Travel More, Explore More

Indahnya Menjelajah Kyoto di Musim Semi

Jepang, negeri yang terkenal dengan sakuranya. Banyak sekali yang bermimpi bisa datang ke negeri ini. Khususnya pada musim semi. Dan itu sudah jadi mimpi juga bagiku. Datang ke negeri sakura adalah mimpiku sejak lama. Dan akhirnya dengan segala keberuntungan aku bisa menapakkan kakiku disana.

Sebenarnya aku kesana dalam waktu seminggu. Namun kota Kyoto inilah yang membuatku jatuh cinta. Pemandangannya, makanannya, budayanya, juga keramahan penduduknya. Aku tiba di kyoto malam hari, setelah seharian keliling Osaka. Dari stasiun kyoto aku berjalan kaki menuju penginapan yang berjarak kurang lebih 500m dari stasiun. Berbekal Google maps aku berjalan menyusuri kota Kyoto di malam hari. Sesampainya di penginapan aku disambut di meja resepsionis. Dengan bahasa Inggrisnya yang lancar dia menunjukkan tempat – tempat seperti living room, toilet, shower room dan juga peraturan yang ada disana. Setelah itu aku mandi dan langsung tidur lelap.

Keesokan harinya aku sudah segar, sudah siap untuk berkeliling Kyoto. Jam 8 pagi aku sudah siap. Aku segera menuju stasiun Kyoto. Aku segera menuju tourist information disana. Ternyata sudah sangat ramai, para turis mancanegara mengantri disana. Aku segera membeli Kyoto bus pass seharga 500 yen. Dengan tiket ini kita bisa berkeliling kota Kyoto sepuasnya selama satu hari full. Yay…

Setelah mendapatkan Bus pass aku segera menuju terminal bus. Pertama aku ingin menuju Arashiyama. Aku mencari petunjuk arah dimana antrian bus menuju Arashiyama. Bus datang dan langsung penuh. Diatas supir ada layar yang menunjukkan cara pembayaran, baik menggunakan bus pass, kartu suica maupun cash. Juga ada informasi cara turun, lokasi selanjutnya dll. Semuanya sangat membantu bagi turis.

Akhirnya sampai juga di Arashiyama. Pertama aku melewati Togetsukyo bridge. Pemandangan disini benar – benar indah. Bunga sakura yang berguguran tertiup angin menambah keindahannya. Puas menikmati pemandangan tersebut saya langsung lanjut menuju Bamboo Forest. Tempat ini salah satu objek wisata terkenal di Kyoto. Terbukti jalur Arashiyama Bamboo Forest ini penuh dengan wisatawan.

Usai menapaki seluruh Bamboo forest aku mampir ke area penjual makanan. Pesan karage dan orange juice. Sayangnya ketika mau duduk karagenya jatuh, mau tak mau beli lagi. Sudah kenyang saatnya lanjut menuju Kinkakuji. Naik bus lagi, namun kali ini tidak langsung melainkan transit dan berganti bus. Tenang saja, masih bisa menggunakan bus pass kok jadinya masih gratis.

Sampai di Kinkakuji aku harus antri untuk pembelian tiket masuk seharga 400 yen. Penggunaan tripod, monopod dan drone dilarang disini. Sampailah aku di depan kuil berwarna emas ini. Kuil Buddha ini memang salah satu wisata andalan. Pengunjung mengular dengan tertib. Saat berkeliling di kompleks Kinkakuji ini ada salah satu spot dimana banyak orang melempar koin ke sebuah patung kecil. Aku juga ikutan, 1 yen harus ku korbankan. Lempar dan tidak masuk hehehehe. Sebelum pintu keluar banyak yang menjual oleh – oleh. Aku beli sebuah gantungan Kinkakuji seharga 600 yen.

Dari sini aku menuju Philosoper path. Sebuah jalan yang terkenal karena dipenuhi pohon sakura dengan sungai kecil ditengahnya. Jika ingin menikmati hujan bunga sakura mungkin ini salah satu spot terbaik. Sungai kecil ditengahnya berubah pink karena dipenuhi oleh kelopak bunga sakura yang gugur. Di tengah perjalanan aku duduk dan memakan Taiyaki yang kubeli sebelumnya. Terlihat para turis berfoto dengan menggunakan kimono. Senyum bahagia menghiasi wajah mereka.

Usai menikmati sakura aku lanjut menuju kiyomizudera. Ternyata terjebak macet saat menuju kesini. Untuk menuju Kiyomizudera kita harus melalui jalan yang menanjak. Jalan yang tak terlalu besar ini pun sudah dipenuhi orang. Usai membeli tiket aku terbawa arus menuju keatas. Dari sini aku bisa melihat Kota Kyoto. Kyoto Tower pun bisa terlihat dari sini. Oh ya, disini kita bisa ikut ritual minum dari air mancurnya lho. Konon katanya bisa enteng jodoh. Aku yang masih single nan rupawan ini mau gak mau harus turut serta. Biar gak traveling sendirian lagi seperti sekarang. Antri cukup panjang demi bisa meminum air dari pancuran. Disana disedakan gayung dengan gagang yang panjang untuk menggapai airnya. Airnya segar, mungkin karena ku juga lagi haus hahaha.

Hari sudah mulai gelap, saatnya cari makan. Aku naik bus menuju stasiun Kyoto. Dari sana aku menuju restoran Ayam-ya. Sebuah restoran ramen halal. Aku membeli tiket pesanan di vending machine. Lalu memberikannya dan pesananku tak lama datang. Salah satu keunikan Jepang adalah praktisnya sistem Vending machine ini. Setelah makan kenyang aku kembali ke penginapan.

Hari kedua di Kyoto, Aku lebih santai. Jadwal hari ini tidak padat. Jam 10 pagi aku check out dan langsung menuju stasiun, kali ini aku pergi ke Fushimi Inari. Tempat yang terkenal dengan jajaran Torii berwarna orange. Sebelum itu aku menyewa loker untuk menaruh tas. Di dalam kereta sudah penuh sesak dari orang berbagai negara. Dan semua tumpah disini. Butuh 2 – 3 jam untuk mencapai puncak. Hanya sebagian orang yang meneruskan sampai atas, sebagian lagi putar balik setelah setengah perjalanan. Aku termasuk orang yang putar balik. Perut lapar, begitu sampai bawah langsung beli takoyaki dan ditutup dengan es krim matcha yang memanjakan lidah.

Sudah kenyang, aku pergi menuju ke stasiun. Selanjutnya aku ingin bersantai di tepi sungai Kamogawa Delta Demachiyanagi. Kamogawa delta merupakan tempat pertemuan dua sungai, antara sungai Takano dan Kamo. Ditengah sungai yang jernih ada batu batu dengan berbagai bentuk yang menarik. Aku menuju tengah sungai dan duduk di sebuah batu berbentuk Kura – kura. Suasana yang nyaman dengan bunyi air mengalir sungguh menyejukkan hati. Burung gagak beterbangan diatas, ada juga semacam burung bangau mencari ikan di sungai. Suasana seperti ini sungguh dapat menghilangkan rasa lelah setelah perjalanan panjang. Dari situ aku beranjak menuju sebuah toko mochi yang cukup terkenal sehingga pembelinya antri untuk mendapatkannya. Setelah mendapatkan mochi aku membawanya kembali ke kamogawa delta. Menyantap di tepi sungai dibawah pohon sakura. Waktu sudah sore, menandakan waktu di Kyoto yang indah telah berakhir. Karena aku harus menuju stasiun Kyoto untuk menunggu bus yang akan membawaku menuju Tokyo.

Selamat Tinggal Kyoto, suatu saat mungkin aku akan kembali lagi.

Oleh : Van Arbi Tama

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Menelusuri Kisah Mangkunegara VI, Pemimpin Yang Bersahaja

Surakarta yang lebih dikenal dengan Solo memiliki sejarah masa lalu yang panjang dan terhormat. Di sinilah raja-raja Mataram bertahta dengan kisah yang selalu menarik serta bisa menjadi teladan. Masing-masing dari mereka memiliki gelar dan wilayah kerajaan sesuai dengan perjanjian pada masa pemerintahannya. Praja Mangkuneragan adalah salah satu kerajaan yang ada di Solo yang dipimpin oleh penguasa bergelar “Pangeran Adipati Arya”. Sekilas kerajaan ini mengingatkan saya pada Monaco dengan wilayah otonomnya yang juga dipimpin oleh penguasa bergelar “Pangeran”.

Para penguasa ini biasanya akan bertahta seumur hidup, pergantian tahta pada umumnya terjadi saat mereka lanjut usia atau wafat. Uniknya Mangkunegaran memiliki tradisi pergantian tahta dimana tahta tidak selalu diteruskan oleh putra tertua, melainkan dapat digantikan oleh cucu, sepupu, adik atau keponakan. Para Mangkunegara yang telah wafat umumnya dikebumikan di Astana Mangadeg dan Astana Girilayu yang berada di luar Kota Solo. Terkecuali Mangkunegara VI yang dimakamkan di Astana Oetara yang kini merupakan salah satu cagar budaya Kota Solo, suatu siang saya dan keluarga pun mampir ke sana.

Lokasi makam Mangkunegara VI tak jauh dari pusat kota dan berada di tanah datar sehingga cukup mudah untuk berkunjung ke sini. Saat berkunjung kita hanya perlu mematuhi tata tertib yang berlaku di sana yang sebenarnya tidak jauh berbeda dengan aturan berkunjung ke makam pada umumnya. Mangkunegara VI dimakamkan bersama para kerabat dan mereka yang pernah mengabdi padanya. Hal menarik, ternyata kedua orang tua Ibu Tien Soeharto pun sempat dimakamkan di sini sebelum kemudian makamnya dipindahkan ke Astana Giri Bangun.

Terdapat masjid dan pendopo serta bangunan yang rencananya akan berfungsi sebagai museum Mangkunegara VI di kompleks pemakaman Astana Oetara ini. Suasananya asri karena banyak pohon besar dan tanaman di dalamnya. Sebuah patung anak kecil yang berada di depan menyambut setiap pengunjung yang datang. Tak jauh di belakangnya terdapat patung Mangkunegara VI yang terlihat bersahaja dengan menggunakan peci sebagai penutup kepala. Selanjutnya di belakang patung tersebut terdapat sebuah pintu gerbang berwarna kuning dan hijau untuk masuk ke dalam area makam utama. Sebuah bangunan beratap (cungkup) dapat terlihat saat kita memasuki area itu, di sanalah Mangkunegara VI disemayamkan.

Ir. Soekarno yang kelak merupakan Presiden Pertama Republik Indonesia disebut-sebut sebagai arsitek Astana Oetara. Kompleks pemakaman ini bisa dibilang tidak “sekaku” makam keluarga kerajaan pada umumnya. Mangkunegara VI memang dikenal dekat dengan rakyatnya, setelah tiada beliau pun dimakamkan dekat dengan rakyatnya. Sebagai pengingat akan hal ini selain berfungsi sebagai makam, Astana Oetara juga rutin menjadi tempat kegiatan warga sekitar dengan puncak acara kebudayaan Grebeg Astana Oetara yang dilakukan dalam rangka peringatan saat Mangkunegara VI naik tahta.

Kisah Mangkunegara VI menarik untuk ditelusuri, salah satunya karena beliau memilih untuk turun tahta atas kehendak sendiri lalu menetap di Surabaya bersama keluarganya hingga kemudian wafat dan dimakamkan di Astana Oetara, Nayu, Solo. Mangkunegara VI bertahta untuk menggantikan posisi kakaknya Mangkunegara V yang meninggal dunia. Hal ini dilakukan berdasarkan pesan ibundanya Ray Dunuk (Putri Mangkunegara III) karena putra Mangkunegara V belum ada yang cukup usia untuk bertahta. Kondisi keuangan kerajaan saat itu pun dalam situasi sulit akibat harga gula masa jatuh karena adanya pesaing baru dari Brazil (Mangkunegaran memiliki pabrik gula yang merupakan salah satu sumber penghasilan kerajaan).

Selain itu manajemen keuangan kerajaan juga perlu dibenahi, sehingga Mangkunegara VI kemudian menetapkan pemisahan yang ketat antara keuangan perusahaan dan keuangan keluarga. Semua sektor ekonomi yang potensial dikelola dengan lebih baik dan modern pada masa itu, semisal tanah milik Mangkunegaran dikelola menjadi tanah-tanah produksi dan sewa. Kemudian dilakukan pengaturan yang ketat terhadap tanah-tanah yang disewa oleh perusahaan milik Belanda. Penyitaan tidak segan-segan dilakukan terhadap mereka yang melakukan penunggakan sewa. Pada akhir kepemimpinannya, hutang kerajaan dapat dilunasi dan keuangan kerajaan menjadi surplus.

Nampaknya pembenahan keuangan dan perekonomian Mangkunegaran adalah peninggalan yang paling menonjol dari Mangkunegara VI. Namun saya juga tertarik dengan prinsip beliau untuk menyederhanakan penampilan dirinya beserta para kerabat kerajaan dengan mewajibkan potongan rambut pendek untuk pria. Kemudian hal penting lainnya dalam kehidupan sosial masyarakat adalah masalah kebebasan dalam memeluk agama. Beliau memberikan izin kepada para kerabat kerajaan untuk memeluk agama kristen. Ini adalah salah satu kisah yang dapat terus dijadikan panutan karena ternyata toleransi bukanlah hal yang baru kemarin sore ada di negeri ini.

Matahari semakin tinggi saya dan keluarga pun harus menyudahi kunjungan kami. Mudah-mudahan lain waktu saya bisa hadir bersama keluarga dalam acara Grebeg Astana Oetara, atau paling tidak saat museum Mangkunegara VI sudah resmi dibuka untuk umum untuk mencari tahu lebih banyak mengenai kisah-kisah keteladanannya. Saya memang sudah bukan berdarah asli Solo, namun berkunjung ke kota ini dan mampir ke salah satu cagar budayanya mengajarkan saya banyak hal tentang masa lalu. Itulah yang membuat saya juga tertarik untuk membawa anak-anak berkunjung ke kota ini dan mampir ke cagar-cagar budaya yang ada di sana. Tujuannya agar mereka belajar sesuatu tentang kota tempat asal nenek moyang mereka yang memiliki sejarah panjang ini.

Saya lalu teringat ketika pernah membaca sebuah artikel dari sebuah media asing yang mengulas tentang penelitian terhadap anak-anak yang diperkenalkan sejarah mengenai nenek moyangnya dan mengetahui banyak hal tentang kisah keluarga mereka di masa lalu. Melalui penelitian itu dikemukakan bahwa anak-anak tersebut akan dapat lebih baik melakukan penyesuaian diri sekaligus lebih tabah dalam menghadapi tantangan zaman. Memahami sejarah dan kisah nenek moyang rupanya merupakan salah satu cara untuk menemukan jati diri. Harapannya dengan mengenalkan anak-anak kepada kisah-kisah dari tanah leluhurnya mereka dapat menemukan jati diri mereka yang kokoh sebagai generasi penerus bangsa. Ibarat pohon dengan akar yang kokoh nantinya akan dapat tumbuh dengan baik.

Oleh : Ratih Janis

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Satu Hari di Kota Semarang

Berbicara tentang Semarang apa yang di pikiran kalian? Lumpia? Simpang Lima atau Lawang Sewu?. Yap Semarang ibu kota provinsi dari Jawa Tengah ini merupakan salah satu destinasi wisata yang keren banget. Di mulai dari banyaknya destinasi wisata mulai dari klenteng Sham Po Kong, Mesjid Agung Jawa Tengah sampai ke Taman Meiro Koco di Semarang Selatan.

Nah saya berkesempatan traveling ke Semarang. Awalnya tidak niat untuk menjelajah kota ini, kebetulan ada acara di pekalongan dan ternyata tiket ke Semarang lumayan murah dari pekalongan, akhirnya saya berangkat juga ke Semarang. Perjalanan dari pekalongan ke Semarang di tempuh dalam waktu kurang lebih 2 jam dengan menggunakan kereta api seharga Rp. 40.000.

Semarang kota yang cukup ramai saat saya sampai di stasiun Semarang Poncol. Ada dua stasiun di Semarang yaitu Semarang Poncol dan Semarang Tawang. Sesampai di kota ini saya menginap di sebuah hostel dekat dengan stasiun berbentuk dormintory yang cukup murah permalamnya. Memasuki kota Semarang sudah malam, namun niat saya untuk langsung traveling menuju ke Lawang Sewu malam ini harus jadi.

Menuju kesana saya telpon temen yang kebetulan lagi kuliah di Semarang untuk menemani kesana dan akhirnya dia dateng jam 20.30, titip tas di hostel kami langsung berangkat menuju Lawang Sewu. Tidak tahunya temen ini walaupun sudah kuliah lama di Semarang tapi lupa jalan ke Lawang Sewu dan akhirnya muter-muter mencari jalan lagipula kita tidak bawa helm jadi terpaksa menghindar dari jalur utama.  Sampai di Lawang Sewu sudah hampir jam 21.15 sudah lewat dari jam terakhir kloter untuk masuk ke sana. Akhirnya hanya bisa foto-foto di depanya saja.

Tidak dapat ke Lawang Sewu akhirnya kami mencari makan, menanyakan rekomendasi kuliner melalui pesan singkat ke teman yang merupakan penikmat kuliner di Semarang, dia menyarankan untuk mencoba tahu gimbal di dekat taman KB Semarang. Kami menuju kesana mencari tempat yang di rekomendasikan, sesampai disana ternyata tahu gimbalnya sudah habis padahal menurut teman saya buka sampai jam 00.00  Sudah tidak dapat ke Lawang Sewu, tahu gimbal yang enak habis akhirnya saya memilih makan tahu gimbal yang ada di dekat daerah situ yang merupakan daerah kuliner

Malam itu tidak dapat apa-apa dan akhirnya saya pulang ke hostel, beristirahat karena besok pagi akan mengeksplor kota Semarang . Hari esok saya mengontak sepupu yang kebetulan kuliah di Semarang karena teman yang malam ini mengantarkan jalan-jalan ada kegiatan sehingga tidak bisa mengantar.

Pukul 08.00 saya sudah bersiap untuk mengeksplor kota Semarang, sambil menunggu sepupu datang, saya makan mie instant yang di sediakan oleh pihak hostel. Sepupu datang jam 08.30, dan sepupu saya mengajak sarapan dulu. Mencari sarapan di Semarang tidaklah terlalu sulit, akhirnya kita memilih mie kopyok karena posisinya juga cukup dekat dengan hostel.

Mie Kopyok Pak Dhuwur yang menjadi tujuan kami untuk sarapan pagi itu. Mie Kopyok merupakan mie dengan potongan lontong, irisan tahu pong, tauge, irisan daun seledri, taburan bawang goreng dan kerupuk gendar atau karak yang sudah remah. Kemudian disiram dengan kuah kaldu rempah. Kuah dari mie kopyok ini murni dari nabati bukan dari tambahan daging jadi tidak ada daging di mie ini. Mie ini dalam prosesnya mi dimasak dengan cara dikopyok-kopyok atau dicelupkan secara berulang ke air yang mendidih. Sudah kenyang makan mie ini kami akhirnya menentukan destinasi pertama yaitu menuju Kampung Pelangi Semarang.

Perjalanan menuju Kampung Pelangi di tempuh dengan waktu tidak sampai 15 menit. Kawasan Kampung Pelangi yang baru diresmikan Mei 2017 ini merupakan salah satu destinasi yang merupakan instagramable. Rumah-rumah di daerah ini berbentuk warna-warni yang menjadi lebih menarik untuk berfoto-foto ria. Puas berfoto dan menaiki sampai puncak Kampung Pelangi akhirnya kami kembali melanjutkan ke destinasi berikutnya yaitu ke klenteng Sham Po Kong.

Klenteng yang terletak di daerah Semarang Barat ini merupakan tempat petilasan atau tempat persinggahan laksamana dari negeri china yaitu Laksamana Cheng Ho. Memasuki klenteng ini kita dapat membayar sebesar Rp. 10.000 untuk ke tempat utamanya saja namun untuk memasuki ke pelataran tempat ibadah dengan berbagai macam klentengnya kita harus membayar seharga Rp. 25.000. Klenteng ini juga menyewakan baju cina bagi setiap orang yang ingin berfoto agar dalam berfoto bagai di cina. Puas berfoto seperti di china kami berjalan menuju taman Meiro Koco

Taman Meiro Koco ini merupakan taman yang berisi berbagai bentuk rumah adat Jawa Tengah dari kabupaten-kabupaten yang ada. Selain rumah-rumah adat disini juga ada taman hutan mangrove yang kece abis. Kita dapat menyusuri hutan mangrove ini dengan jembatan bambu. Jembatan bambu ini mempunyai panjang kurang lebih 2 km dan banyak spot foto-foto.

Puas keliling rumah adat Jawa Tengah dan hutan mangrove di Taman Meiro Koco tidak terasa waktu sudah hampir menuju dzuhur. Kami berdua sepakat bahwa untuk shalat dzuhur mau shalat di Masjid Agung Jawa Tengah. Meluncurlah kami menuju ke masjid ini, perjalanan menuju masjid ini cukup jauh kurang lebih 10Km dari Taman Meiro Koco ini. Menempuh kurang lebih 20menit akhirnya kami sampai di masjid. Pelataran masjid yang mempunyai payung berjumlah 6 pasang yang dapat di buka ini seperti di Masjid Nabawi, payung-payung ini biasa di buka pada saat shalat jumat saja. Selain beribadah shalat kita juga dapat melihat museum Masjid Agung Jawa Tengah yang terletak di bawah menara, setelah melihat-lihat museum kita juga dapat menaiki menara masjid yang tingginya kurang lebih 15 lantai memakai lift.

Sudah puas di Semarang? Ternyata masih ada satu destinasi wajib dan menjadi hits di kota ini yaitu Kawasan Kota Lama Semarang. Puas berfoto di Masjid Agung Jawa Tengah kami menuju ke kawasan Kota Lama Semarang yang merupakan destinasi terakhir dari perjalanan saya di kota ini. Semarang masih banyak bangunan tua salah satunya di daerah kota lama ini. Gedung-gedung tua ini menjadi objek wisata dan objek foto bagi para pelacong yang ke kota ini. Salah satu yang menjadi objek adalah Gereja Blenduk yang terletak di jalur jalan kota lama ini.

Sehari cukup di kota ini? Saya belum puas mengeskplor kota ini namun tiket sudah terlanjur di beli untuk kembali kota. Banyak hal yang bisa di eksplor dari kota ini. Mulai dari Sejarah hingga tempat Foto kekinian, dari kuliner juga dapat kita eksplor lagi. Selamat tinggal kota Semarang. Sampai jumpa kembali..

Oleh : Rizki Rakhmat Abdulah

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Berburu Aurora sampai ke Ujung Bumi

Aurora, apakah itu sehingga membuat saya memburunya sampai ke ujung bumi?

Aurora adalah karya Tuhan yang cantik berupa pancaran cahaya pada lapisan ionosfer bumi yang ditimbulkan dari interaksi medan magnetik bumi dengan partikel bermuatan yang dipancarkan matahari. Aurora borealis bisa dilihat di artic circle bumi bagian utara dan aurora australis di bagian selatan. Umumnya orang lebih memilih melihat di utara. Aurora borealis umumnya dapat jelas dilihat di bulan Sep-Okt dan Mar-Apr. Cantik banget langit yang gelap dihiasi cahaya hijau yang menari-nari dan kadang muncul juga warna violet.

 

Tempat yang saya pilih untuk melihat aurora adalah kota Whitehorse, Kanada. Saya terbang dari Jakarta ke Vancouver, lalu setelah 2 hari keliling Vancouver, saya ke Whitehorse menggunakan pesawat Air North, pesawat kebanggaannya orang Yukon. Selama berwisata di kota ini saya menggunakan lokal tour bertema “3 Nights Aurora Viewing” yang saya pesan online di  www.NorthernTales.ca dan email-nya adalah [email protected]

 

Di Whitehorse penduduknya agak beda komposisi dengan Vancouver dan Calgary. Wajah asia jauh lebih sedikit disini, sehingga kami sering diliatin orang bagaikan orang nyasar di “kampung” nya Kanada ha…ha…

 

Setibanya di airport, kami dijemput oleh pihak tour dan diantar ke hotel Best Western yang ditempuh hanya 5 menitan naik mobil melewati jalan Alaska Highway. Setibanya di hotel kami langsung mencari makan dan istirahat supaya malamnya kuat bergadang memburu aurora.

 

Berburu Aurora Malam Pertama

Pesertanya malam ini cukup banyak, ada 3 mobil van dan dibagi di 3 lokasi yang nama lengkapnya ngak tahu apa,  letaknya 30 km-an dari kota.

Suhu hari itu dingin juga minus 3, kami hanya tahan 15 menitan di luar alam terbuka dan nongkrong di rumah kayu dan satu persatu peserta juga ngukut ke dalam. Kami beruntung, saat kami datang auroranya lagi bagus jadi di awal kami sudah dapat foto bagus.

Membuat foto aurora ternyata susah susah gampang, kita harus pakai kamera tipe tertentu dan juga tripot karena siapa yang tahan pegang kamera 20 detik tanpa boleh bergerak, karena untuk memfoto aurora mode kamera yang harus dipakai adalah “SCN at night” yang perlu waktu lama untuk loading. Untungnya pihak tour punya stock tripot banyak jadi saya bisa pinjam. Cuaca malam yang gelap tapi cerah adalah faktor utama, jadi walau aurora lagi bagus tapi hujan, bersalju atau langit kurang gelap maka cahaya aurora tidak ada susah dilihat. Hari ini aurora termasuk yang terbaik karena cahaya hijau bisa dilihat mata hasil di kamera hijau terang.

Namun membuat foto dengan obyek orang ngak semua kamera bisa termasuk kamera saya. Beruntung pihak tour menyediakan foto gratis dengan kamera milik mereka, Canon EOS 5D yang flash-nya berwarna merah bukan putih. Karena obyek orang perlu pakai flash tapi aurora ngak boleh pakai flash, mabok kan ha…ha.. Kami ngak mau rugi, minta di foto berulang-ulang. Nah, saat di foto pakai kamera mereka aurora lagi ngak terlalu hijau loh tapi kamera bisa menangkap warnanya,sedangkan mata kita bisa melihat hijaunya saat aurora-nya kental (di kamera/foto jadi hijau pekat terang) kalau tidak kental hanya terlihat putih kehijauan.

Kami juga bolak balik keluar dan balik lagi nongkrong sambil ngobrol di rumah kayu atau api unggun dengan guide kami yang juga hobby traveling, dia pernah keliling Jawa sebulan. Antar peserta juga saling ngobrol, mereka dari berbagai negara dan kali ini banyakan dari Australia.

 

Berburu Aurora Malam Kedua

Hari ini lebih dingin dari kemarin, cuaca agak berawan dan banyak bintang sehingga cahaya hijau aurora dengan kasat mata tampak cenderung putih, beda dengan kemarin. Tapi apa seperti kata di buku, mata kita dan kamera berbeda menangkapnya. Di kamera masih tampak hijau tapi tidak terang seperti kemarin.

Beruntung saat menjelang jam 2 pagi cahaya agak tanpak warna hijaunya walau tidak sekuat yang kemarin dan ada sedikit cahaya merahnya.

Jadi beruntung kemarin sudah dapat melihat yang terbaik dimana cahaya hijau dapat dilihat mata sangat jelas. Hari ini kami juga lebih banyak bolak balik ke rumah kayu karena anginnya hari ini lumayan lebih kencang dan suhu minus 5.

 

Terima kasih Tuhan, telah memberi saya kesempatan melihat salah satu keajaiban karyamu, Aurora Borealis yang mempesona!

Oleh : Kumala Sukasari Budiyanto

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Menelusuri Jantung Kota Seoul dengan Hanbok

Pagi kedua saya di kota Seoul. Hari ini merupakan momen yang dinantikan karena salah satu wishlist saya akan terwujud, yaitu mengenakan Hanbok, pakaian tradisional masyarakat Korea Selatan. Meski sempat membayangkan betapa repotnya membawa jaket tebal dan menghadapi udara dingin, saya tidak urunkan niat. Hari ini, saya akan mengunjungi Gyeongbokgung Palace, menikmati jalanan kota Seoul sambil mengenakan Hanbok – sekaligus berfoto di Hanok Village, mencicipi Samgyetang,  dan pergi ke sungai Cheonggyecheon.

Dalam perjalanan menuju Gyeongbokgung, saya berjalan-jalan di area pedestrian, tepat di jantung kota Seoul. Saya melihat beberapa patung dari tokoh yang dihormati dan dikenal sebagai founding fathers Korea Selatan, yakni Raja Sejong, dan salah satu pasukan yang terkenal bernama Laksamana Yi Sun-Sin. Hal unik lainnya adalah saya melihat sederet huruf  Hangeul, yang menjadi asal muasal bahasa Korea (Korean alphabet). Masih ingat video demonstrasi warga Korea Selatan yang sempat menjadi perbincangan di media sosial? Ya, mereka melakukan unjuk rasa terhadap presiden Korea Selatan (yang kini sudah dimakzulkan), Park Geun-hye, karena beliau tersangkut skandal suap dan korupsi, yang juga melibatkan beberapa pengusaha. Tempat inilah yang menjadi pusat demonstrasi . Pada saat saya kesana, terdapat beberapa barang yang dibuat para demonstran sebagai bentuk unjuk rasa. Salah satunya adalah miniatur penjara, yang di dalamnya terdapat foto Park Geun-hye dan beberapa individu lain yang terlibat dalam kasus tersebut. Sebagai informasi, area pedestrian yang saya ceritakan ini tepat berhadapan dengan Gyeongbokgung Palace.

Karena waktu sudah mendekati jam 12, maka saya segera menuju sebuah restoran sup ayam ginseng yang terkenal di Korea Selatan. Meski antrian mengular hingga ke luar restoran, saya hanya menunggu sekitar 15 menit sampai akhirnya mendapatkan giliran untuk menikmati sajian utama, Samgyetang. Sup ayam ginseng ini menyajikan satu ekor ayam rebus untuk setiap porsinya. Satu mangkuk Samgyetang dihargai sekitar KRW 32,000.

Dari restoran Samgyetang, saya memulai perburuan mencari Hanbok. Saya menemukan sebuah tempat penyewaan Hanbok seharga KRW 15,000 untuk empat jam pemakaian. Motif Hanbok yang disewakan sangat cantik. Ada yang warna pastel hingga motif bunga. Pilihan saya jatuh kepada warna pink dengan aksen emas. Selain Hanbok, disewakan pula aksesoris lainnya, seperti hiasan kepala dan tas kecil. Dari tempat penyewaan Hanbok, saya berjalan kaki untuk menelusuri Gyeongbukgung Palace.

Tiket masuk Gyeongbokgung Palace adalah KRW 8,000. Namun, bagi pengunjung yang datang ke Gyeongbokgung dengan memakai Hanbok, tidak perlu membayar tiket alias gratis. Saya dihampiri oleh seorang siswi SMP Korea yang tergabung dalam komunitas sukarela. Dia memperkenalkan diri dan menjelaskan bahwa ia mendapatkan misi untuk menjadi pemandu wisata untuk grup turis yang datang ke Gyeongbokgung.

Gyeongbokgung Palace merupakan komplek istana terbesar di Korea, diantara lima istana lainnya. Dibangun pada tahun 1395, komplek istana yang digunakan selama kepemimpinan Dinasti Joseon ini memiliki pemandangan dan lansekap yang sangat indah, ditambah dengan latar belakang Gunung Bugak. Di dalam kompleks ini, terdapat banyak bangunan yang diperuntukkan bagi keluarga raja dan ratu pada jaman tersebut. Pintu gerbang istana ini disebut Gwanghamun Gate. Setiap area di dalam istana tersebut dibangun secara strategis – tempat tinggal prajurit terletak di area depan karena mereka bertugas untuk melindungi kerajaan, dan keluarga ratu dan raja tinggal di area belakang istana. Selain itu, desain dan arsitektur bangunan-bangunan di Gyeongbokgung Palace memiliki arti dan makna yang sarat adat istiadat dan kepercayaan lokal Korea Selatan.

Selesai dari Gyeongbokgung Palace – masih mengenakan Hanbok – saya bergegas menuju Hanok Village. Hanok merupakan sebutan untuk rumah tradisional Korea. Kawasan ini sebenarnya adalah kawasan perumahan warga, namun desain bangunannya masih menggunakan gaya rumah tradisional Korea. Tempat ini sangat populer di kalangan turis karena kerap dijadikan lokasi syuting dan memiliki nuansa khas ‘Korea’. Hanok Village dapat ditempuh dengan berjalan kaki dari Gyeongbokgung Palace selama 15 menit, atau menggunakan taksi yang hanya membutuhkan waktu 5 menit.

Saya masih punya waktu sekitar 1,5 jam hingga waktu pengembalian Hanbok. Akhirnya saya berjalan-jalan, menyusuri pedestrian pusat kota Seoul, sambil menikmati angin musim dingin dan matahari senja. Saya sempat membeli camilan, yaitu semacam kue bolu dan buah stroberi, yang saat itu sedang memasuki musim panen.

Perut sudah berisik minta diisi. Saya bergegas menuju ke Dongdaemun untuk makan malam. Sebelum menuju ke restoran, saya melewati Cheonggyecheon Stream, atau Sungai Cheonggyecheon. Aliran sungai ini mengalami proses restorasi pada tahun 2005. Sebelumnya, area tersebut merupakan kawasan kumuh dan tidak terurus. Ketika saya berkunjung dan menuruni anak tangga untuk melihat sungai lebih dekat, saya sangat kagum. Meski di tengah kota, air sungai sangat jernih, bersih, dan bahkan banyak seni mural di sepanjang dinding sungai. Dipayungi oleh jembatan Narae dan Gwanggyo, sungai Cheonggyecheon telah disulap menjadi atraksi wisata yang menarik.

Menu makan malam kali ini adalah Budae Jjigae. Korean hot pot ini mulai banyak diadopsi oleh restoran-restoran Korea di Jakarta. Budae Jjigae terdiri atas potongan sosis daging, sliced beef, tteok, sayuran, dan mi (ramyeon). Seluruh bahan dimasak di dalam panci berisikan kuah kaldu yang memiliki bumbu rempah berwarna merah. Sangat pas dinikmati saat cuaca dingin.

Oleh : Edwina Tjahja

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Keistimewaan Gravitasi Bumi di Selondo, Ngawi

Selo Ondo atau lebih dikenal Selondo, nama sebuah tempat wisata di Desa Ngrayudan, Jogorogo, Ngawi yang baru saya dengar beberapa tahun belakangan ini melalui dunia maya. Gravitasi bumi membuat tempat ini mulai terkenal sampai wisatawan asing pun turut berkunjung ke Selondo. Setiap tahun sejak 2016 di sana diadakan Festival Gravitasi Bumi yang merupakan rangkaian seni kejadian berdampak yang bertujuan menguatkan nilai-nilai lokal di wilayah ini. Sebuah kegiatan positif yang diprakarsai oleh warga setempat sebagai bentuk kepedulian terhadap alam dan budaya.

Hari itu saya beruntung dapat hadir dalam hari terakhir Festival Gravitasi Bumi yang dihadiri oleh ribuan orang. Sebenarnya saya sempat was-was karena akan membawa anak-anak ke tempat wisata yang terbilang baru ini. Bukannya saya bermaksud meremehkan tempat wisata lokal di negeri sendiri. Namun berdasarkan pengalaman saya pergi ke tempat-tempat wisata lokal terutama wisata alam memberikan kesan yang kurang baik. Umumnya tempat wisata yang mayoritas dikujungi oleh wisatawan lokal sangat tidak terjaga kebersihannya dan memiliki fasilitas seadanya yang jauh dari kondisi layak pakai.

Tapi ternyata hal itu tidak terjadi saat saya berkunjung ke Selondo. Fasilitas kolam renang yang bersih, warung makan yang berderet rapih, MCK sederhana pun tersedia dan cukup terawat walaupun suasana sedang ramai. Soal sampah, saya memang masih menemukan sampah tapi dengan jumlah wajar yang tidak menganggu kenyamanan selama saya dan keluarga berada di sana. Maklumlah hari itu festival membuat pengunjung yang datang jauh lebih ramai dari hari-hari biasanya. Banyak tempat sampah disediakan di sana dan berulang kali terdengar pengumuman agar para pengunjung menjaga kebersihan dan membuang sampah pada tempatnya. Para pasukan semut yang terdiri dari anak-anak usia sekolah pun siaga mengingatkan pengunjung untuk menjaga kebersihan lingkungan sekitar.

Hal ini mengingatkan saya akan pengalaman saat pergi ke tempat wisata Curug Bajing di Petungkriyono, Pekalongan. Seperti halnya Selondo, tempat itu juga dikelola dengan baik secara swadaya oleh masyarakatnya mulai dari masalah parkir sampai kebersihan. Memang kesadaran pengunjung perlu terus dibangun karena banyak dari pengunjung baik berasal dari masyarakat lokal ataupun bukan, kurang memiliki kesadaran akan pentingnya menjaga kebersihan tempat wisata. Perlu kita ingat bersama bahwa alam bukanlah sebuah tempat sampah besar, alam perlu terus dijaga agar tetap dapat dinikmati keindahannya. Semisal tidak menemukan tempat sampah yang dekat kita bisa membawa sampah tersebut sampai menemukan tempat sampah.

Saya menghabiskan waktu beberapa jam bersama keluarga untuk menikmati alam Selondo. Matahari bersinar cerah namun tak terasa panas karena bayang-bayang pohon besar meneduhkan ditambah hembusan angin sejuk yang membuat suasana semakin nyaman. Ternyata pengunjung juga bisa berkemah di tempat ini, terlihat beberapa tenda yang berdiri di area perkemahan. Anak-anak saya sempat bermain air namun tidak di sungai melainkan di semacam selokan yang tentunya dialiri air bersih. Sungai hari itu sangat ramai dipadati mereka yang menjadi peserta lomba menumpuk batu. Berulang kali terlihat banyak orang melakukan swafoto di area jembatan kuning yang ada di atas sungai dan spot foto tulisan SELOONDO di bagian depan tempat wisata.

Hari itu banyak sekali pertunjukan seni yang ditampilkan oleh seniman-seniman ternama. Semua pertunjukan itu dilakukan di panggung yang terbuka dan menyatu dengan alam. Akhirnya setelah sekian lama saya bisa menyaksikan lagi Tari Bondan secara langsung. Alunan musik dari para musisi ternama lokal sampai ibukota meneduhkan hati pendengarnya dan menyemarakkan suasana tempat ini. Hal yang seru ada arak-arakan seratus tumpeng dan dilanjutkan dengan bancakan bersama semua pengunjung. Istimewanya mereka yang hadir dalam festival ini dapat menikmati makan nasi dengan aneka lauk bersama-sama. Hari itu saya dan keluarga belajar lagi untuk menghargai alam. Ternyata tak perlu susah-susah, hanya diawali dengan menjaga kebersihan seperti yang telah dicontohkan oleh masyarakat lokal melalui budaya yang terwujud dalam Festival Gravitasi Bumi yang inspiratif.

Oleh : Ratih Janis

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting

Mencari Jejak Mata Hari, Spionase Dari Ujung Utara Belanda

Leeuwarden adalah ibukota propinsi Friesland di Belanda bagian utara yang namanya tentu terdengar asing di telinga. Namun setiap berkunjung ke Belanda, saya bersama keluarga selalu tak lupa untuk mampir ke Leeuwarden sekedar untuk napak tilas dan mengulang memori saat saya dan suami tinggal di sana. Ternyata masih saja ada saja kisah yang terlewat dan belum saya ketahui tentang kota yang berada jauh di ujung utara Belanda. Leeuwarden yang menjadi European Capital Culture tahun 2018 ini banyak menyimpan kisah dan sejarah menarik yang tak jarang juga erat kaitannya dengan Indonesia.

Salah satu kisah menarik itu adalah tentang Mata Hari, seorang spionase wanita paling terkenal di dunia lahir di Leeuwarden. Sejak lama kisah hidup Mata hari telah banyak menjadi inspirasi karya sastra dan film. Matahari memiliki kisah yang sangat menarik sehingga tahun 2016 penulis terkenal Paul Coelho pun turut membuat sebuah karya novel tentangnya berjudul, The Spy. Coelho menyebut Mata Hari sebagai salah satu feminis pertama yang memilih untuk independen dan menjalani hidup di luar kebiasaan masyarakat pada zamannya.

Kisah Mata Hari sangat kontroversial dan hingga kini masih terus ditelusuri kebenaran fakta-fakta yang mengaitkannya dengan dunia spionase. Selama 20 tahun terakhir dokumen-dokumen tentang hal ini mulai dibuka oleh MI5 di Inggris, Jerman dan Belanda. Terlahir dengan nama Margaretha Geertruida Zelle pada 7 Agustus 1876 dan disebut-sebut memiliki darah keturunan Jawa. Terlepas dari benar atau tidaknya hal tersebut, Margaretha adalah wanita yang sangat menarik dengan rambutnya yang hitam tebal, matanya yang hitam dan kulitnya yang sedikit kecoklatan; sangat berbeda dengan ciri-ciri fisik orang Friesland atau Belanda pada umumnya yang berambut pirang dan berkulit putih.

Ia pernah tinggal di Jawa dan Sumatra untuk menemani suaminya yang dua puluh tahun lebih tua; seorang tentara Belanda masa kolonial yang bertugas di Hindia Belanda (Indonesia) pada masa itu. Margaretha memiliki ketertarikan yang besar terhadap tradisi lokal dan sempat belajar menari. Mata Hari merupakan nama yang erat dengan Indonesia yang kemudian dipilih Margaretha untuk aksi panggungnya sebagai penari eksotis dan mulai terkenal di Paris tahun 1905. Kesuksesan membuatnya dekat dengan banyak orang penting dimana pada akhirnya mengaitkan Mata Hari dengan dunia spionase yang kemudian membuat hidupnya terpaksa berakhir.

Saat berkunjung ke Leeuwarden saya mencoba untuk menelusuri sepenggal kisah masa lalu Mata Hari di kota kelahirannya ini. Sebuah patung wanita berukuran kecil yang seolah sedang menari dibuat untuk mengenang kisahnya. Sekilas tidak ada yang istimewa dengan patung berukuran kecil itu, sampai saya membaca nama “Mata Hari” yang tertera di tiang yang menjadi penyangganya. Patung itu berdiri tepat bersebelahan dengan kanal di depan rumah tempat Mata Hari lahir,  beralamat di Kelders 33 di pusat kota Leeuwarden. Rumah yang pernah menjadi saksi bisu kehidupannya di masa kecil itu sekarang sudah beralih fungsi menjadi tempat usaha seperti bangunan-bangunan lain di sekitarnya.

Selain patung tersebut yang menjadi tanda bahwa ia memang merupakan salah satu orang yang sejarahnya penting untuk kota ini dapat dilihat di Fries Museum yang terletak di pusat kota. Di museum tersebut terdapat sebuah ruangan khusus yang didedikasikan untuk Mata Hari, koleksi yang dapat dilihat adalah pakaian yang pernah digunakan Mata Hari saat menari dan catatan hariannya. Saya pernah melihat catatan harian tersebut saat masih berada di Historisch Centrum Leeuwarden dan masih dalam proses konservasi. Hari itu saya beruntung karena bisa melihat lagi koleksi museum dengan lebih jelas.

Saya menyempatkan diri untuk mampir ke Fries Museum untuk melihat ruangan tersebut. Saat memasuki ruangan, saya juga dapat melihat slide foto-foto Mata Hari berukuran besar diiringi suara gending gamelan Jawa yang memecah kesunyian dan membuat saya sedikit terhanyut dalam lamunan. Semua koleksi museum yang ada membuat saya dapat membayangkan suasana pertunjukkan Mata Hari di masa lampau yang pasti sungguh menarik bagi yang menyaksikan secara langsung. Tak lama pengunjung lain bergantian memasuki ruangan, saya pun segera mengakhiri lamunan melanjutkan untuk melihat-lihat koleksi museum yang lain. Semoga lain waktu saya bersama suami dan anak-anak bisa kembali lagi melakukan napak tilas ke Leeuwarden dan menggali kisah-kisah lainnya yang terkait dengan Indonesia di kota ini.

(repost karena paragraf ada tulisan sebelumnya tidak sesuai urutan)

Oleh : Ratih Janis

Silakan login/daftar akun kompas.id untuk dapat melakukan voting