di langit dan awan yang lumayan tebal. Untunglah saya ditemani dengan pemandangan seorang petani yang sedang membajak sawah di sebelah kuil. Petani tersebut membajak sawah bersama seekor kerbau secara perlahan sambil menyanyi. Sesekali dia berhenti karena capek dan menenggak sedikit air sekalian memberikan waktu bagi kerbaunya untuk beristirahat.

Ancient Wisdom of Burmese People

Karena hari ini merupakan hari terakhir saya di Bagan, maka saya pun menyempatkan diri untuk mengunjungi kuil-kuil lain yang terdapat dalam list saya. Saya berkunjung ke Dhammayangyi (kuil yang paling besar di Bagan), Ananda Temple (kuil yang paling cantik di Bagan), Thatbyinnyu (kuil yang paling tinggi di Bagan) dan beberapa kuil lainnya seperti Gawdawpalin, Shwegugyi, Htilominlo, Bupaya, dan lain sebagainya. Saya suka dengan kuil-kuil besar, kemegahannya beserta keindahannya. Tetapi saya mendapati diri saya juga menyukai kuil-kuil kecil di mana di kuil-kuil tersebut tidak ada orang lain, yang ada hanya diri saya sendiri dan kuil tersebut. Begitu sunyi dan begitu damai.

Jam sudah menunjukkan pukul 4 sore dan saya pun harus menyudahi kunjungan ke kuil-kuil di Bagan. Satu jam lagi saya mesti melanjutkan perjalanan ke Mandalay. Saya mesti mengakui bahwa trip ke Bagan kali ini sangat tergesa-gesa, saya hanya punya waktu 2 hari untuk mengunjungi 2200 kuil di Bagan. Awalnya saya berharap bisa menikmati kuil di Bagan dengan duduk santai dari satu kuil ke kuil lainnya tanpa terburu-buru. Tetapi akhirnya saya menyadari bahwa Bagan ternyata jauh lebih luas dan waktu 2 hari tidaklah cukup. Bagan bukanlah hanya kuil saja, tetapi merupakan sebuah cara bagaimana masyarakat di sekitarnya hidup dengan damai. Selama di Bagan saya banyak bertemu dengan penduduk lokal dan belajar dari kearifan mereka. Hingga saat inipun mereka masih sangat religius. Di kuil-kuil mereka masih melakukan ibadah, membacakan paritta dan memberikan persembahan. Saya bertemu dengan beberapa penduduk lokal yang menawarkan untuk mengoleskan bedak Thanaka ke wajah saya, dimana saya selalu ingin memberikan tips tetapi selalu ditolak mereka karena menurut mereka itu adalah tradisi asli Myanmar yang harus dilestarikan. Dalam perjalanan bus dari Bagan menuju Mandalay saya pun sambil memikirkan bagaimana nasib mereka 10 tahun atau 20 tahun kemudian. Di satu sisi saya berharap arus globalisasi dan meningkatnya kunjungan turis mancanegara bisa meningkatkan kesejahteraan mereka. Tetapi di sisi lain saya juga berharap mereka tetap menjadi diri mereka yang rendah hati, ramah dan tidak menjunjung tinggi materi.

Oleh : Suryadi

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Danau 3 Warna Kelimutu yang Selalu Melekat di Hati

Sebuah tempat yang tidak pernah terpikirkan untuk dikunjungi. Dahulu aku hanya melihatnya dari uang rupiah pecahan 5.000 dan sudah berlalu begitu saja dari pikiran. Aku pun tak pernah penasaran tentang keberadaannya. Namun hingga tahun 2015 semua berubah. Aku ingin sekali ke Flores dan Alhamdulillah aku sampai di sana. Danau ini menjadi destinasi terakhir dalam sekuel perjalananku ke Flores sebelum kembali ke Jakarta.

Dengan begitu banyak drama, mulai dari perjalanan ke desa Moni yang begitu jauh dan memakan waktu lama dengan naik mobil angkutan umum sampai perjalanan menuju ke Danau Kelimutu. Setelah check out hotel di Ende, aku dan temanku menanti datangnya mobil angkutan dengan jurusan Ende – Moni yang jarang jumlahnya. Akhirnya setelah menunggu, kami bisa naik angkutan dan bingung harus berhenti di mana? Kami belum punya penginapan dan tidak tahu harus ke mana? Benar-benar backpacker sejati, semua serba dadakan bagai tahu bulat. hahaha lucu dan tidak akan terlupakan. Setelah bertanya-tanya ternyata di dekat Danau Kelimutu banyak penginapan yang bisa langsung booking kalau kamar kosong tersedia.

Sambil melihat kanan dan kiri jalan, akhirnya terpilih rumah Ibu Cristina yang masih tersedia kamar kosong. Penginapannya seperti rumah biasa dan kamarnya pun seperti kamar di rumah saya. Kamarnya cukup bersih, pemiliknya ramah, dan tersedia sarapan gratis. Horaay lumayan menghemat budget. Setelah bertanya-tanya Ibu Cristina punya motor yang bisa disewakan untuk mengunjungi Danau Kelimutu. Alhamdulillah ya.. Namun masalah datang lagi, ternyata aku dan temanku kehabisan uang tunai. Jegeeeerrrr bagai disambar petir kami linglung mau bayar ibu Cristina pake apa. Untungnya motor si ibu boleh dipinjam untuk cari mesin ATM.

Eiitsss jangan senang dulu karena mesin ATM jaraknya jauh sekali. Kalau di Jakarta mungkin seperti dari Kelapa Gading ke Senayan. Naik motor lumayan sekali bikin pegal tetapi dinikmati saja karena sepanjang perjalanan kami bisa berfoto, rekam video, dan bernyanyi. Kami buat semuanya menjadi seru walau sebenarnya meletihkan dan menyebalkan. Aku senang bisa melihat peradaban lagi karena mesin ATM memang berada di pusat kota Moni. Aku bisa melihat anak-anak sekolah dan para ibu yang sibuk bertani di sawah. Hanya ada satu mesin ATM dan bukan bank yang saya pakai, ya sudahlah kebutuhan uang tunai lebih penting dan mendesak.

Setelah itu kami kembali ke penginapan karena besok pagi sebelum matahari terbit kami harus berangkat ke Danau Kelimutu. Akhirnya pagi tiba, sekitar pukul 4 pagi kami berangkat dengan melawan hawa dingin. Bersyukur angin tidak terlalu bertiup kencang sehingga masih bisa kami tahan dinginnya hawa di Moni. Alhamdulillah kami tidak tersasar, hanya sekali bertanya kami sampai di lokasi Taman Nasional Kelimutu. Aku kagum melihat banyak bule yang jalan kaki mungkin dari hotel atau penginapan menuju Kelimutu. Amazing!

Setelah parkir motor, kami segera bayar tiket dan masuk ke Taman Nasional Kelimutu untuk melihat betapa indahnya Danau 3 Warna itu. Namun harapan kami pupus karena cuaca tiba-tiba mendung dan kabut tebal menutupi area danau sehingga kami tidak bisa melihat apapun. Kami menghibur diri dengan membeli susu coklat hangat yang dijual oleh seorang ibu penjual sambil mengobrol. Kata ibunya cuaca di sana memang sering tidak menentu, berdoa saja matahari segera naik dan kabut menghilang. Aku berdoa dalam hati sambil menikmati coklat hangat.

Alhamdulillah, doaku dan doa para pengunjung dikabulkan. Matahari tiba-tiba terbit dan naik ke atas langit kemudian kabut perlahan hilang. Aku dan temanku bersorak riang dan berlarian menuju puncak Danau Kelimutu. Treknya tidak sulit karena sudah berbentuk tangga-tangga. Para pengunjung juga bergegas ke atas untuk mengabadikan momen dengan mata dan bidikan lensa kamera. Saat itu danau teratas berwarna biru muda, danau yang di sebelah bawahnya berwarna hijau, danau yang biasanya berwarna kemerahan pada waktu itu berwarna kehijauan. Karena menurut orang lokal, kalau berwarna merah akan terjadi bencana (huft, jangan sampai terjadi). Sempurna, semua warna terpampang nyata dengan manisnya di depanku. Aku bersyukur tiada henti bisa melihat keindahan itu setelah kesedihan dan penderitaan yang aku alami.

 

Namun satu yang pasti, Kelimutu akan selalu di hati. Kenangannya tak pernah padam dalam ingatan. Selalu memompa semangatku setiap waktu.

 

 

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting